Pakaian Adat Bali Hingga Jawa Turut Warnai Pagelaran HUT RI di Unsulbar

Gambar: Civitas Akademika Unsulbar kenakan baju adat di upacara HUT RI ke-74 di pelataran gedung rektorat Unsulbar (17/08/2019).

Jurnalis : Isvani Arief
Editor : Masdin

Unsulbar News, Majene. Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-74 dengan menggelar upacara di pelataran gedung Rektorat, Sabtu (17/08/2019) pagi.

Sesuai arahan Menristekdikti, para Civitas Akademika mengenakan baju adat yang mulai berdatangan sejak pukul 7.00 wita. Dari pantauan Jurnalis Unsulbar News, berbagai pakaian ada dengan motif dan corak beragam yang dikenakan.

Seperti Hendro Sukoco, dosen Fakultas Peternakan yang mengenakan pakaian adat Bali. Terdiri dari udeng (ikat kepala), baju safari (baju kemeja biasa) dan kamen (bawahannya/sarung).

Henro Sukoco dengan baju adat Bali

Kepada Unsulbar News, Hendro kerap ia disapa mengambil inisiatif untuk memakai pakaian tersebut guna memperkenalkan bahwa seperti inilah pakaian adat di Bali.

“Di Sulawesi Barat kan mayoritas adat Mandar, nah saya ingin yang beda, biar mereka tau kalau pakaian Bali ya gini,” ungkap pria usia 27 tahun itu.

Meski berdarah Banyuwangi, Jawa Timur. Ia memilih baju tersebut karena pernah menempuh pendidikan dan hidup di Bali selama 7 Tahun. Berbeda pula dengan yang dikenakan oleh Wakil Dekan (WD) I Fakultas Ilmu Kesehatan, Muhammad Irwan yang terlihat apik memakai baju adat Jawa dengan alasan memiliki filosofi tersendiri.

“Baju tersebut mempunyai filosofi tersendiri. Pertama blangkon atau penutup kepala itu mempunyai makna bahwa seorang laki-laki itu harus berpikir kedepan, luwes dalam berpikir dan berwibawa sebagai pemimpin dan berpikir dingin dalam mengambil keputusan,” jelasnya.

Muhammad Irwan dengan baju adat Jawa

Lebih lanjut, pria ini mengatakan bahwa apa yang ia pakai apa yang menggambarkan seseorang yang selalu memperhitungkan segala perbuatan tanpa merugiakan orang lain serta tidak membedakan dari kasta mana, dengan menjunjung tinggi toleransi dan tepaselira.

Mewakili adat Mandar, Hj Lies Adriani Atjo berharap untuk Indonesia bahwa semoga ragam budaya kita sendiri jangan sampai diklaim oleh negara lain dengan memakai baju adat bangsa.

“Meski kita berbeda, tapi kita tetap satu,” tutup Humas Unsulbar tersebut.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok