Maleo Terancam Punah, Dosen Unsulbar Studi Banding ke Konservasi di Sulawesi Tengah

Dr Ritabulan, S Hut, M Si (tengah) bersama tim saat melakukan studi banding ke Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Burung Maleo Desa Taima, Kecamatan Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah/Foto: Dokumentasi Pribadi/Dr Ritabulan.

Jurnalis : Shelynda Trifebriani Nursalam

Unsulbar News, Majene — Dosen Program Studi (Prodi) Kehutanan, Fakultas Pertanian dan Kehutanan (Fapertahut) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Dr Ritabulan, S Hut, M Si, melakukan studi banding ke habitat asli konservasi burung Maleo.

Kegiatan ini berlangsung di Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Burung Maleo Desa Taima, Kecamatan Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, 12-13 Maret 2023.

Tidak sendiri, Dr Ritabulan melakukan studi banding bersama dosen Fakultas Kehutanan Universitas Andi Djemma Palopo (Unanda), beserta 3 orang lainnya berasal dari unsur komunitas. Mereka adalah Hadijah Azis Karim, S Hut M Sc (Universitas Andi Djemma Palopo), serta Fadlan, SE (Pasangkayu), Muh Hariyanto (Mamuju), Akbar (Pasangkayu).

Kepada Unsulbarnews, Dr Ritabulan menuturkan alasan konservasi Maleo Desa Taima, Sulawesi Tengah jadi lokasi studi banding.

“Rekomendasinya memang kita harus Desa Taima ini. Karena di Sulawesi ini termasuk konservasi maleo yang paling berhasil,” ungkapnya.

KEE burung Maleo di Desa Taima ini merupakan kawasan yang dikelola oleh lembaga internasional Alliance for Tompotika Conservation (ALTo). Di kawasan tersebut, para pengunjung dapat melihat bagaimana Maleo dibiarkan hidup secara alami di habitatnya, termasuk saat mereka melakukan aktifitas bermain dan bertelur di area yang dijaga ketat itu.

Untuk menjaga kelestariannya, para pengunjung tidak dapat bebas selayaknya wisatawan pada umumnya. “Ketika masuk ke dalam kawasan itu, kita dibatasi ya,” pernyataan Dr.Ritabulan saat memasuki kawasan.

Tentunya, Dosen Kehutanan ini dengan senang hati berbagi pengalaman dan perjuangannya agar bisa sampai di tempat tujuan. Dalam perjalanannya dari pemberangkatan hingga kembali ke daerah asal, Dr Ritabulan menyatakan kira-kira lamanya yaitu kurang lebih satu minggu.

Dengan rincian pemberangkatan dimulai pada tanggal 10 Maret 2023. Para peserta sampai dilokasi pada tanggal 12 Maret 2023. Bahkan karena jarak yang jauh, mengharuskan para peserta berangkat beberapa hari sebelum kegiatan studi banding ini berlangsung.

“Salah satu peserta bahkan mulai berangkat dari Makassar itu dari tanggal 9 Maret”, ujarnya.

Kegiatan berlangsung selama 2 hari, mulai tanggal 12-13 Maret 2023. Sehingga mereka langsung masuk dalam agenda kegiatan di kawasan konservasi burung Maleo di desa Taima tersebut.

Adapun kegiatan yang dilakukan selama studi banding berlangsung, yaitu yang pertama bertemu dengan pihak ALTo untuk diperlihatkan kawasan peneluran Maleo dan aktifitas Maleo dilokasi peneluran tersebut.

“Dan kemarin kami waktu di lokasi wawancara dan beberapa hal lainnya itu medapat penjelasan langsung dari perwakilan ALTo-nya itu sendiri,” jelas Dosen Kehutanan Unsulbar tersebut.

Lalu yang kedua merupakan sesi wawancara dengan pihak pengelola, dan terakhir adalah wawancara dengan masyarakat setempat. Tentunya pada kesempatan tersebut, Dr. Ritabulan, Hadijah Aziz Karim, serta para rombongan lainnya bertemu dengan pemerintah desa Taima untuk sedikit wawancara terkait upaya konservasi Maleo di desa itu.

Dr Ritabulan pun menyampaikan bahwa pelaksanaan studi banding ini dilakukan atas inisiasi bersama dari peserta studi banding.

“Kegiatan ini kami inisiasi bersama komunitas jaga maleo dan beberapa pihak dari luar yang merupakan pemerhati maleo di Sulawesi Barat,”.

Dirinya menambahkan bahwa, dukungan dari pihak luar yang dimaksud adalah para peneliti senior yang konsen dengan konservasi Maleo di Sulawesi Barat (Sulbar).

“Beberapa pihak ini termasuk peneliti senior dari RCCC-UI (Research Center for Climate Change – Universitas Indonesia) Bpk Dr. Mochamad Indrawan dan Simon Purser dari Nature Wallacea,” rincinya kepada Unsulbar News.

“Beliau sebagai peneliti senior yang memfasilitasi dan membantu dalam penyusunan serta pengajuan proposal ke The Rothschild Foundation”, tambahnya.

Hal ini dikarenakan habitat asli Maleo yang ada di Sulbar terancam kelestariannya. Masih banyak dari penduduk setempat yang berburu telurnya untuk dijual hingga konsumsi pribadi, kemudian terjadi pembukaan lahan untuk akses jalan serta kegiatan wisata, bahkan diburu telurnya untuk dijadikan oleh-oleh.

Ternyata, pemburu telur burung Maleo ini bukan hanya dari kalangan orang dewasa saja, “Pemburunya ada juga anak sekolah usia SD gitu,” masih ungkap Dr Ritabulan.

Setelah rangkaian kegiatan konservasi habitat asli Maleo usai, para peserta langsung menuju ke daerah asal masing-masing, “Kemudian sisanya itu tanggal 14-16 itu kita gunakan 2-3 hari untuk balik”, jelasnya kepada Unsulbar News.

Kegiatan yang didanai oleh The Rothschild Foundation ini memiliki tujuan umum. Setelah studi banding usai dilaksanakan, diharapkan terdapat peningkatan kapasitas terutama untuk stake holder lokal terkait dengan upaya konservasi Maleo di Sulbar dan sekitarnya.

Habitat peneluran Maleo yang teridentifikasi penyebarannya di Sulbar ada di Kabupaten Mamuju, Mamuju Tengah (Mateng), dan Pasangkayu.

Adapun penyebarannya di Kabupaten Mamuju meliputi desa Sumare, Malauwa, Tapandullu, Mepaang, Nipa-Nipa. Di Mateng meliputi desa Antalili dan Tanjung Kambunong. Sedangkan di Pasangkayu meliputi Sarasa dan Randomayang.

Walaupun telah terdeteksi penyebarannya, habitat Maleo di tempat-tempat tersebut masih sangat diperlukan sentuhan dari para pemerhati lingkungan.

Olehnya itu, adapun setelah ini telah di agendakan beberapa tindakan lanjutan setelah studi banding berlangsung, yaitu; sosialisasi ke masyarakat, audiensi dengan pemerintah provinsi.

Serta penyadartahuan ke sekolah-sekolah dan menerima kunjungan balasan dari pihak AlTo.

“Kunjungan balasan oleh AlTo itu dalam rangka melihat kondisi habitat peneluran maleo di Sulbar dan mereka sudah menyampaikan akan berkunjung dalam 2 pekan ke depan,” tutupnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok