
Tim PPK Ormawa HIMAIPA Unsulbar bersama peserta usai pelatihan ecobrick di Desa Galung Tuluk, Sumber Foto: Dokumentasi Panitia
Jurnalis: Risman Saputra
Unsulbar News, Majene – Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Pendidikan IPA (HIMAIPA) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) membentuk kelompok anak nelayan sekaligus menggelar pelatihan pembuatan ecobrick, Sabtu (25/07/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program SIPAMANDAQ BAHARI, yakni program pemberdayaan anak nelayan yang bertujuan meningkatkan literasi konservasi sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan anak-anak nelayan di Desa Galung Tuluk.
Melalui program ini, kelompok anak nelayan tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi juga diarahkan untuk berperan aktif dalam edukasi lingkungan, sekolah konservasi, kampanye kebersihan pesisir, hingga pelatihan pengolahan sampah menggunakan teknologi ramah lingkungan. Salah satu teknologi yang diperkenalkan kepada peserta adalah pembuatan ecobrick dari sampah plastik.
Langkah Awal Pemberdayaan Anak Pesisir
Penanggung jawab kegiatan yang juga anggota Tim PPK Ormawa HIMAIPA Unsulbar, Kariadi (23), mengatakan bahwa pembentukan kelompok anak nelayan menjadi langkah awal untuk melibatkan generasi muda pesisir dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengembangkan keterampilan wirausaha.
“Kelompok anak nelayan dibentuk sebagai wadah belajar dan berkegiatan bagi anak-anak di wilayah pesisir. Mereka akan mengikuti rangkaian edukasi lingkungan, sekolah konservasi, serta pelatihan pengolahan sampah yang dapat menghasilkan produk bernilai
guna dan bernilai ekonomi,” ujarnya.
Ecobrick, Solusi Sederhana untuk Sampah Plastik
Menurutnya, pelatihan ecobrick dipilih karena proses pembuatannya relatif mudah, aman, dan dapat diterapkan oleh anak-anak. Melalui metode tersebut, sampah plastik yang sulit terurai dikumpulkan, dibersihkan, dipotong, lalu dipadatkan ke dalam botol plastik.
“Ecobrick merupakan salah satu cara sederhana untuk mengurangi sampah plastik di lingkungan. Hasilnya dapat dimanfaatkan menjadi kursi, meja, pot tanaman, hiasan, maupun produk lainnya. Kegiatan ini juga mengajarkan kepada anak-anak bahwa sampah dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” tuturnya.
Desa Galung Tuluk dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program karena merupakan kawasan pesisir yang masih menghadapi persoalan sampah plastik. Sampah yang berasal dari aktivitas masyarakat maupun terbawa arus laut dapat mencemari pantai, mengganggu aktivitas nelayan, merusak biota laut, serta menurunkan kualitas lingkungan permukiman.
Pelatihan diikuti oleh anak-anak nelayan Desa Galung Tuluk. Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai jenis sampah, waktu penguraian sampah plastik, dampak pencemaran terhadap ekosistem laut, serta pentingnya keterlibatan semua elemen masyarakat dalam menjaga kebersihan kawasan pesisir.
Setelah menerima materi, peserta mempraktikkan langsung tahapan pembuatan ecobrick, mulai dari memilah dan membersihkan sampah plastik, memotongnya menjadi bagian-bagian kecil, hingga memadatkannya ke dalam botol sesuai standar kepadatan yang telah ditentukan.
Kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan pembuatan produk. Tim PPK Ormawa HIMAIPA juga memberikan pemahaman mengenai peluang pemanfaatan dan pengembangan produk ecobrick, sehingga peserta diharapkan mampu menghubungkan kegiatan konservasi lingkungan dengan pengembangan kreativitas dan kewirausahaan.
Kelompok anak nelayan yang telah dibentuk akan dilibatkan dalam berbagai kegiatan lanjutan SIPAMANDAQ BAHARI. Tim pelaksana akan melakukan pendampingan secara berkala agar kelompok tersebut mampu meningkatkan literasi konservasi dan jiwa kewirausahaan anak nelayan Galung Tuluk.
Melalui program SIPAMANDAQ BAHARI, Tim PPK Ormawa HIMAIPA berharap anak-anak nelayan memiliki pengetahuan mendalam mengenai konservasi pesisir, mampu menghasilkan produk dari sampah, serta memiliki keberanian untuk mengembangkan kegiatan kewirausahaan berbasis potensi lingkungan setempat.
“Kami berharap kelompok anak nelayan dapat menjadi pelopor dalam menjaga lingkungan pesisir. Mereka tidak hanya memahami pentingnya konservasi, tetapi juga mampu mengembangkan kreativitas dan jiwa kewirausahaan melalui pengolahan sampah menjadi produk yang bermanfaat,” pungkas Kariadi.
Editor: Nurzahira

