
Jurnalis: Kamariah
Editor: Masdin
Unsulbar News, Majene. Sebelum memasuki bangku perkuliahan, Mahasiswa Baru (Maba) akan melewati masa Ospek atau yang kita sekarang sebut Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), dimana mahasiswa (laki-laki) diwajibkan menggunduli kepalanya. Hal ini sudah menjadi tradisi dan ciri khas dalam penerimaan Maba di setiap perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Tak terkecuali di Universitas Sulawesi barat (Unsulbar).
Saat berkunjung ke Masjid Agung Ilaikal Mashiir sekitar pukul 6:00 Wita pada hari Senin (13/08), terlihat ratusan kaum adam berkepala plontos mengerumuni bangunan Masjid. Mereka mengenakan baju putih yang dipasangkan dengan celana hitam, sesekali rombongan tersebut menyanyikan sebuah lagu untuk membakar semangat di pagi buta. Yah, mereka adalah Maba Unsulbar tahun akademik 2018/2019.
Sebelum memasuki aula masjid untuk mengikuti rapat senat terbuka luar biasa dan PKKMB, terlebih dahulu mereka dikumpulkan oleh senior-senior mereka untuk memberikan arahan dan memastikan Maba telah menaati aturan yang telah ditetapkan seperti menggunduli kepalanya.
“Sebenarnya sih ngak ikhlas, tapi diikhlasin aja” ungkap Alfiansyah R Maba jurusan peternakan. Dia (Maba) merasa saat kepala botak seperti ini terlihat lebih bersih dan malahan mirip calon Akpol (Anggota polisi), candanya mengingat sebelumnya dia berambut panjang, (13/8).
Menurut Nasir Badu P hD, Maba botak sudah ada sejak dahulu, filosofi yang pertama itu untuk menyeragamkan dan mendisiplinkan karena pengenalan kehidupan kampus itu poinnya adalah kedisiplinan. “Kita menciptakan suatu kedisiplinan melalui mencukur rambut,” ungkap ketua panitia PKKMB. Sedangkan menurut Rian, hal seperti itu (Plontos) merupakan salah satu pembeda antara senior dan junior, selain faktor keseragaman dan kerapian, (13/8).
“Saya juga menganalogikan bahwa mereka adalah bayi yang baru terlahir di Unsulbar dimana mereka telah masuk dalam tahap pendewasaan diri sehingga langkah awal yang dilakukan adalah pembinaan mental dan sikap dewasa,” ujar salah satu panitia Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) itu, (14/8).

