Hadirkan Penulis Buku Filosofi Kopi, GenBI Sulbar Sukses Gelar Webinar Literasi

Jurnalis: Febrianti Daeng Mangetten
Editor: Masdin

Sumber : Webinar GenBI Sulbar

Unsulbar News, Majene. Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda pada Rabu (28/10/20), Generasi Baru Indonesia (GenBI) Sulawesi Barat (Sulbar) sukses menggelar Event Webinar Literasi dengan tema “Membangkitkan Generasi Milenial melalui Literasi,” via Zoom.

Webinar yang dimoderatori oleh mantan jurnalis NET TV, Chelzea Verhoeven ini, menghadirkan penulis buku Filosofi Kopi, Dewi Lestari Simangunsong sebagai pemateri tunggal.

Kegiatan tersebut merupakan puncak acara dari Event Literasi GenBI Sulbar setelah lomba cipta dan baca puisi, sekaligus pengumuman hasil lomba.

Wakil Rektor I Unsulbar, Dr Ir Zulfajri Basri Hasanuddin, M Eng dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya.

“Kami berterima kasih karena BI banyak berperan penting terhadap kemajuan di bidang pendidikan. Adanya beasiswa BI terhadap anak-anak kami di Unsulbar dan juga kegiatan ini sangat kami apresiasi. Kegiatan ini baik sekali untuk mahasiswa,” tuturnya.

Tercatat sekitar 480 peserta mengikuti kegiatan yang dibuka langsung Kepala KPw BI Sulbar, Budi Sudaryono. Ia menyampaikan bahwa agenda ini merupakan wujud nyata program sosial BI sebagai bentuk dukungan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, terutama generasi muda.

Ia juga menyinggung makna Hari Sumpah Pemuda, dan memberi apresiasi kepada GenBI Sulbar sebagai pelaksana kegiatan.

“Kita ingat hari ini adalah Hari Sumpah Pemuda, sehingga tentu banyak tumpuan harapan dilimpahkan kepada para pemuda, untuk menjadi pemimpin masa depan. Kami juga menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada adik-adik GenBI Sulbar, yang telah berhasil menyusun rangkaian Event Literasi, baik penyelenggaraan lomba maupun webinar ini,” ujarnya.

Kembali ke pemaparan materi, Dee menyampaikan tentang pentingnya menulis dan membaca. Ia mengutip perkataan dari penulis novel BloodAngel, Justine Musk yang mengatakan, “Reading is the inhale, writing is the exhale.”

“Kita anggap membaca itu adalah menarik napas. Menulis adalah saat kita menghembuskan napas. Bayangkan kalau kita hanya menarik napas doang, apa yang terjadi? Cuma nyesek-nyesekin doang. Tapi kalau kita berhasil menghembuskanya, kita bagi ke sekitar kita, kegiatan membaca kita menjadi sesuatu yang bermanfaat. Menjadi tulisan. Reading is the inhale, writing is the exhale,” terangnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok