
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi
Jurnalis: Suci Anugrah S.
Unsulbar News, Majene – Tim Program Kreativitas Mahasiswa–Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) menghadirkan Mandar Edumotion sebagai inovasi pembelajaran pendidikan antikorupsi berbasis kearifan lokal di SDN 2 Kampung Baru, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
Kegiatan yang berlangsung pada (03–08 /08 2026 tersebut melibatkan sekitar 85 siswa kelas V dengan memadukan permainan edukatif, cerita, diskusi, dan nilai-nilai Pappasang Mandar.
Program ini menjadi upaya Tim PKM-RSH Unsulbar dalam memperkenalkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas kepada peserta didik melalui pendekatan pembelajaran yang lebih dekat dengan dunia anak. Pendidikan antikorupsi dikemas tidak hanya melalui penyampaian materi, tetapi juga melalui aktivitas yang memungkinkan siswa terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran.
Padukan Kearifan Lokal dan Pendidikan Antikorupsi
Mandar Edumotion merupakan inovasi pembelajaran berbasis permainan yang mengintegrasikan nilai-nilai Pappasang Mandar ke dalam pendidikan antikorupsi. Melalui pendekatan tersebut, pesan moral yang terkandung dalam kearifan lokal Mandar tidak hanya diperkenalkan sebagai pengetahuan budaya, tetapi juga dikaitkan dengan perilaku sehari-hari yang dapat diterapkan siswa di lingkungan sekolah maupun kehidupan sosial.
Penerapan Mandar Edumotion dilakukan melalui beberapa tahapan. Kegiatan diawali dengan pengenalan Mandar Edumotion dan materi pendidikan antikorupsi kepada siswa. Materi kemudian disampaikan melalui cerita agar nilai-nilai yang diperkenalkan lebih mudah dipahami dan dikaitkan dengan situasi yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Pembelajaran dilanjutkan dengan permainan edukatif. Pada tahap ini, siswa tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi terlibat langsung dalam aktivitas permainan yang dirancang untuk memperkuat pemahaman mengenai nilai-nilai antikorupsi.
Setelah permainan, siswa diajak mengikuti diskusi untuk membahas pengalaman selama kegiatan, jawaban yang diperoleh, serta nilai-nilai yang dapat dipetik dari permainan dan cerita. Kegiatan kemudian ditutup dengan refleksi yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan kembali hal-hal yang telah dipelajari dan bagaimana nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Respons Positif dari Sekolah
Pendekatan pembelajaran tersebut mendapat respons positif dari pihak sekolah. Asmuni menilai pembelajaran yang memadukan materi dengan permainan dapat membuat siswa lebih aktif sekaligus membantu mereka memahami materi dengan lebih mudah.
“Menurut saya, pembelajaran seperti ini menarik bagi anak-anak karena mereka tidak hanya mendengarkan materi, tetapi ikut bermain dan terlibat langsung. Dengan cara seperti ini, materi menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa karena disampaikan melalui kegiatan yang menyenangkan. Selain memahami nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab, siswa juga diajak mengenal sekaligus melestarikan budaya lokal melalui Pappasang Mandar,” jelas Asmuni.
Selain pembelajaran di kelas, Tim PKM-RSH Unsulbar juga memberikan Buku Saku Mandar Edumotion dan poster pendidikan antikorupsi sebagai media pendukung. Buku saku tersebut dikemas dengan materi sederhana yang dilengkapi unsur visual dan permainan sehingga dapat digunakan siswa sebagai media belajar yang lebih menarik. Sementara itu, poster menjadi media pengingat visual mengenai pesan-pesan antikorupsi yang telah diperkenalkan selama kegiatan.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa Tim PKM-RSH Unsulbar dengan pendampingan Dosen Pembimbing, Eli Meivawati, S.Pd., M.Pd. Kehadiran tim di SDN 2 Kampung Baru tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa berinteraksi, bermain, berdiskusi, dan merefleksikan nilai-nilai yang diperoleh.
Antusiasme Siswa
Antusiasme siswa juga terlihat dari respons mereka terhadap media pembelajaran yang digunakan. Salah seorang siswa, Rifki, mengungkapkan bahwa Buku Saku Mandar Edumotion membuat pembelajaran antikorupsi lebih mudah dipahami dan menyenangkan.
“Buku Saku Mandar Edumotion sangat menarik karena materinya mudah dipahami. Ada gambar dan games di dalamnya, jadi belajar tentang antikorupsi terasa lebih menyenangkan dan tidak membosankan,” ungkap Rifki.
Respons guru dan siswa tersebut menunjukkan bahwa perpaduan materi, cerita, permainan, diskusi, dan refleksi dapat menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan menyenangkan. Pendidikan antikorupsi pun tidak hanya disampaikan sebagai materi yang perlu dipahami, tetapi juga sebagai nilai yang dapat dikenalkan melalui pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Melalui Mandar Edumotion, Tim PKM-RSH Unsulbar berupaya menghadirkan pendidikan antikorupsi yang berakar pada budaya lokal. Pappasang Mandar menjadi jembatan untuk mengenalkan nilai-nilai moral kepada generasi muda dengan cara yang lebih dekat dengan identitas dan kehidupan mereka.
Kegiatan di SDN 2 Kampung Baru diharapkan menjadi salah satu langkah dalam menumbuhkan kesadaran antikorupsi sejak usia dini. Dengan menggabungkan kearifan lokal, permainan edukatif, cerita, dan refleksi, Mandar Edumotion berupaya membangun pembelajaran yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendorong tumbuhnya karakter jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas pada generasi muda.
