
Penulis: Muhammad Rifaldi, Ikmal
Unsulbar News, Majene – Himpunan Mahasiswa Gizi (Himagi) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), menggelar dialog publik di caffe Alternatif Lipu, Selasa (14/11/2023) malam. Forum tersebut mengangkat topik tentang kekerasan seksual.
Mengusung tema “Problematika dan Reviktimisasi Korban Kekerasan Seksual”. Kegiatan ini dominan diikuti perempuan atau mahasiswi.
Himagi Unsulbar menghadirkan dua narasumber pada diskusi tersebut, yaitu Isti Nur Anggraeni (Mahasiswi Teknik Sipil Angkatan 2018) dan Hamratul Imamah (Alumni Fakultas Ekonomi Unsulbar).
Pada saat pemaparan materinya, Isti Nur Anggraeni mengungkapkan bahwa perempuan lebih dominan dalam kasus kekerasan seksual.
“Stigma masyarakat terhadap perempuan itu masih sangat kuat sekali, dimana perempuan dianggap sebagai sesuatu yang suci sehingga ketika ada kasus-kasus seperti itu dianggap aib,” tutur Isti Nur dalam materinya.
Ia juga menambahkan bahwa penyelesaian kasus kekerasan seksual sering kali tidak selesai dan hanya sampai di pertengahan jalan saja.
“Sering kali kasusnya itu tidak selesai, kadang selesai di pertengahan jalan kadang selesai di awal, karena mereka tidak mengetahui harus melapor kemana, mereka tidak tau bahwa ada payung hukum yang mengatur tentang hal tersebut,” sambung perempuan berjilbab tersebut.
Sedangkan pemateri kedua lebih membahas tentang jenis-jenis kekerasan seksual di masyarakat yang masih kurang dipahami, dan sedikit menyinggung tentang Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO).
“Kekerasan seksual itu tidak hanya bicara tentang pemerkosaan dan pencabulan, tapi juga kekerasan secara verbal melalui kata-kata dan yang paling banyak hari ini itu melalui media online,” ungkap Hamratul Imamah sebagai pemateri kedua.
Secara terpisah, Ketau Umum Himagi Unsulbar Arina menjelaskan alasan dialog dilaksankan dan topik yang diangkat terkait kekerasan seksual.
Alasannya kata Arina karena belakangan marak terjadi kekerasan seksual sehingga lewat kegiatan ini lebih menambah wawasan dan juga mensosialisasikan untuk ikut mencegah terjadinya kasus pelecahan, terutama pada perempuan.
“Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja divisi keperempuanan,” tambahnya via WhatsApp.

