Resensi Film: Oh My God: Ketika Ateis Menggugaat Tuhan

Oleh: Yona Vin Ziolina

Sutradara: Umesh Shukla
Produser: Akshay Kumar, Paresh Rawal, Ashvini Yardi
Penulis : Bhavesh Mandalia, Umesh Shukla
Sinematografi: Sethu Sriram
Penyunting: Tushar Shivan, Rajesh Panchal
Perusahaan produksi: Grazing Goat Pictures

Tanggal rilis : 28 September 2012
Durasi : 130 menit
Negara : India
Bahasa : Hindi

Adakah manusia di dunia ini yang berani menggugat Tuhan ke pengadilan? Ini adalah hal yang sulit dan gila untuk dibayangkan, tentu saja tidak ada manusia yang meragukan daya kerja Tuhan sehingga berani melawan kekuasaan-Nya dengan tindakan yang menyamai tindakan manusia.

Namun kisah inilah yang tertuang dalam film Oh My God rilisan tahun 2012, berdasarkan permainan panggung Gujarati yang berjudul Kanji Virudh Kanji.

Berawal dari seorang lelaki bernama Kanji Lalji Mehta (Paresh Lawal) penjual patung-patung dewa Hindu di Mumbai, sayangnya meskipun ia menjual patung keagamaan tersebut, ia adalah seorang ateis yang selalu menyangkal keberadaan Tuhan atau Dewa-dewa. Dalam kesehariannya ia dicerminkan sebagai lelaki yang suka menipu para pelanggan.

Suatu hari, ketika ia selesai mengacaukan sebuah acara keagamaan, seorang ahli agama, Siddheswar Maharaj (Govind Namdev), menasihatinya bahwa Tuhan akan marah atas perbuatannya.

Benar saja, tidak lama kemudian melalui siaran TV tokonya hanyalah satu-satunya bangunan yang hancur karena gempa. Pihak asuransi menolak membayar kerusakan tersebut dengan alasan bahwa kerusakan tersebut akibat faktor alam (Act by God), pihak asuransi menambahkan bahwa Kanji seharusnya meminta ganti rugi dari Tuhan.

Karena kerugian yang didapatkannya sangat besar, Kanji menganggap serius perkataan tersebut dan segera mencari pengacara untuk menggugat Tuhan. 

Bisa dipastikan tidak ada pengacara yang bersedia membela kasus yang dianggap gila tersebut, atas saran seorang pengacara lumpuh Hanif Qureshi (Om Puri), bahwa ia bisa membela dirinya sendiri berdasarkan peraturan pengadilan di India. 

Singkat cerita, tindakan Kanji menggugat Tuhan menuai banyak reaksi di masyarakat yang kebanyakan marah dan geli, tentu saja termasuk dari kalangan pemuka-pemuka agama.

Perdebatan-perdebatan yang dihadirkan antara Kanji dan para pemuka agama di muka pengadilan lah yang menjadi jantung dari film ini, popularitas Kanji kemudian sangat meningkat karena apa yang dikatakannya dalam debatnya memang masuk akal.

Ia mempertanyakan kredibilitas keberadaan semua sistem keagamaan (hanya Buddha yang tidak disebutkan dalam film ini), termasuk dimana agama-agama tersebut seolah telah melenceng dari fungsi yang seharusnya.

Keunikan lain dari film ini ialah bumbu dari kemunculan seorang pria bernama Khrisna Vasudev Yadav (Akhsay Kumar) dari Gokul, ia digambarkan adalah jelmaan Dewa yang berusaha menghadirkan sisi-sisi kerohanian untuk Kanji, Khrisna pula yang menyarankan banyak hal kepada Kanji termasuk membaca kitab-kitab keagamaan untuk membantunya di pengadilan.

Film ini termasuk film yang dibungkus dengan dialog yang menghadirkan sisi humor, epik, dan jenius, tak ayal mampu mengasah logika terutama berkaitan dengan keimanan.

Konflik yang bermunculan pun sangat tidak terduga sehingga setiap alur berjalan semakin menarik. Film ini banyak mengajarkan tentang filosfi ketuhanan, dan makna beragama yang sesungguhnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok