Kenapa BKKBN Libatkan Mahasiswa Unsulbar Berantas Stunting di Sulbar?

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Perwakilan BKKBN Sulbar, Rezky Murwanto (kanan) saat meyerahkan atribut ke mahasiswa KKN Tematik Stunting/Foto: Unsulbarnews/Masdin.

Laporan Khusus Redaksi

Unsulbar News, Majene – Sebanyak 60 mahasiswa Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Stunting. KKN Tematik ini kolaborasi bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulawesi Barat (Sulbar).

Dijadwalkan KKN Tematik Stunting ini berlangsung selama 40 hari, terhitung mulai Sabtu, 22 Juli hingga Rabu, 30 Agustus. Lokasi pelaksanaanya di Kabupaten Majene dan Polewali Mandar, Sulbar.

Mahasiswa telah mendapatkan pembekalan sekaligus pelepasan secara resmi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulbar, Rezky Murwanto SKom MPH, Kamis (20/7/2023) siang.

Dalam pembekalan, Plt Kepala Perwakilan BKKBN Sulbar tersebut berkesempatan  memaparkan banyak hal terkait stunting. Mulai dari data terbaru, permasalahan masyarakat, serta program yang gencar digaungkan BKKBN sebagai upaya melawan stunting.

Ada Apa dengan Sulbar?

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Perwakilan BKKBN Sulbar, Rezky Murwanto, bawakan sambutan dan materi dalam pembekalan mahasiswa KKN Tematik Stunting tahun 2023 tersebut.

Murwanto dalam kesempatannya memaparkan data hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan pada tahun 2022. Dikatakan prevalensi balita stunting di provinsi Sulbar sebesar 35%. Hal  ini membuat Sulbar jadi provinsi dengan prevalensi balita stunting tertinggi kedua di Indonesia.

“Selain tertinggi kedua secara nasional, angka stunting di Sulbar berada di bawah ambang batas yang ditetapkan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) sebesar 20%,” tambahnya.

Melihat hal tersebut, menjadi indikasi penanganan stunting di Sulbar masih perlu ditingkatkan. Sehingga BKKBN kemudian melakukan beragam cara, termasuk dengan melibatkan perguruan tinggi melalui mahasiswa lewat KKN Tematik, untuk berperan secara langsung menurunkan angka stunting.

“Ini (KKN Tematik Stunting) salah satu program percepatan penurunan stunting, dimana salah satu program kami BKKBN selaku koordinator pelaksana percepatan penurunan stunting,” ujarnya saat diwawancara Unsulbar News (20/7).

Mengingat perlu melibatkan banyak pihak tidak hanya pemerintah, melainkan keterlibatan unsur lain termasuk perguruan tinggi. Adapun harapan besar Plt Kepala Perwakilan BKKBN Sulbar, lewat program KKN ini mampu menangani permasalahan stunting.

“KKN ini adalah salah satu bentuk bakti kita ke masyarakat dan negara, sehingga harapan terbesar kami adalah program KKN bukan hanya seremonial biasa atau syarat kelulusan, tapi menghasilkan suatu produk. Misalnya suatu desa yang kita datangi dengan data stuntingnya tinggi, bagaimana di tahun 2024 kita diukur lagi, data stuntingnya bisa turun,” imbuhnya.

Selain itu, ia meminta mahasiswa nantinya ketika turun ke lapangan mampu melakukan verifikasi faktual (verfak) data stunting. Juga melakukan evaluasi dan pengawasan terkait program pemerintah yang sudah, atau sementara berjalan.

Kabupaten Tinggi Stunting Jadi Lokasi KKN Tematik

Ketua P2KKN Unsulbar, Dedy Putra Wahyudi mengataka, 60 mahasiswa dalam KKN Tematik Stunting tahun 2023 ditempatkan di dua dari enam kabupaten yang ada di Sulbar. Kabupaten tersebut adalah Majene dan Polewali Mandar (Polman).

“Jumlah angka penderita stunting di Kabupaten Majene dan Polman lebih tinggi dibanding kabupaten lain yang ada di Sulbar, penentuan lokasi ini juga berdasarakn hasil penelitian dosen, itulah yang menjadi dasar penempatan lokasi,” ungkap Dedy.

Merujuk ke petimbangan itulah, P2KKN Unsulbar telah menentukan masing-masing tiga desa/kelurahan sebagai lokus KKN Tematik Stunting, dimana Polman adalah Alu, Samasundu dan Tapango. Sedangkan Majene yaitu Buttu Baruga, Mosso, dan Tande. Lokasi ini dimana jumlah keluarga berisiko stunting yang lebih tinggi.

Nantinya 60 mahasiswa ini akan dibagi menjadi enam posko, dengan anggota berjumlah 10 orang. Mereka akan melaksanakan kegiatan selama 40 hari, terhitung mulai Sabtu, 22 Juli hingga Rabu, 30 Agustus nanti.

“Kami harapa mahasiswa memaksimalakan program ini sehingga berdampak bagi masyarakat. Serta masyarakat nantinya itu bisa melanjutkan kegiatan secara mandiri atau secara berkelanjutan,” ungkapnya saat menyampaikan laporan.

Diperlukan Kolaborasi Pentahelix Berantas Stunting

Ketua LPPM Unsulbar Nasir Badu dalam pembekalan mahasiswa KKN Tematik Stunting, secara khusus menyorot perihal perlunya koordinasi pentahelix atau multipihak. Dimana pemerintah, akademisi, pelaku usaha/industri, masyarakat, dan media bersatu padu berkoordinasi serta berkomitmen untuk menyelesaikan masalah ini.

Ia menggambarkan keterlibatan masing-masing pihak, seperti akademisi melakukan riset bersama pihak terkait, kemudian pemerintah selaku pemangku kebijakan memfasilitasi, para pelaku usaha dan industri dengan terlibat lewat dana corporate social responsibility (CSR).

Pihak lain yaitu media massa menyebarkan informasi edukatif dan bermanfaat bagi masyarakat, terakhir masyarakat bersedia terlibat dan menerapkan langkah yang perlu diberlakukan.

Dengan sadarnya semua pihak atau aktor akan tanggung jawab, serta perannya masing-masing, permasalahan stunting akan lebih cepat teratasi.

Senada dengan hal tersebut, Plt Kepala Perwakilan BKKBN Sulbar Rezky Murwanto setuju dengan apa yang diutarakan ketua LPPM Unsulbar tersebut. Sebagai pihak pemerintah, ia mengaku tidak bisa menuntaskan masalah stunting ini sendirian.

“Masalah stunting solusinya bukan hanya milik kami pemerintah, tapi seluruh elemen yang ada di masyarakat, baik itu media, akademisi, tokoh agama, hingga pihak swasta,” tekannya.

Besar harapannya dengan dilaksanakannya KKN Tematik yang melibatkan unsur akademisi dalam hal ini mahasiswa Unsulbar, mampu menekan angka stunting di Sulbar. Tidak hanya itu, pihaknya akan terus menjalin komunikasi dan kolaborasi dengan pihak lainnya, demi terwujudnya Sulbar bebas dari stunting 2024.

Penulis: Masdin

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok