
Laporan Khusus Redaksi
Unsulbar News, Majene – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Unsulbar News Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) melalui Divisi Penelitian dan Pengembangan, gelar program Ngobrol Interaktif dan Asyik atau “NGETIK”, Sabtu (18/11/2023) malam.
Berlangsung secara virtual lewat Google Meeting dimana program tersebut mengusung topik “Berkarir di Bidang Jurnalistik dan Media Masa Kini”. Turut hadir sebegai teman NGETIK (sebutan untuk narasumber), yaitu Reporter Radio Elshinta Rahma Yani SSos Msos.
Dipandu oleh Staf Litbang Unsulbar News Pindiawan Hulu, kegiatan dimulai pukul 19.45 Wita. Tercatat kurang lebih 24 peserta hadir dalam kegiatan ini dimana mereka merupakan kru magang dan anggota tetap Unsulbar News.
Berkarir di Bidang Jurnalistik
Mengawali perbincangan dalam program “NGETIK”, Rahma Yani menggambarkan terkait aktivitasnya dalan bidang jurnalistik yaitu sebagai reporter kontributor Radio Elshinta wilayah Sulawesi Barat.
“Sebelum saya lulus, selain menjadi kontributor di Radio Elshinta wilayah Sulawesi Barat saya juga fokus studi S2,” ujar lulusan Magister IAIN Parepare Prodi Komunikasi Penyiaran Islam tersebut.
Perihal terjun di dunia jurnalistik, perempuan disapa Kak Rahma tersebut mengaku termotivasi dari beberapa orang yang ia kenal sebelumnya yang juga berprofesi sebagai jurnalis atau wartawan.
“Banyak orang-orang hebat yang terlahir dari profesi ini,” ujarnya kepada peserta.
Hingga saat ini setelah menyelesaikan studinya, Rahma mengaku masih aktif melakukan liputan lapangan. Dan berencana akan tetap melangkahkan kakinya di dunia jurnalistik.
Tampil Beda Itu Keren
Kepada kru Unsulbar News, perempuan asal Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan itu mengatakan tampil beda dari orang kebanyakan adalah suatu hal yang keren.
“Tampil beda itu keren,” ungkap Rahma sambil tersenyum bangga.
Hal tersebut dikatakan Rahma setelah Host NGETIK Pindiawan Hulu bertanya terkait masih sedikitnya perempuan yang bekerja atau bergelut di dunia jurnalistik.
Rahma mengatakan hal tersebut memang benar, kata dia untuk wilayah Sulawesi Barat saja jurnalis perempuan bisa dihitung jari. Penyebabnya bisa jadi karena atmosfir dunia kerja yang kurang cocok serta faktor keluarga dan lingkungan.
Bahkan secara gamblang Rahma mengatakan beberapa kali keluarga meminta dirinya untuk mengubah profesi saat ini. Apalagi ia merupakan anak perempuan satu-satunya.
“Lagi-lagi sebenarnya adalah sebuah pilihan,” tegasnya.
Dirinya mengatakan untuk berkarir di dunia jurnalistik baik itu laki-laki dan perempuan mempunya kesetaraan yang sama. Hanya saja memang beberapa perusahaan media memiliki kriteria masing-masing.
Selain itu, hal yang memang perlu dimiliki oleh orang yang ingin menjadi jurnalis atau wartawan lapangan adalah kemampuan fisik yang prima.
“Selain itu mungkin karena perempuan sangat rentan menjadi korban ketika menjalankan tugas,” ungkapnya sebagai salah satu alasan lain.
Meski demikian ia menghimbau sebagai jurnais perempuan memang perlu melindungi diri dari segala potensi acamaman yang ada.
Perlindungan Organisasi Profesi
Menyinggung soal kriminalisasi jurnalis, Rahma mengaku sangat prihatin akan kondisi tersebut. Dimana jurnalis sebagai kontrol sosial berusaha dihentikan pergerakannya oleh oknum atau pihak tertentu.
Akan kondisi tersebut, termasuk juga perihal pelecehan kepada jurnalis khususnya perempuan bisa meminta perlindungan ke organisasi profesi yang ada. Mereka akan memberikan bantuan serta mengawal masalah yang dialami rekan se-profesi.
“Ada AJI (Aliansi Jurnalis Independen), ada PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) dan beberapa organisasi profesi lainnya,” ucapnya menyebut beberapa organisasi profesi jurnalis.
Meski ada perlindungan yang diberikan oleh organiasi profesi, dirinya menegaskan agar sedini mungkin seoran pewartawan atau jurnalis harus mengacu kepada kode etik jurnslistik agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan.
“Dituntut hati-hati dan berpedoman pada kode etik, sehingga posisi kita akan relatif lebih kuat ketika diperhadapkan situasi hukum,” tegasnya.
Peluang dan Tantangan
Berbicara peluang berkarir di dunia jurnalistik kata Rahma sangat terbuka lebar, apalagi terjun ke bidang tersebut tidak mesti harus berlatar pendidikan komunikasi atau jurnalistik.
Selain itu di wilayah Sulawesi Barat sendiri saat ini ada banyak media lokal yang masih berkembang sehingga membutuhkan SDM yang potensial.
Hanya saja kelemahannya kata dia adalah beberapa media lokal pemasukannya masih sangat bergantung pada iklan dan kerja sama. Sehingga untuk pendapatan masih terbilang kurang.
Adapun kondisi saat ini dengan hadirnya jurnalisme warga atau netizen lewat media online yang turut melakukan kerja-kerja jurnalistik.
Menurutnya kondisi tersebut punya pengaruh terhadap kerja jurnalis profesional. Namun kata Rahma bahwa kerja jurnalis profesional tidak akan bisa digantikan seutuhnya oleh netizen.
“Kita (Jurnalis) punya akses ke polres, damkar dan pemerintah, sedangkan mereka (netizen) tidak bisa,” tambahnya.
Atas terbatasnya akses bagi netizen tidak sedikit informasi yang disajikan juga tidak utuh. Sehingga disinilah jurnalis dituntut profesional bekerja.
“Kita dituntut mengemas berita lebih menarik dan tingkat akurasinya lebih tinggi,” pungkasnya.

