[PUISI] DI KOTA YANG JAUH DARI RUMAH

Sumber Foto: Gemini AI

Karya: Putri Maurina Engka

Unsulbar News, Majene – Di kota ini, aku belajar bahwa rindu tidak selalu membutuhkan air mata.
Kadang ia hanya berupa layar ponsel yang berkali-kali kubuka, berharap ada pesan dari rumah.

“Sudah makan?”

Dua kata sederhana,
tetapi mampu membuat jarak terasa semakin panjang.

Aku datang ke kota ini membawa sebuah tas, beberapa pakaian, dan doa yang dititipkan Ibu di ambang pintu. Ayah tidak banyak berkata. Ia hanya menepuk pundakku, seolah ingin mengatakan bahwa dunia boleh keras, tetapi aku tidak boleh menyerah.

Di sini, aku bukan lagi anak yang selalu ditanya apakah sudah makan.
Aku menjadi mahasiswa yang harus belajar menghitung uang sebelum membeli makanan.

Aku mulai mengenal harga sebuah fotocopy,
harga satu porsi nasi,
harga perjalanan pulang,
dan ternyata, semuanya mengajarkan arti pengorbanan.

Di balik angka-angka IPK, ada mata yang terjaga hingga dini hari.
Di balik tugas yang dikumpulkan tepat waktu, ada rasa takut mengecewakan mereka yang menunggu dari kejauhan.

Aku mengejar nilai,
bukan karena ingin menjadi yang paling hebat,
tetapi karena ingin suatu hari berkata kepada Ayah dan Ibu:

“Perjuangan kalian tidak sia-sia.”

Namun kampus mengajarkanku bahwa hidup tidak hanya tentang nilai.

Ada tangan teman yang menarikku ketika hampir menyerah.
Ada tawa di sela rapat organisasi.
Ada perdebatan yang membuatku belajar memahami.
Ada kegagalan yang diam-diam mendewasakan.

Kami datang dengan mimpi masing-masing,
lalu tumbuh di antara tugas, rapat, tawa, dan air mata.

Barangkali begitulah masa muda bekerja.

Ia membuat kita lelah,
tetapi diam-diam sedang membentuk kita.

Suatu hari nanti, mungkin aku akan meninggalkan kampus ini.

Gedung-gedungnya akan menjadi kenangan.
Bangku-bangku kelas akan ditempati wajah-wajah baru.
Nama-nama teman mungkin perlahan menjadi bagian dari masa lalu.

Tetapi aku tahu satu hal:

Aku tidak akan pernah melupakan kota ini.

Sebab di sinilah aku belajar menjadi dewasa.

Di sinilah aku belajar bahwa jauh dari rumah bukan berarti sendirian.

Dan di sinilah aku memahami bahwa terkadang,
perjuangan terbesar seorang mahasiswa
bukan tentang mendapatkan nilai tertinggi,
melainkan tentang tetap berdiri
ketika tidak seorang pun tahu
betapa beratnya perjalanan untuk sampai ke sana.

Editor: Siti Nanda Cahya Al Qadri

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok