Resensi Buku: 168 Jam dalam Sandera : Setiap Profesi Merupakan Risiko

Gambar : 168 jam dalam sandera (Cover)

Oleh: Yona Vin Ziolina

 

Penulis: Meutya Hafid

Penerbit: Penerbit Hikmah (PT Mizan Publika)

Penulis Pendamping: Mauluddin Anwar, A. Latief Siregar,  Ninok Laksono

Penyunting: Hermawan Aksan

Penyelaras Aksara: Emi Kusmiati

Pewajah sampul: Windu Tampan

Tahukah kalain, tahun 2005 Indonesia sempat digemparkan dengan kasus penyanderaan. Dimana dua sosok yang bekerja sebagai jurnalis dan juru kamera dari salah satu stasiun TV swasta diculik saat melaksanakan tugas.

Kedua sosok itu adalah Meutya Hafid dan Budiyanto. Mereka diculik oleh Faksi Tentara Mujahidin ketika mengisi bahan bakar di sebuah Pom Bensin bersama Ibrahim yang menjadi rekan pemandu mereka.

Kisah yang ditulis oleh Meutya berdasarkan rekaman memoarnya ketika ditugaskan meliput wilayah konflik di Irak. Selama 168 jam mereka bertahan ditengah gurun pasir, dalam gua kecil di tengah gurun Ramadi. Tidur beralaskan pasir dan batuan, ketakutan, sambil menunggu hari pembebasan. Bersama perasaan terjaga oleh suara-suara tembakan senjata yang setiap waktu akan datang bersama dengan harapan dan kepasrahan mereka kepada Tuhan.

Melalui buku ini Meutya dapat melukiskan rentetan kejadian dengan sangat jelas. Bukan hanya soal penyanderaannya, namun terdapat kisah lainnya seputar peliputannya di Irak, sehingga kita seolah-olah turut merasakan dan melihat secara langsung konflik yang terjadi saat itu. Selain itu, penulis mengajak pembaca untuk membuka pikiran kita bahwa setiap pekerjaan mempunyai risiko tersendiri namun tidak ada yang nilainya lebih besar dari nyawa.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok