
Jurnalis : Ardelia Artanti
Unsulbar News, Majene — Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Peribahasa tersebut umum dimaknai bahwa sifat atau kelakukan anak tidak jauh dari orangtuanya.
Mungkin gambaran tersebut bisa dilihat pada Hasria Hasri (18), perempuan muda yang aktif lakukan konservasi penyu mengikuti jejak ayahnya, Hasri.
Perempuan asal Barane, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Sulbar, ini mulai melakukan konservasi penyu sejak tahun 2015.
Ia menuturkan, kepeduliannya pada penyu bermula dari rasa ingin tahu atas aktivitas sang ayah, yang juga berperan aktif dalam melindungi telur-telur penyu.
“Awalnya hanya ingin tahu, karena saya sering melihat bapak mengamankan dan menetaskan telur penyu,” ujar Hasria saat diwawancarai Unsulbar News, Senin (3/10/2022).
Tercatat sebagai mahasiswi program studi (Prodi) Budidaya Perairan, Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), angkatan 2021. Hasria selain disibukan jadwal kuliah, ia membagi waktu untuk mengumpulkan telur penyu di wilayah pesisir Majene.
Seperti di Pantai Dato, Pamboang, hingga Malunda yang kemudian dibawa ke tempat konservasinya yaitu di Pantai Barane.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengamankan telur penyu dari peredator alami. Termasuk perburuan oleh manusia untuk dijual dan dikonsumsi.
Telur yang dikumpulkan tersebut akan ditempatkan di sarang semi alami, selama kurang lebih 54 hari hingga menetas.
Tercatat, sejak 2019 hingga 2022 sekitar 2.300 butir telur penyu telah diamankan. Sekitar 1.087 ekor tukik yang menetas telah dilepas ke alam bebas.
Sejauh ini, jenis penyu yang dikonservasi oleh Hasria adalah jenis lekang dan sisik.
“Yang saya tahu di Majene itu ada tiga jenis penyu yaitu lekang, sisik dan penyu hijau, namun yang dikonservasi hanya lekang dan sisik,” terang perempuan yang bercita-cita jadi meteri keluatan dan perikanan itu.
Sadar bahwa aksi melestarikan penyu butuh keterlibatan banyak pihak. Hasria kemudian mendirikan Komunitas Barane Lestari atau lebih dikenal dengan nama Kobar Lestar.
Kobar Lestari didirikan pada tahun 2021, beranggotakan para pemuda setempat dan ikut terlibat untuk menjaga kelestarian penyu di pantai Barane.
Perempuan kelahiran Majene, 2 Juni 2003 ini telah mendapat berbagai penghargaan dari apa yang ia lakukan. Seperti penghargaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan tahun 2020, karena aktif mendukung pelestarian penyu di pantai Majene.
Ada juga penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem tahun 2021. Penghargaan ini Hasria dinobantkan sebagai perempuan milenial pemerhati penyu.
Serta beberapa penghargaan lain baik dari kampus Unsulbar, pemerintah setempat hingga sekolah. Bahkan ia menjadi lulus inspiratif di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Majene pada tahun 2021.
Sebagai generasi milenials yang prihatin atas maraknya perburuan penyu, ia berpesan untuk tetap melestarikan habitat hewan yang dilindungi ini dari kepunahan.
“Mari sama-sama kita menjaga habitat penyu di lingkungan kita dengan tidak mengonsumsi dan dilestarikan dengan tidak diperjualbelikan,” tutupnya.

