451 Mahasiswa FKIP Unsulbar Turun ke 34 Sekolah, Asistensi Mengajar 2026 Resmi Dimulai

Sesi Pembukaan Program Asitensi Mengajar 20206, Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Jurnalis: Nur Arifah

Unsulbar News, Majene 18 Agustus 2026 — Sebanyak 451 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) akan terjun langsung ke 34 sekolah mitra di Kabupaten Majene dan Kabupaten Polewali Mandar dalam Program Asistensi Mengajar Tahun 2026.

Program tersebut resmi dimulai melalui kegiatan Serah Terima Mahasiswa dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Sekolah Mitra yang berlangsung di Ruang Theater Gedung A Universitas Sulawesi Barat, Selasa (18/8/2026).

Bukan sekadar penempatan mahasiswa di sekolah, Program Asistensi Mengajar FKIP Unsulbar dirancang sebagai ruang bagi mahasiswa untuk belajar dari realitas pendidikan sekaligus menghadirkan kontribusi berdasarkan kebutuhan sekolah dan masyarakat.

Kegiatan yang diselenggarakan Unit Asistensi Mengajar FKIP Unsulbar tersebut dibuka oleh Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sulawesi Barat, Dr. Muhammad Aswad, S.Pd.I., M.Pd., yang hadir mewakili Rektor Universitas Sulawesi Barat.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Muhammad Aswad turut mendampingi penandatanganan PKS antara FKIP Unsulbar dengan sekolah mitra sebagai bentuk komitmen bersama dalam pelaksanaan Program Asistensi Mengajar Tahun 2026.

451 mahasiswa, 34 sekolah, dan 81 dosen pendamping

Ketua Unit Asistensi Mengajar FKIP Unsulbar, Asmirinda Resa, S.Pd., M.Pd., dalam laporan pelaksanaan program mengungkapkan bahwa peserta tahun ini berasal dari enam program studi.

Rinciannya, Pendidikan Bahasa Inggris sebanyak 100 mahasiswa, Pendidikan Biologi 52 mahasiswa, Pendidikan Fisika 15 mahasiswa, Pendidikan Matematika 70 mahasiswa, Pendidikan IPA 31 mahasiswa, dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) menjadi penyumbang peserta terbanyak dengan 183 mahasiswa.

Ratusan mahasiswa tersebut akan didampingi oleh 81 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan ditempatkan di 34 sekolah mitra. Sekolah tersebut terdiri atas 17 SD, 10 SMP/MTs, serta 7 SMA/SMK/MA yang tersebar di Kabupaten Majene dan Kabupaten Polewali Mandar.

Program akan berlangsung selama kurang lebih empat bulan, mulai 21 Agustus hingga 16 Desember 2026.

Tidak datang membawa program jadi

Salah satu hal yang menjadi ciri penting Program Asistensi Mengajar FKIP Unsulbar 2026 adalah pendekatan berbasis kebutuhan.

Mahasiswa tidak diarahkan untuk datang ke sekolah dengan membawa program yang sudah jadi. Sebaliknya, mereka akan memulai proses dengan observasi, identifikasi masalah, dan analisis kebutuhan, kemudian menyusun program kerja yang relevan bersama kepala sekolah, guru pamong, DPL, dan masyarakat setempat.

Dalam pelaksanaannya, terdapat tiga bentuk kegiatan yang saling terintegrasi, yakni Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP), Program Berdampak di Sekolah, dan Program Berdampak di Masyarakat.

Program Berdampak di Sekolah disusun berdasarkan hasil observasi untuk menjawab kebutuhan nyata sekolah. Sementara Program Berdampak di Masyarakat diarahkan pada kegiatan pemberdayaan pendidikan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar.

Pendekatan tersebut membuat pengalaman mahasiswa tidak berhenti pada praktik mengajar di ruang kelas. Mereka juga dituntut memahami persoalan yang dihadapi sekolah dan lingkungan sekitar, lalu merancang kontribusi yang relevan.

Sekolah menjadi ruang bertumbuh calon pendidik

Kegiatan pembukaan turut dihadiri Kepala Sekolah, Guru Pamong, perwakilan mahasiswa, dosen pendamping, serta jajaran pimpinan FKIP Unsulbar.

Sambutan Dekan FKIP Unsulbar diwakili oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Nur Aisyah Humairah, M.Pd. Hadir pula Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Amrang, S.Pd., M.Pd.

Kehadiran sekolah mitra dan pimpinan fakultas menjadi bagian dari penguatan kolaborasi dalam mendukung proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi mahasiswa.

Ketua Unit Asistensi Mengajar FKIP Unsulbar juga menekankan kepada mahasiswa agar menjaga nama baik Universitas Sulawesi Barat dengan menunjukkan disiplin, etika, kemampuan berkolaborasi, serta kemauan untuk terus belajar dari guru dan kepala sekolah.

“Jadikan sekolah sebagai ruang bertumbuh, dan jadikan masyarakat sebagai mitra dalam menghadirkan manfaat melalui pendidikan.” ujarnya Asmiranda.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa sekolah bukan hanya lokasi pelaksanaan program, tetapi menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk memahami profesi pendidik secara lebih utuh.

PKS menjadi pijakan kolaborasi

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara FKIP Unsulbar dan sekolah mitra menjadi salah satu agenda penting dalam pembukaan program.

Kerja sama tersebut menjadi pijakan bagi pelaksanaan Asistensi Mengajar sekaligus memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan. FKIP Unsulbar juga meminta kepala sekolah dan guru pamong memberikan bimbingan serta arahan selama mahasiswa menjalankan program.

Dengan dukungan sekolah mitra, dosen pendamping, dan masyarakat, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman mengajar, tetapi juga mampu membaca kebutuhan pendidikan dan menghasilkan kontribusi yang relevan.

Selama empat bulan ke depan, 451 mahasiswa FKIP Unsulbar akan membawa satu misi yang sama: belajar dari sekolah, berkontribusi melalui pendidikan, dan tumbuh sebagai calon pendidik yang siap menghadapi kebutuhan nyata di lapangan.

Program Asistensi Mengajar FKIP Unsulbar Tahun 2026 pun diarahkan untuk hadir bukan sekadar sebagai program pembelajaran mahasiswa, tetapi sebagai ruang yang “Hadir, Berdampak, dan Menginspirasi.”

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok