[Cerpen]: SUARA DI UJUNG KUAS

Sumber Foto: ChatGPT

Karya: Abd Wahid

Unsulbar News, Majene –Di kaki pegunungan Mamasa Sulawesi Barat (Sulbar) terdapat Desa Tondok Bakaru dikelilingi perbukitan, persawahan, dan kabut.

Dipagi hari sisa hujan semalam masih membasahi tanah. Di belakang rumah, seorang anak laki-laki berusia enam belas tahun duduk sambil memegang kuas.

Rasya, Sejak lahir ia tidak dapat berbicara, hanya bisa berkomunikasi melalui bahasa isyarat dan gambar. Bagi orang lain, gambar mungkin hanya coretan, tetapi bagi anak pendiam itu, setiap garis memiliki arti.

Ia tinggal bersama ibunya, Lia (50 tahun), mantan Guru Seni di Sekolah yang sudah ditutup karena kekurangan dana. Sejak saat itu, ia bekerja serabutan seperti menjahit, jual gorengan, dan membersihkan rumah warga.

Ayahnya meninggal karena penyakit paru-paru ketika ia masih berusia enam tahun.

Walaupun hidup sederhana keduanya selalu saling menguatkan, di belakang rumah terdapat tembok tua yang menjadi tempat anak itu menuangkan perasaannya, di sanalah ia belajar melukis dengan bimbingan sang ibu.

Suatu hari, pagi itu suasana desa berubah.

Tiga mobil putih berhenti di lapangan, sekelompok orang turun membawa kamera, drone, dan cat. Mereka memperkenalkan diri sebagai tim program pemerintah bernama “Kampung Inspirasi”.

Seorang pria paruh baya bernama Pak Damar (45 tahun), selaku koordinator, berdiri sambil tersenyum ke arah kamera. Dengan suara penuh semangat, ia menyampaikan tujuan kedatangan mereka

“Kami datang untuk membangkitkan semangat warga, Tondok Bakaru akan menjadi kampung kreatif, warna-warna ini akan membawa harapan!,” ujarnya.

Setelah kamera dimatikan, senyumnya menghilang sembari menoleh kepada asistennya.

“Ambil gambar sebanyak mungkin, pastikan bagian depan rumah warga terlihat bagus,” perintahnya.

Asistennya bertanya pelan, “Kalau honor untuk warga bagaimana, Pak?”

“Nanti kita atur, yang penting program ini terlihat berhasil,” jawabnya singkat.

Tim tersebut mulai mengecat dinding rumah warga. Bunga, pelangi, dan gambar ceria memenuhi tembok, Desa yang sederhana dibuat seolah penuh kebahagiaan.

Namun, tidak semua orang merasa demikian.

Lukisan lama milik warga ikut dihapus. Salah satunya karya anak pendiam itu yang selama ini menjadi tempatnya menyampaikan isi hati.

Sang ibu berdiri didepan tembok yang kini kosong. Matanya berkaca-kaca.

“Lukisanmu, Sayang… mereka hapus. Padahal itu caramu bicara kepada dunia,” ujarnya lirih.

Anak itu hanya terdiam.

Malamnya, ia menuju belakang balai desa, tempat sisa cat dibuang. Beberapa kaleng yang masih berisi cat ia ambil.

Dengan kuas di tangan, anak laki-laki itu mulai melukis Kali ini, tidak ada bunga atau pelangi.

Di sebuah dinding, muncul gambar anak-anak putus sekolah. Di tempat lain, seorang kakek hidup dalam keterbatasan. Pada dinding berikutnya, seorang ibu menjahit di bawah lampu redup.

Ia tidak menuliskan namanya. Namun, warga tahu siapa pembuatnya.

Hari demi hari, lukisan baru bermunculan. Warga berhenti dan memperhatikannya. Mereka melihat kehidupan sendiri tergambar di dinding-dinding desa.

Ada kesedihan, kemiskinan, dan harapan.

Untuk pertama kalinya, banyak warga merasa kehidupan mereka benar-benar dilihat.

Namun, kabar tentang lukisan itu sampai kepada koordinator. Foto-fotonya mulai menyebar di media sosial.

Ia kembali ke desa dengan wajah marah. Di kantor desa, foto-foto lukisan itu ditunjukkan kepada kepala desa.

“Apa-apaan ini?! lukisan-lukisan ini bisa merusak citra program kita! Kita datang untuk membuat kampung terlihat inspiratif, bukan menyebarkan kritik!” bentaknya.

Kepala desa hanya terdiam.

“Hapus semua lukisan itu. Sekarang juga!” perintahnya.

“Baik, Pak,” jawab kepala desa.

Keesokan paginya, beberapa orang mengecat ulang dinding-dinding tersebut. Lukisan yang telah menjadi suara warga perlahan tertutup warna putih.

Sang ibu berdiri di depan tembok sambil menahan tangis.

Malam itu, anaknya pergi tanpa mengatakan apa pun.

Warga membantu menyusuri jalan, kebun, hingga sekitar desa. Namun, tak seorang pun menemukannya.

Yang tersisa hanyalah sebuah sketsa di dinding belakang rumah.

Dalam gambar itu, seorang anak berdiri di tengah hujan sambil menggenggam kuas. Di hadapannya terbentang kota yang sunyi dan seolah tidak mampu mendengar.

Perempuan itu berdiri lama di depan gambar tersebut. Air matanya jatuh perlahan, Ia takut kehilangan anak satu-satunya.

Banyak warga mengira sketsa itu tanda perpisahan terakhir.

Namun, mereka salah.

Anak itu tidak pergi untuk menghilang.

Ia memilih berkelana.

Dengan kuas dan cat seadanya, ia mendatangi tempat-tempat yang punya cerita, tetapi tak bersuara. Dinding sekolah, rumah warga, lorong sempit, hingga tembok kota menjadi tempatnya berkarya.

Lukisannya mulai menarik perhatian. Ada gambar anak-anak yang kehilangan kesempatan sekolah, keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan, dan orang-orang kecil yang selama ini tidak didengar.

Suatu hari, media nasional mulai memberitakan karya-karya tersebut.

“Lukisan dinding dari remaja yang tak bisa berbicara menyentuh hati negeri,” tulis salah satu media.

Orang-orang mulai mencari sosok di balik lukisan itu. Tidak ada yang tahu di mana ia berada.

Namun, lukisannya terus muncul dari satu tempat ke tempat lain.

Ia memang tidak dapat berbicara. Tetapi setiap goresan kuasnya membawa cerita. Setiap warna menyampaikan keresahan. Setiap dinding menjadi tempat bagi suara mereka yang selama ini tidak terdengar.

Sementara itu, di Tondok Bakaru, sang ibu masih sering berdiri di depan dinding tempat anaknya dahulu melukis.

Suatu sore, seorang warga menghampirinya.

“Bu, apakah Ibu yakin dia masih akan kembali?” tanyanya pelan.

Perempuan itu tersenyum kecil meski matanya berkaca-kaca.

“Saya tidak tahu kapan dia pulang. Tapi saya tahu, selama kuasnya masih bergerak, suara anak saya masih ada,” jawabnya.

Ia menatap dinding yang pernah menjadi awal perjalanan itu.

“Anakku memang tidak bisa berbicara. Tapi lukisannya mampu membuat kami semua mendengar,” ucapnya lirih.

Editor: Siti Nanda Cahya Al Qadri

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok