
Jurnalis : Siti Mulkia Nasira
Editor : Masdin
Unsulbar News,Majene. Terlepas dari kegiatan mengajar dan meneliti, dosen juga dituntut sebagai pengabdi di lingkungan masyarakat sekitarnya. Hal Inilah yang dilakukan oleh salah satu pasangan suami istri Dr. Tenriware,M.Si dan Husnia,S.Sos.,M.Si. Mereka adalah dosen sekaligus peneliti dari Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar).
Setiap tahunnya mereka terjun ke masyarakat khususnya di wilayah pesisir untuk mengabdikan dirinya dalam melakukan proses transfer ilmu pengetahuan yang dimiliki. Berbekal dengan semangat yang kuat, pasangan yang kerap terlihat kompak dan romantis selalu memilih daerah terpencil atau wilayah kepulauan sebagai basis pengabdian.
Tidak sedikit rintangan dan hambatan mereka hadapi dalam melaksanaan kegiatan terutama dalam perjalanan. Kondisi gelombang atau cuaca buruk saat mereka menuju pulau tempat kegiatan pengabdian, namun semangat kedua pasangan ini tetap menggelora dan tidak surut sedikit pun.
Tahun 2017 silam, Dr. Tenriware dan Husnia juga melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM). Dengan tema “Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Melalui Penerapan Teknologi Pengolahan Ikan dan Pengemasan serta Pemasaran Produk Olahan”, program tersebut mendapat respon positif dari masyarakat.
“Alhamdulillah dengan hadirnya keberadaan ditengah tengah mereka sehingga melahirkan wirausaha baru sebagai mitra setiap kegiatan” ujar tenriware kepada Unsulbar News.
Selain itu, menurut dosen akuakultur itu, sebagai penanggung jawab pelaksana kegiatan tentu kita dituntut mencari peluang-peluang bagaimana usaha berbasis masyarakat pesisir bisa berkembang dengan baik seperti layaknya usaha lain.
Lebih lanjut saat ditemui jurnalis Unsulbar News, dirinya mengungkapkan langkah-langkah dalam membentuk suatu usaha. Langkah pertama yang dilakukan adalah membantu/memfasilitasi menerbitkan legalitas usaha mereka berupa : Surat Izin Usaha Perdagangan Nomor 02/SIUP/503/Kec.Bng dan Nomor : 03/SIUP/503/Kec.Bng, Tanda Daftar Perusahaan Perorangan, Izin Gangguan Tempat Usaha. Bahkan bulan Nopember 2017, mitra ini difasilitasi dengan menerbitkan 3 (tiga) sertifikat halal produk olahan Mitra Bahari Indah tetapi yakni sertifikat halal olahan ikan.
Sampai saat ini, mitra Bahari Indah telah berkembang walaupun modal usahanya adalah swadaya. Usaha ini setiap harinya menjalankan bisnis olahan ikan menerima pesanan dari mana saja bahkan telah dijual di market-market yang ada di sekitarnyaB, hal itu berkat pembinaan dari Dr. Tenriware dan pasangan hidupnya Husnia. Mereka selalu memonitor dan memberikan arahan pada usaha Bahari Indah melalui peluang-peluang dan potensi di wilayah pesisir pulau Battoa di kab. Polewali Mandar .
Program Kemitraan Masyarakat (PKM)
Selain usaha olahan ikan, peluang usaha lain yang dikembangkan di wilayah Pulau Battoa tersebut adalah usaha olahan rumput laut. Masyarakat tentu minim pengetahuan tentang hal ini, padahal untuk mengolah rumput laut bisa menjadikan ratusan buah produk olahan yang dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Menurut Dr. Tenriware selaku penanggung jawab mengataka bahwa peran serta dosen sebagai pengabdi tentu memberikan pengetahuan atau skill dalam olahan rumput laut. Tahun ini bersama pasangannya, Dr Tenriware telah melaksanakan kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Unsulbar bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi di Pulau Battoa Kecamatan Binuang Kabupaten Polewali Mandar.
Dengan judul kegiatan PKM Kelompok Pengolah Hasil Laut di Pulau Battoa Desa Tonyaman Kec. Binuang, Kab. Polewali Mandar Sulawesi Barat”, program tesebut terfokus pada hasil olahan rumput laut menjadi produk olahan selai rumput laut dengan inovasi varian rasa yaitu nenas dan rasa Durian.
Mitra terlihat sangat antusias karena disamping kegiatan ini baru dilakukan di pulau Battoa, sumber olahannya adalah rumput laut dimana mitra atau warga kurang mngetahui bahwa rumput laut ini sebagai sumber pangan yang sangat potensial.
Dari pantauan Unsulbar News di lokasi kegiatan, warga yang terdiri dari ibu-ibu diberikan motivasi pengembangan usaha dan peluang usaha sesuai potensi lokal yang dimiliki. Pengabdi (dosen Unsulbar) menyampaikan bahwa mengolah rumput laut menjadi olahan makanan tidak sesulit yang dipikirkan. Tidak perlu peralatan canggih, peralatan manual pun bisa seperti peralatan rumah tangga yang ibu miliki jelas dosen pengabdi.
Terlebih lagi lanjutnya untuk mengolah rumput laut menjadi olahan bahan pangan, bahan penunjangnya pun sangat mudah didapatkan dan harga terjangkau, Pengolahan olahan makananpun tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menciptakan suatu produk.

