
Oleh : Abrhama La Ode
“ . . . Tapi, biasanya, kita berani bicara apa saja karena kita tidak makan uang siapa pun, kecuali hasil keringat sendiri. Kita pasti cenderung tidak memiliki ambisi pribadi atau kekuasaan apa pun yang hubungannya dengan struktur birokrasi”
Lantip, di suatu sore, bercerita kepada kumpulan mereka – yang kebetulanhari itu kumpul di padepokan hancur mereka. Ia bertutur tentang apa yang telah ia baca tadi malam. Ia dengan serius menjelaskan – semacam seorang
dosen ahli pertama – bahwa raja-raja terdahulu sediktator-diktatornya selalu punya abdi dalem yang fungsinya khusus. Misalnya, Abdi Dalem Polowijo yang terdiri atas orang-orang kerdil secara fisik yang kerjanya menghibur raja. Atau, Abdi Dalem Oceh-ocehan yang punya hak khusus untuk bicara apa saja tanpa raja pernah marah kepadanya.
Lantip tidak berhenti sampai di situ. Ia terus melanjutkan pemaparannya sambil sedikit berdeklamasi dengan gerak tangan bahwa terkadang teknik, retorika dan estetika komunikasinya memang bisa membungkus lontaran kritik yang frontal dengan nada segar dan menyenangkan. Di samping itu, setiap penguasa memang selalu punya kepentingan untuk bercermin. Dulu, mereka itu bisa seenaknya bicara begitu kepada raja karena memang mereka tidak digaji. Tapi, itu zaman dulu ya. Sekarang tidak. Sebab kalau digaji, abdi dalem itu lantas tidak berani bicara apa-apa.
“Apa karena urusan gaji-menggaji itu sehingga sekarang banyak orang tidak berani bicara?”, tanya teman Lantip sebagai respon penuturan kuliah singkat itu.
“Saya tidak bisa bilang tidak”, ungkap Lantip sembari melanjutkan “Tapi, biasanya, kita berani bicara apa saja karena kita tidak makan uang siapa pun, kecuali hasil keringat sendiri. Kita pasti cenderung tidak memiliki ambisi pribadi atau kekuasaan apa pun yang hubungannya dengan struktur birokrasi. Bahkan tidak juga dengan perolehan ekonomi atau status sosial.
Maka kita sah berkata apa saja yang kita yakini.
“Ya, ya, ya, menarik juga bahan bacaanmu Lan”, sambar teman Lantip lainnya
“tidak banyak tetapi padat dan bermakna. Tapi, ngomong-ngomong, menurutmu pentingkah membaca buku?”
“Pasti pentinglah. Memang ada di dunia ini yang tidak penting?”, jawab karib lainnya lagi.
“Pentingnya apa?”
“Salah satu yang tampak adalah penuturan Lantip tadi. Kalau dia tidak membuka lembaran-lembaran usang itu mana mungkin ia bisa bercerita kepada kita semua seperti layaknya seorang doktor.”
“Menurutmu Lan?”, tanya karib itu sambil tidak merasa puas dengan penjelasan karib sebelumnya.
Lantip terdiam sesaat. Ia semacam sedang mengumpulkan kata-kata yang harus ia lontarkan dalam benaknya. Ia mencoba menyusun kata-kata itu menjadi rangkaian kalimat-kalimat yang mudah dipahami. Ia tidak ingin menggunakan kata-kata tinggi untuk menjelaskan hal-hal sederhana.
Kebiasaan sejenis ini biasanya digunakan oleh anak-anak muda. Ungkapan retorika tinggi biasanya telah menjadi konsumsi anak-anak muda. Mereka cenderung lebai dalam menggunakan kata. Sehingga, makna dari apa yang ingin mereka ungkapkan tidak kesampaian karena tertutupi oleh kata-kata yang tidak seharusnya. Tidak kontekstual. Dan cenderung melebih-lebihkan. Mereka semacam menderita demam ‘makan puji’. Ini disebut sebagai egoism e dalam menulis. Tapi, memang demikianlah tabiat darah muda.
Mereka sedang berproses. Lantip kemudian merespon pertanyaan karibnya itu.
“Bagi saya membaca itu penting. Ia adalah bahan baku dalam berargumen. Bukan untuk copy-paste, tetapi lebih kepada landasan bahan berpikir. Kalau hanya mengutip begitu saja kan namanya membebek.”
Ia melanjutkan ocehannya.
“Misalnya, menulis adalah membaca. Itu menurut saya. Tahap untuk sampai pada argumen yang tertuang dalam tulisan adalah membaca sebanyak- banyaknya. Saya mengandaikan itu seperti menu makanan. Bayangkan, bagaimana mungkin kita bisa menghasilkan menu makanan enak sementara bahan-bahan untuk memasak menu itu tidak tersedia”.
Yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara kita memasak. Ini juga menentukan rasa masakan. So, bahan baku masakan enak itu wajib ada lebih dulu. Dan, bahan baku berargumen adalah membaca. Kalau bisa, argumen itu dituangkan dalam tulisan.
“Meski sederhana. membaca juga kan sebagai bahan makanan akal. Sumber nutrisi akal sehat.”
“Kalau begitu Lan, kamu punya buku apa saja?”
“Nih, saya punya buku baru. Empat buah. Dan, satu lagi masih di perjalanan.”
“Yang masih di perjalanan itu judulnya apa Lan?”
“Allah Tidak Cerewet seperti Kita”
“Majalah yang sexy-sexy ada tidak?”, menimpali lainnya.
“Bajingan . . . Matamu situ”
“Hahahahaahaaaa . . . “, tawa segerombolan kere.

