
Jurnalis : Ade Arsi
Editor : Masdin
UnsulbarNews, Majene. Dalam rangka kegiatan pertukaran budaya, mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal) Provinsi Aceh mengikuti rangkaian kegiatan outbound di Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), dua diantaranya mengikuti tradisi Mandar Sayyang Pattu’duq. Kedua mahasiswi Unimal itu menunggangi kuda khusus yang telah dihias dan berkeliling kampung, Selasa sore (24/08/2021)di Desa Karama kabupaten Polewali Mandar.
Sayyang Pattu’duq atau kuda menari merupakan sebuah tradisi bagi masyarakat suku Mandar di Sulawesi Barat, yang menandakan keberhasilan anak-anaknya khatam (tamat) Al-Quran sebagai sesuatu hal sangat istimewa. Sayyang pattu’duq diadakan sekali dalam setahun. Biasanya bertepatan dengan bulan Maulid/Rabiul Awal (kalender hijriyah). Kali ini, Sayyang Pattu’duq diadakan sebagai bentuk pengenalan budaya mandar kepada mahasiswa Unimal dari tanah rencong Nanggroe Aceh Darussalam.
Dalam acara tersebut, terlihat kuda ditunggangi mahasiswi Unimal terlatih menari sembari mengikuti iringan musik tabuhan rebana yang dimainkan dan untaian kalinda’daq(Pantun) khas Mandar turut mengiringi arak-arakan tersebut.
Ditemui jurnalis Unsulbar News, Koordinator MBKM Unsulbar Muhammad Nasir Badu P hd menjelaskan kegiatan Sayyang Pattu’duq ini merupakan bagian dari program pertukaran budaya oleh Mahasiswa Unsulbar dan Unimal Aceh.
“Program hari ini Sayyang Pattu’duq merupakan bagian dari program MBKM, kebetulan kita ada mahasiswa Aceh yang mengikuti Merdeka Belajar Kampus Merdeka jadi kita memperkenalkan budaya kita ke mereka sebagai bagian program belajar di Sulawesi Barat”, tutur Nasir Badu juga saat ini menjabat sebagai Sekertaris LPPM PM Unsulbar.
Ditempat sama, pembina sanggar seni Pandaraq Unsulbar Dalif Palipoi mengungkapkan perasaan bangga dan terima kasihnya kepada mahasiswa Aceh yang mempelajari budaya di Sulawesi Barat dan berharap agar budaya Mandar tetap dilestarikan serta diperkenalkan kepada orang luar.
“Untuk kesan pesan, tentunya berbangga ya menjadi masyarakat Mandar karena tidak semua pendatang mau bersentuhan langsung dengan kebudayaan yang ada di Sulawesi Barat, ungkapnya.
Lebih lanjut Dalip mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa Unimal Aceh begitu antusias mengenal dan mempelajari budaya Mandar sebagai bagian dari upaya mendukung pelestarian budaya di Sulawesi Barat..
“ Secara pribadi saya berterima kasih kepada mahasiswa Aceh karena tidak hanya mau mendengar saja tetapi mereka mau beradaptasi langsung dengan kebudayaan yang ada dan harapannya terkhusus untuk Unsulbar kedepannya saya harap ketika ada tamu dari luar ada baiknya kita memperkenalkan kebudayaan ini sebagai bentuk melestarikan budaya kita” tutup dosen Unsulbar itu.

