
Foto bersama tim PKM, mahasiswa, dan Masyarakat. Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi
Jurnalis: Yultiani Neti
Unsulbar News, Majene – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Unsulbar menerapkan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa alat penyulingan modern bagi Kelompok Tani Patuyu di Desa Manyamba. Program ini diawali dengan penyerahan mesin penyulingan pada, Rabu (5/8/2026), dan mencapai puncak kegiatan berupa sesi edukasi serta diskusi bersama petani pada, Rabu (9/9/2026).
Penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG), ini sukses mendongkrak kapasitas produksi minyak nilam kelompok tani tersebut hingga 400 persen.
Program PKM ini berfokus pada tiga aspek utama: penerapan teknologi penyulingan untuk efisiensi produksi, pembenahan sektor hulu berupa kualitas budidaya tanaman nilam, serta peningkatan kapasitas manajemen usaha kelompok tani.
Ketua Tim PKM, Dr Akbar Aziz, S E M M, menjelaskan bahwa inovasi alat penyulingan ini memberikan dampak langsung terhadap efisiensi dan kuantitas produksi petani lokal.
“Setelah alat penyulingan baru diterapkan, kapasitas produksi melesat menjadi 100 kilogram per hari. Waktu penyulingan yang biasanya memakan waktu hingga delapan jam kini bisa dipangkas menjadi enam jam, dengan hasil rendemen minyak yang lebih baik dan stabil,” ujar Akbar Aziz.
Sebelum penyerahan mesin penyulingan, kapasitas pengolahan bahan baku Kelompok Tani Patuyu hanya mentok di angka 20 kilogram per hari. Angka tersebut melonjak signifikan setelah alat baru diterapkan, sejalan dengan efisiensi waktu penyulingan yang turut meningkat.
Dalam program ini, Akbar didampingi oleh anggota tim Dr Muhammad Shaleh ZD, S E M M, dan Ahmad Karim, S E M M, serta mahasiswa pendamping Ismail dan Hajrawati. Mitra utama program ini adalah Kelompok Tani Patuyu yang diketuai oleh Sukri.
Tidak hanya berfokus pada proses hilirisasi atau pengolahan, tim PKM juga membenahi sektor hulu yakni kualitas budidaya tanaman nilam.
Pada sesi edukasi tim menghadirkan Dosen Pertanian, Muh Isbahuddin, S P M Sc, untuk membedah penanganan hama dan penyakit tanaman. Edukasi ini diberikan karena tingginya kualitas minyak nilam sangat bergantung pada kualitas bahan baku sejak tahap penanaman.
Guna melengkapi keterampilan Kelompok Tani Patuyu, tim juga memberikan pelatihan manajemen usaha melalui penyusunan Business Plan (Rencana Bisnis). Evaluasi melalui pre-test dan post-test menunjukkan lonjakan pemahaman petani terkait strategi pemasaran, perencanaan produksi, hingga tata cara penghitungan biaya usaha.
Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga membuka ruang diskusi interaktif untuk memetakan tantangan nyata di lapangan. Dari dialog tersebut, Akbar mencatat dua persoalan krusial yang saat ini menjadi hambatan utama petani nilam di Manyamba.
- Minimnya pasokan air saat musim kemarau: Menghadapi kondisi iklim tersebut, para petani sangat mengharapkan adanya pengadaan pompa air bertenaga surya.
Teknologi panel surya dinilai sebagai solusi paling logis dan berkelanjutan di tengah keterbatasan sumber energi konvensional di wilayah lahan pertanian. - Keterbatasan bibit unggul: Para petani menyampaikan harapan untuk mendapatkan varietas bibit nilam berkualitas yang mampu memangkas masa panen. Saat ini, siklus panen nilam membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Dengan bibit unggul, mereka berharap masa panen bisa dipercepat menjadi empat bulan, sehingga perputaran ekonomi dan siklus produksi jauh lebih cepat.
“Berbagai aspirasi dari para petani, baik kebutuhan pompa air bertenaga surya maupun pengadaan bibit unggul, menjadi masukan dan catatan penting bagi kami untuk merancang pengembangan program pendampingan tahap berikutnya,” tegas Akbar.
Secara keseluruhan, program PKM ini berhasil mencatatkan hasil nyata dan terukur, mulai dari lonjakan kapasitas produksi hingga 400 persen, efisiensi waktu penyulingan, hingga peningkatan pemahaman manajemen usaha petani melalui evaluasi pre-test dan post-test. Sinergi antara penerapan teknologi produksi, pengetahuan teknis pertanian, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia ini diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi sekaligus menjadikan minyak nilam Desa Manyamba sebagai komoditas yang unggul dan berdaya saing di pasaran.
Editor: Nurzahira

