
Kepala UPA Lab Terpadu saat diwawancarai. Sumber Foto: Unsulbar News.
Jurnalis: Elka Fadilah
Unsulbar News, Majene – Unit Penunjang Akademik (UPA) Laboratorium Terpadu Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) terus berbenah dalam mengoptimalkan pelayanan akademik dan penelitian. Unit yang menaungi sekitar 30 laboratorium bidang sains dan sosial ini kini membidik akreditasi resmi untuk memperluas jangkauan layanan pengujian hingga ke pihak eksternal.
Kepala UPA Laboratorium Terpadu Unsulbar Dr Muhammad Nur S Pi M Si menjelaskan bahwa fungsi utama unit yang dipimpinnya berfokus pada penguatan Tridharma Perguruan Tinggi, mulai dari praktikum mahasiswa, riset dosen, pengujian sampel, hingga program pengabdian kepada masyarakat. Hal itu disampaikannya saat diwawancarai di ruang kerjanya pada, Selasa (13/10/2026).
Untuk menunjang peran strategis tersebut, pihaknya gencar meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Pelatihan kompetensi digelar secara berkala, satu hingga dua kali dalam sebulan, bagi staf teknis dan Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP/laboran).
“Peningkatan mutu pelayanan kami dorong melalui pembinaan rutin SDM dan laboran agar mereka semakin profesional mendampingi praktikum maupun penelitian,” ungkap Muhammad Nur.
Selain peningkatan kapasitas staf, UPA Laboratorium Terpadu telah merampungkan sekitar 70 Standar Operasional Prosedur (SOP) yang mengatur tata tertib, alur peminjaman ruang, tata cara praktikum, hingga mekanisme kerja laboratorium. Penguatan sistem ini diimbangi dengan digitalisasi layanan melalui situs web resmi yang memuat katalog fasilitas, inventaris alat, dan daftar pengujian yang tersedia.
Pengadaan alat baru juga terus diusulkan secara bertahap untuk memperbarui sarana penunjang.
Terkait kebersihan dan keselamatan kerja, Muhammad Nur menegaskan bahwa penanganan limbah menjadi perhatian serius. Meski telah menyiagakan dua petugas kebersihan dengan sistem kerja bergantian pagi dan sore, pengguna laboratorium tetap diwajibkan membersihkan meja dan instrumen praktikum masing-masing.
Untuk limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), UPA Laboratorium Terpadu menerapkan prosedur penyimpanan khusus sebelum dimusnahkan.
“Limbah kimia sisa praktikum ditampung di jeriken khusus dan disimpan di ruangan lantai empat. Selanjutnya, kami serahkan kepada pihak ketiga yang berwenang untuk diolah lebih lanjut melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL),” jelasnya.
Sementara itu, limbah organik seperti dedaunan dan sisa tanaman dimanfaatkan secara mandiri sebagai pupuk kompos. UPA Laboratorium Terpadu juga menyediakan area pembibitan tanaman dan membangun rumah kaca (greenhouse) di belakang gedung untuk mendukung riset lanjutan dosen dan mahasiswa.
Ke depan, UPA Laboratorium Terpadu menargetkan minimal satu laboratorium di bawah naungannya segera mengantongi sertifikat akreditasi resmi. Langkah ini diproyeksikan membuka peluang kerja sama pengujian sampel dari instansi di luar kampus sekaligus meningkatkan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Unsulbar.
“Target utama kami adalah akreditasi, minimal satu laboratorium terlebih dahulu. Jika sudah terakreditasi, laboratorium Unsulbar bisa melayani pengujian resmi bagi masyarakat dan industri luar, sehingga mampu menambah penerimaan kampus dan meningkatkan reputasi perguruan tinggi,” pungkas Muhammad Nur.
Berbagai langkah pembenahan, mulai dari peningkatan kompetensi SDM, penyusunan SOP, digitalisasi layanan, hingga pengelolaan limbah yang tertib, menunjukkan keseriusan UPA Laboratorium Terpadu dalam menjaga mutu layanan. Jika target akreditasi tercapai, laboratorium Unsulbar tidak hanya menjadi penunjang praktikum dan riset di kampus, tetapi juga berpeluang menjadi penyedia layanan pengujian yang dipercaya masyarakat dan industri.
Editor: Nurzahira

