
Jurnalis: Marselino Geradus
Unsulbar News, Majene – Mahasiswa Informatika Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) sukses laksanakan Gebyar Layang-layang dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Republik Indonesia (RI), Sabtu (17/8/2024).
Kegiatan yang berlangsung siang hari di bukit Padang-padang Kampus Unsulbar, ini diikuti sekirar 20 partisipan, termasuk juga beberapa dosen Informatika yang secara langsung turut menerbangkan layangan di bukit samping Perpustakaan Unsulbar itu.
Dari 17 layang-layang yang berhasil dibuat, hampir semuanya bisa diterbangkan meski agak sulit dan tidak stabil pada awalnya akibat kurangnya dorongan angin.
Salah satu panitia dalam kegiatan tersebut, Nur Halisah memberikan keterangan mengapa tidak semua layangan tersebut bisa terbang tinggi ke udara.
“Kalau layang-layang utama kenapa tidak bisa terbang itu karena rangkanya atau bambunya kurang kuat sehingga mudah patah ketika terkena angin kencang,” tutur mahasiswi angkatan 2021 tersebut.
Ada hal yang menarik dari acara ini, yaitu bentuk layangan yang didesain seperti balok dengan kedua sisi terbuka. Ketika diwawancara via whatsApp, Ahmad Khanif Izzah Arifin selaku ketua panitia menjelaskan filosofi dari bentuk tersebut.
“Bentuknya terinspirasi dari struktur data array dalam bahasa pemrograman, yang merupakan kumpulan data yang tersusun rapi secara berurutan dan dapat diakses dengan mudah,” jelas mahasiswa sapaan Khanif tersebut.
Ia menambahkan, bentuk balok tersebut merupakan gagasan dari Wakil Dekan 1 Fakultas Teknik, Ir Sugiarto Cokrowibowo, S Si, MT yang menjadi salah satu inisiator kegiatan.
Pantauan Unsulbar News, mahasiswa yang hadir sangat antusias mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir meski matahari membakar kulit dengan rasa tak bersalah sedikit pun. Semuanya terlihat sangat menikmati proses menerbangkan layang-layang walau terkadang tidak bisa terbang tinggi.
Dilaksanakan Setelah Upacara
Seperti yang disampaikan panitia kegiatan beberapa hari sebelumnya, acara Gebyar Layang-layang tersebut dilaksanakan setelah upacara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia di Pelataran Gedung Kembar pada pagi harinya.
Dalam upacara bendera, terlihat berbagai macam pakaian adat Nusantara yang menjadi dresscode para dosen dan staf Unsulbar sesuai arahan kementerian.
Adapun Rektor Unsulbar, Prof Muhammad Abdy, M Si, Ph D kali ini secara khusus memakai pakaian adat dari Padang, Sumatra Barat, dengan warna merah maroon khas Unsulbar ditemani oleh topi khas Minangkabau serta sarung yang bergantung di leher.
Dalam sesi wawancara bersama jurnalis Unsulbar News, Prof Abdy kembali mengingatkan bahwa sebagai masyarakat heterogen kita harus tetap saling menghargai walau berbeda suku.
“Meskipun kita berbeda suku tapi kita masih satu dalam bingkai NKRI,” tuturnya singkat.
Terakhir, Prof Abdy memberi pesan kepada anak muda khususnya mahasiswa Unsulbar agar terus giat belajar demi tercapainya cita-cita bangsa.
“Dalam rangka mengisi kemerdekaan kita, sebagai mahasiswa itu harus belajar dengan sungguh-sungguh sehingga bisa menciptakan inovasi demi terwujudnya cita-cita bangsa,” pungkasnya.

