
Jurnalis: Elka Fadilah
Unsulbar News, Majene – Prestasi membanggakan kembali diukir oleh civitas akademika Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar). Kali ini, dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Fakultas Teknik, Ir. Rafid Mahful, dinyatakan lolos sebagai salah satu penerima Beasiswa Kemitraan Indonesia (BKI) Program Doktoral Tahun 2026 untuk melanjutkan studi S3 ke Jerman.
Berdasarkan surat pengumuman resmi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 1461/DST/B4/DT.04.02/2026, nama Rafid Mahful bersanding di antara 50 akademisi terpilih dari berbagai Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia yang berhasil melewati seleksi wawancara ketat pada akhir Mei lalu.
Lolos ke Kampus Elit Jerman Lewat Skema Internasional Terkemuka
Melalui beasiswa prestisius dari kementerian ini, Rafid diamanahi untuk menempuh studi doktoral di Technische Universität Dresden (TU Dresden), Jerman. Kampus ini bukan universitas sembarangan, melainkan bagian dari aliansi TU9 (TU Nine), yaitu sembilan universitas teknologi tertua, terbesar, dan paling bergengsi di tanah kelahiran para ilmuwan dunia tersebut.
Menariknya, program doktor yang akan ditempuh Rafid menggunakan skema Joint PhD Program. Sepanjang penelitiannya nanti, ia akan bekerja sama dan disupervisi langsung oleh dua lembaga dunia terkemuka, yaitu UNU-FLORES (lembaga akademik di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB yang berfokus pada manajemen sumber daya berkelanjutan) serta IOER (Leibniz Institute of Ecological Urban and Regional Development), sebuah institusi riset strategis di Jerman untuk pengembangan wilayah ekologis.
“Kolaborasi lintas institusi ini bukan sekadar tentang prestise, melainkan sebuah kesempatan besar bagi saya untuk menyerap metodologi riset global yang mutakhir. Saya berharap jejaring internasional ini nantinya bisa kita bawa untuk memperkuat ekosistem akademik di PWK Unsulbar,” ungkap Rafid dengan penuh optimisme saat diwawancarai
Fokus Riset pada Keberlanjutan Wilayah
Selama masa studi yang ia targetkan selesai tepat waktu dalam waktu 4 tahun tersebut, Rafid akan mendalami ranah Perencanaan Wilayah Berkelanjutan (Sustainable Regional Planning). Penekanan risetnya difokuskan pada Manajemen Sumber Daya Berkelanjutan (Sustainable Resource Management) melalui pendekatan Resource Nexus.
Menurutnya, fokus keilmuan ini sangat erat kaitannya dengan tantangan tata ruang modern, di mana perencana tidak hanya dituntut merancang wilayah yang efisien secara ekonomi, tetapi juga memastikan interkoneksi sumber daya seperti air, energi, pangan, dan mineral dapat dikelola secara sirkular demi resiliensi jangka panjang.
Buah Manis Konsistensi Perjuangan Selama 4 Tahun
Keberhasilan menembus beasiswa tingkat dunia ini diakui Rafid bukan didapatkan secara instan, melainkan hasil “mencicil proses” yang ia pupuk secara konsisten sejak 4 tahun lalu.
Sebelum mendaftar, ia secara bertahap mengikuti rangkaian program prapendaftaran dan pembinaan dari kementerian. Mulai dari Pelatihan Kemampuan Bahasa Inggris demi meraih skor IELTS berstandar internasional, hingga program Talent Scouting untuk mematangkan proposal riset doktoralnya.
Proses penyaringan tahun ini pun terbilang sangat kompetitif. Dari seluruh pendaftar dosen di Indonesia, hanya 77 orang yang lolos seleksi administrasi, hingga akhirnya disaring kembali di tahap wawancara hingga menyisakan 50 penerima beasiswa.
“Ketatnya seleksi ini bukan sekadar untuk menggugurkan, melainkan untuk menguji sejauh mana kesiapan mental, kedalaman rencana riset, serta komitmen kita sebagai dosen ketika nanti dilepas ke kancah internasional,” tuturnya mengingat atmosfer seleksi.
Tantangan Multitasking: Dosen, Pembimbing, dan LDM
Perjuangan mengurus beasiswa dirasa kian menantang karena Rafid harus membagi energi di tengah multiperan yang padat. Selain menunaikan kewajiban Tri Dharma perguruan tinggi, sosok yang mengajar mahasiswa PWK Unsulbar sejak angkatan pertama tahun 2020 ini juga aktif mendampingi mahasiswa dalam berbagai kompetisi prestasi nasional seperti PKM dan P2MW.
Di ranah personal, tantangan tidak kalah berat. Sebagai kepala keluarga dengan empat orang anak, ia harus menjalani hubungan jarak jauh (Long Distance Marriage) karena istri dan anak-anaknya menetap di Makassar.
“Membagi fokus antara tugas kampus, mendampingi mahasiswa, menjaga kehadiran mental sebagai kepala keluarga dari jarak jauh, sembari mencicil dokumen beasiswa luar negeri yang sangat menguras pikiran adalah fase yang sangat melelahkan. Namun saya selalu menanamkan pemikiran bahwa setiap peluh dan kerinduan adalah bentuk investasi spiritual,” kenang Rafid.
Untuk itu, ia membagikan tips penting (hacks) bagi dosen muda maupun mahasiswa Unsulbar yang ingin berburu beasiswa, yakni konsistensi dan keterbukaan untuk dikritik melalui peer-review proposal riset bersama sejawat atau senior.
Pesan untuk Mahasiswa: Kampus Boleh di Daerah, Kontribusi Harus Mendunia
Lahir dan tumbuh besar hingga menyelesaikan SMA di Papua daerah dengan tantangan akses pendidikan yang tidak mudah tidak pernah memenjarakan mimpi seorang Rafid Mahful. Lewat ketekunan, ia berhasil meraih beasiswa sejak bangku SD, merampungkan studi S2 di Kyushu University Jepang, dan kini bersiap terbang ke Jerman untuk gelar doktornya.
Lewat kisah hidupnya, ia menitipkan pesan mendalam sekaligus membakar semangat mahasiswa di Sulawesi Barat agar tidak pernah minder dengan keterbatasan geografis maupun finansial.
“Jangan pernah merasa minder karena kita kuliah di daerah. Kampus kita boleh berada di daerah, tetapi ruang tumbuh dan kontribusi kita harus mendunia. Jangan hanya silau melihat keberhasilan orang lain di garis finis, tetapi cintailah setiap proses berdarah-darah saat berjuang,” pesan Rafid mendalam.
Sekembalinya dari Jerman nanti, Rafid berkomitmen penuh mendedikasikan ilmu dan jejaring riset internasionalnya untuk memperkuat kurikulum PWK Unsulbar, sekaligus membantu pemerintah daerah dalam merumuskan perencanaan wilayah yang bijak dan seimbang demi kesejahteraan masyarakat Sulawesi Barat.
Editor: Zahirah

