Resensi Buku: Mengapa Kita [Belum] Cinta Laut?

Gambar: Sampul buku Mengapa kita (belum) cinta laut?.

Oleh: Andriana

Jenis Buku : Nonfiksi (Kumpulan Esai)
Judul: Mengapa Kita [Belum] Cinta Laut?
Penulis: Muhammad Ridwan Alimudin
Penerbi: Ombak
Sampul: Dian Qamajaya
Tahun: 2013 (cetakan II)
Halaman: xvi + 188
Ukuran: 15 x 23 cm
ISBN : 978-602-258-107-9

Kajian kelauatan dan masyarakat pesisir sekarang mulai disadari sebagai kajian yang penting. Negara Indonsesia adalah salah-satu negara yang memiliki sejarah laut yang besar terutama pada zaman Nusantara. Laut tidak hannya menyumbang sendi ekonomi untuk manusia, ia juga menyumbang kekayaan bagi peradaban bahari bangsa.

Muhammad Ridwan Alimudin mencoba menyadarkan kita tentang pentingnya mencintai laut, khususnya generasi muda. Penulis menyampaikan kumpulan esainya dengan bahasa yang mudah dicerna (popular) tetapi memiliki makna yang sangat kaya. Gagasan yang coba diangkat sangat tidak biasa, ia melihat nelayan sebagai subjek aktif dari pembangunan itu sendiri. Orang darat mengagap orang laut sebagai pelaut ulung atau penakluk laut, pernahkan menjadi nelayan?.

Gagasan yang menggelitik namun penuh makna. Sebagai seorang penulis, fotografer, dan jurnalis, Ridwan mengajak kita untuk melihat laut sebagai budaya, laut sebagai mata ekonomi dan laut sebagai alat pemersatu bangsa.

Potensi sumber daya laut Indonesia sama besar dengan permasalahan yang ada. Kerusakan akibat modernisasi alat tangkap dan cara tangkap adalah salah satu contoh. Bom dan bius ikan adalah salah satu yang popular dikalangan nelayan kecil dan itu merupakan sjatu kejahatan. Sama seperti penangkapan ikan karang dan ikan hias adalah kejahatan, akan tetapi pemilik aquarium ikan laut di rumah-rumah atau kantor pemerintahan bukan kejahatan. Adilkah? Dalam teori ekonomi sederhana penawaran ada karena permintaan.

Pangkal utama permasalahan adalah permintaan (denaad). Kadang kita sering menjadikan nelayan kecil sebagai kambing hitam, kita jarang melihat dari sisi nelayan yang hidup bergantung dengan laut tanpa modal besar dan akses ekonomi yang memadai –orang laut akan selalu bergantung dengan laut, tinggal bagaimana pemerintah menjadikan nelayan sebagai subjek dari pembangunan itu sendiri.

Buku ini sangat layak dibaca, khususnya generasi muda untuk lebih dapat mengerti dan memahami kehidupan nelayan, laut, dan kebudayaan bahari. Sebab sudah terlihat ancaman kepunahan laut Nusantara baik terhadap ekosistem laut itu sendiri maupun terhadap budaya dan tradisi bahari Indonesia.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok