
Para narasumber dan moderator memaparkan materi Dialog Publik yang digelar HMMS, Foto: Unsulbar News/M. Haikal.
Penulis: M Haikal
Unsulbar News, Majene – Himpunan Mahasiswa Satu Sendana (HMSS) menggelar Dialog Publik bertajuk “Revitalisasi Kearifan Lokal dan Pelestarian Budaya Mandar di Sendana: Peran Strategis Pemuda dalam Menghadapi Tantangan Era Digitalisasi”. Kegiatan yang dirangkaikan dengan bazar ini dilaksanakan di Cafe Neo Alternatif pada malam hari, Selasa (13/10/2026).
Dialog ini digelar untuk memperkenalkan identitas budaya Mandar, khususnya di Sendana, sekaligus mengajak pemuda terlibat aktif dalam pelestariannya. Ketua Umum HMSS Reza Febian mengatakan, kegiatan tersebut tidak dimaksudkan sekadar sebagai ajang silaturahmi. Tema diangkat karena di era digital sebagian pemuda, tidak hanya di Sendana tetapi secara umum, mulai kurang memberi perhatian pada budaya.
“Harapan saya, dialog ini bukan sekadar ajang bertemu, tetapi bisa kita ingat ke depan dan kita lestarikan lebih baik lagi, mengenai identitas budaya Mandar di Sendana,” ujarnya.
Panitia menghadirkan tiga narasumber, yakni sejarawan Mandar Drs Darmansyah M Hum, Penanggung Jawab Sure’Fest Sendana 2026 St Mutmainnah Syamsu S Psi M Pd, dan Ketua Pelaksana Sure’Fest Sendana 2026 A Rifki Chandra.
Setelah kegiatan, Darmansyah menyampaikan bahwa budaya Mandar patut dikembangkan dan dilestarikan karena menjadi identitas bersama. Ia mengajak seluruh pihak, termasuk pemerintah dan tokoh masyarakat, untuk mencintai budaya tersebut.
“Di dalam budaya itu ada kearifan lokal sebagai sumber nilai yang membentuk karakter kita,” ujarnya.
Mutmainnah Syamsu menilai digitalisasi memiliki dua sisi, yakni manfaat sekaligus dampak negatif. Menurutnya, tanpa digitalisasi, kegiatan budaya maupun kegiatan kemasyarakatan lainnya kemungkinan tidak akan diketahui khalayak luas. Ia menegaskan bahwa pemuda memegang peran penting dalam menjaga dan melestarikan budaya.
“Kita adalah generasi pewaris, bukan pewaris dalam bentuk materi, tetapi pewaris budaya itu sendiri. Kita punya tanggung jawab menjaganya dengan cara mengetahui identitas kita sebagai To Sendana,” tuturnya.
Sementara itu, Rifki Chandra menjelaskan bahwa festival yang ia pimpin lahir dari keresahan pemuda atas minimnya ruang produktif di Kecamatan Sendana. Ia berharap festival tersebut menjadi wadah berkarya bagi pemuda sekaligus memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Festival ini dilakukan untuk memberikan ruang produktif kepada pemuda secara khusus, dan tentunya kepada masyarakat secara umum, untuk bisa menjadi pemuda berkarya, masyarakat berdampak dalam sisi ekonomi,” ujar Rifki.
Melalui dialog ini, HMSS berharap pemuda semakin mengenal, peduli, dan turut melestarikan identitas budaya Mandar di daerahnya.
Dialog publik ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya Mandar tidak hanya menjadi tugas tokoh adat dan pemerintah, tetapi juga tanggung jawab generasi muda. Dengan memadukan diskusi bersama para narasumber dan bazar, kegiatan ini berhasil menghadirkan ruang temu yang menyegarkan, sekaligus mengingatkan bahwa digitalisasi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat, bukan melemahkan, identitas budaya.
Editor: Nurzahira

