Kolom : Pertanian Konsep Caring Bersenyawa dengan New Normal untuk Pertanian Masa Depan

Gambar : Nurmayani

Oleh : Nurmayani

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) telah menetapkan status gawat darurat global untuk wabah virus corona[1]. Wabah virus corona berhasil mengubah tatanan hidup masyarakat dunia, merevisi kebijakan yang telah disusun sebelumnya, memukul rata semua sektor dalam tatanan Negara dan menggantinya dengan era yang yang tidak lagi sama dengan kehidupan sebelumnya. Dunia menjadi waspada akan wabah virus ini. Tidak hanya waspada terhadap penyebaran penyakitnya akan tetapi juga waspada terhadap dampak yang mungkin terjadi terhadap perekonomian dunia. Singkatnya, virus corona menggempur perekonomian dunia hingga semua sektor lain dalam kehidupan seperti sektor pertanian, kesehatan, bisnis, kehidupan sosial dan lain-lain terganggu. Hal ini sesuai dengan kerangka teori yang dikemukakan Karl Marx, bahwa perubahan sosial didorong oleh posisi dan situasi basic structure (ekonomi), sehingga tatanan agama, budidaya, sosial, keluarga, politik, dan lain-lain akan sangat ditentukan oleh basic structure (ekonomi)[2].

Sektor yang terdampak wabah virus corona ini sangat luas hingga pemerintah mulai mengatur ulangkebijakan yang ditempuh agar mengarah dan tepat sasaran berkenaan dengan kondisi dunia sekarang, sesuai ketetapan Inpres Nomor 4 tahun 2020 tentang refocusing kegiatan, realokasi anggaran, serta pengadaan barang dan jasa dalam rangka percepatan penanganan covid-19. Dalam hal ini Presiden Joko Widodo memberikan instruksi kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani agar memfasilitasi revisi anggaran dan Menteri dalam Negeri Tito Karnavian dengan kepala daerah dalam percepatan penggunaan APBD untuk penanganan wabah virus corona[3]. Perubahan kebijakan bukanlah tanpa sebab, namun karena anggaran lebih banyak difokuskan pada sektor kesehatan untuk pencegahan covid-19, sehingga terjadi pengurangan anggaran pada sektor lain. Hal ini membuat sektor lain harus mengarahkan kebijakan yang efektif dan efisien sesuai keadaan pandemi sekarang. Hal tersebut merupakan kebijakan positif yang telah ditempuh pemerintah bagi sektor kesehatan, karena kesehatan adalah sektor pertama yang berperan di garda terdepan dalam masa penanggulangan covid-19. Berbicara penanggulangan covid-19, selain sektor kesehatan kondisi pangan masyarakat juga merupakan hal yang penting.      

Kesehatan dan pertanian merupakan dua sektor yang saat ini menjadi jantung di masa pandemi. Di masa pandemi jika sektor kesehatan berperan di garda terdepan, maka pertanian berperan menjadi sektor pertahanan. Mengutip dari pernyataan presiden RI pertama bahwa soal pangan adalah hidup matinya suatu bangsa, maka sektor pertanian sangat penting dalam menopang pangan nasional. Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organization (FAO) memperingatkan akan terjadi kelangkaan dan darurat pangan di tengah pandemi virus corona (covid-19), pembatasan sosial dan skema penguncian (lockdown) yang diterapkan dibanyak Negara akan mempengaruhi produksi pertanian global[4]. Indonesia adalah salah satu dari beberapa Negara yang menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di masa pandemi.

 Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tersebut dapat berpotensi menghambat sistem pangan di mana salah satu penyebabnya adalah karena terganggunya rantai pasok pada komoditas pertanian. Dampak PSBB tersebut telah membatasi warga yang akan bekerja, bepergian, interaksi sosial, penutupan pabrik hingga munculnya panic buying karena masyarakat berlomba-lomba untuk membeli semua kebutuhan pokok selama work from home sehingga berimplikasi pada kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok[5]. Selain itu, kenaikan harga pada masa pandemi terjadi karena adanya kelangkaan ketersediaan barang di pasaran karena proses distribusi yang terhambat hingga berimbas pada kenaikan harga komoditas. Para petani dan produsen juga telah merasakan perubahan terkait pasokan input dan mereka sebagai bagian dari rantai pasok yang keberadaannya harus tetap ada meskipun pada masa PSBB dan harus menyesuaikan protokol berproduksi untuk menjamin kualitas dan keamanan pangan di tengah pandemi. Mobilisasi bahan pangan juga mengalami beberapa penyesuaian di mana terjadi pola perubahan jalur pasokan yang lebih banyak menuju pasar-pasar modern.

Sementara itu dari sisi konsumsi, konsumen kini lebih cerdas sebab lebih memilih berbelanja secara online untuk menghindari kerumunan di pasar. Meskipun belum semua masyarakat mampu beradaptasi dengan adanya pasar online ini. Namun, sebagian masyarakat mulai terbuka untuk menerima dan menerapkan belanja secara online  terkait keadaan pandemi. Bahkan, republika mencatat terjadi peningkatan belanja daring (online) sebesar 400 persen[6]. Namun, menurut Teten Masduki Menteri Koperasi dan UMKM, yang sudah terhubung dengan penjual melalui sistem digital hanya sebesar 13 persen sementara 87 persen masih menggunakan pemasaran secara offline[7].

Penyebaran covid-19 tidak hanya merubah sistem belanja produk pertanian, namun juga berimbas pada terganggunya ketersediaan dan kenaikan harga pangan pada wilayah terdampak. Daya beli yang semakin lemah di tengah kelangkaan dan meroketnya harga kebutuhan pokok membuat kelompok rentan semakin tidak berdaya. Kelompok rentan tersebut adalah keluarga yang masih dalam taraf kemiskinan. Hal ini penting karena sebagian besar masyarakat petani Indonesia masih berada pada taraf kemiskinan.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dalam Warto (2015), bahwa penduduk seluruhnya sebanyak 237.641.326 jiwa, dari jumlah penduduk tersebut yang miskin mencapai 31.023.400 jiwa (13,33 persen), dan di antara penduduk yang miskin tersebut sebanyak 19.925.600 jiwa (16,50 persen) bermukim di perdesaan yang sebagian bermata pencaharian sebagai petani[8]. Ditambah lagi semakin banyak orang yang terkena PHK (Pemutusan  Hubungan Kerja) karena perusahaan sudah tidak mampu lagi membayar gaji karyawan. Harga kebutuhan pokok merupakan sinyal kunci atas kondisi ketahanan pangan yang tidak stabil ini membawa dampak negatif pada tingkat rumah tangga dan Negara. Pada level yang lebih tinggi dan berbahaya, yaitu perlambatan pertumbuhan ekonomi[9].

Selain karena proses distribusi yang terhambat, masalah lain timbul seiring berbagai masalah sebelumnya. Sebagai contoh, turunnya harga hasil produksi pertanian pada masa pandemi yang merugikan petani, karena terjadinya panen raya pada komoditi tertentu sehingga beberapa pasokan komoditas pertanian melimpah. Komoditas pertanian yang melimpah pada saat pandemi salah satunya komoditas cabai. Pasokan cabai yang melimpah, ketersediannya yang lebih banyak dibanding dengan permintaan pasar, terlebih karena kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga berimbas pada harga komoditas yang murah sehingga beberapa petani tidak mampu untuk membeli benih ataupun sarana produksi untuk memproduksi kembali.

Untuk itu, pemerintah Indonesia menilai perlu menjadikan upaya pemulihan dan penguatan sistem pangan sebagai prioritas utama setelah kesehatan saat ini. Upaya untuk tetap bertahan, sektor pertanian perlu strategi baru dinormal yang baru agar tepat sasaran dalam menghadapi masalah pangan yang krusial di tengah pandemi covid-19. Strategi pertanian yang baru dinormal yang baru harus menempatkan pertanian menjadi sektor yang tahan terhadap segala kondisi perubahan, termasuk pandemi covid-19. Pertanian yang tahan terhadap pandemi akan melahirkan ketahanan pangan (food security). Hal ini karena ketahanan pangan pada masa pandemi menjadi hal yang krusial di masa restriksi pandemi covid-19, bukan hanya persoalan makan untuk bertahan hidup, tapi untuk memenuhi AKP gizi masyarakat agar tidak mudah terserang virus covid-19.

Pemerintah dalam hal ini telah berupaya memperkuat sistem pangan Indonesia, menjaga stabilitas pasokan pangan dan gizi, ketersediaan pangan, stabilitas harga dan daya beli[10]. Ketahanan pangan dinilai menjadi salah satu pertahanan yang paling strategis dalam melawan penyebaran covid-19[11]. FAO menyebutkan sektor pertanian merupakan salah satu sektor terdampak coronavirus yang rentan runtuh. Ketahanan sektor pertanian akan sangat bergantung pada kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan serta perubahan-perubahan yang terjadi.

Tuntutan dan perubahan-perubahan yang terjadi menjadi awal perubahan pada bidang pertanian, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa pandemi covid-19 merupakan waktu yang tepat untuk reformasi sektor pangan. Dalam hal ini pemerintah telah mengalokasikan dana untuk membantu para petani agar tetap bisa memproduksi untuk memenuhi kecukupan pangan[12].

Petani tetap bisa memproduksi di masa pandemi adalah kunci pangan. Karena, jika petani tidak mampu memproduksi hanya karena kekurangan modal maka keberadaan pemerintah dipertanyakan. Oleh karena itu, pemerintah harus aktif dalam membantu permodalan petani. Bukan hanya dari segi permodalan saja, petani dengan segala kondisi yang terpuruk harus merubah landscape bertani pada masa pandemi covid-19, sebab bertani di masa pandemi tidak lagi sama dengan cara bertani sebelumnya. Konsep-konsep pertanian yang mendukung perubahan pada sektor pertanian harus mampu dianalisis oleh berbagai stakeholders.

Konsep pertanian pada masa kini sekaligus bersinggungan dengan masa pandemi adalah pentingnya prinsip sehat dan bergizi tinggi dalam setiap tahap produksi. Konsep caring adalah yang terpenting. Konsep caring yang dimaksud adalah bagaimana kepedulian petani sebagai pemegang kunci dari subsistem produksi, terhadap konsumen yang diterapkan dalam sistem budidaya. Setiap sistem budidaya yang diterapkan adalah budidaya yang sehat. Budidaya yang sehat adalah budidaya yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia dalam setiap subsistem yang dilewatinya mulai dari pengolahan lahan, penanaman, hingga sampai ke tangan konsumen. Konsep pertanian caring akan terfokus pada tiga aspek penting dalam mengembangkan pertanian masa depan yang dapat diterapkan mulai saat ini yaitu profit, people, dan planet.

Profit memberikan arti bahwa setiap proses dalam pertanian menggunakan input yang minimal dan menggunakan sumber daya seperti air dengan hemat demi keberlangsungan kehidupan, namun tetap dapat memberikan hasil yang optimal. Artinya, sumber daya yang ada saat ini harus digunakan dengan bijak agar keberlangsungannya tetap ada hingga generasi yang akan datang. Karena dalam menuju pertanian masa depan, menjaga pertanian agar tetap ada dan produktif untuk generasi selanjutnya adalah hal yang utama diperhatikan. Dari hal tersebut pertanian akan mendapatkan dua hal sekaligus, yaitu mendapatkan profit atau menaikkan kondisi keuangan petani juga ketersediaan Sumber Daya Alam yang berkelanjutan.

Pertanian yang memanfaatkan input sedikit namun optimal akan berdampak pada kesejahteraan petani di pedesaan. Dari penggunaan input yang sedikit namun petani tetap mendapatkan hasil optimal, juga diharapkan ketersediaan sumber daya alam seperti air tetap tersedia secara terus menerus untuk generasi selanjutnya. Terkhusus pada musim kemarau, di mana para petani biasa mengalami gagal panen.

Konsep caring yang kedua yaitu people, yang dimaksud disini adalah petani dan konsumen. Petani dan konsumen adalah pemegang peranan penting yang terletak pada sistem hulu dan hilir pertanian. Kualitas manusia (petani) menjadi hal yang penting, karena petani yang mengelola jalannya pertanian. Pentingnya wawasan petani dalam pertanian yang bersinergi dengan konsep pertanian caring dapat menghadirkan inovasi yang dapat menempatkan pertanian tetap dalam keadaan seimbang di tengah pandemi covid-19 maupun dari tingginya persaingan pasar bebas. 

Untuk itu, wawasan petani sangat perlu dikembangkan untuk menghadapi era baru, wawasan petani akan membawa petani ke era baru untuk meninggalkan pertanian tradisional. Pasalnya, jika petani terus berpegang teguh pada cara tradisional maka petani tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang jumlahnya semakin hari semakin meningkat.

Kualitas petani yang dibuktikan melalui tingginya wawasan petani bertujuan agar petani dapat melek data. Hal ini karena data analytics di masa depan sangat berperan penting dalam proses budidaya, karena berhubungan erat dengan teknologi. Indonesia sebagai Negara agraris yang memiliki lahan sangat luas, saat ini belum digarap dengan maksimal. Dengan hadirnya teknologi yang diserta data analytics indonesia mampu mengoptimalkan hasil panen tiap tahunnya, dan berhak untuk menyandang new swasembada pangan kembali. Meskipun itu perlu melalui proses yang sulit, karenanya berbagai stakeholders dalam pertanian harus mampu berkolaborasi memegang peranannya masing-masing.

Berbagai stakeholders ini berkolaborasi dengan memanfaatkan data analytics karena inti pertanian di era baru dan pada abad 21 adalah pengolahan data. Selain pengolahan data, memperluas pengetahuan dan wawasan petani adalah modal pertanian masa kini terlebih untuk masa depan, hal ini karena petani merupakan bagian terpenting dari rantai produksi pertanian. Petani sudah seharusnya tangguh, dan untuk membangun ketangguhannya para petani selayaknya berwawasan, dan ladang perjuangannya yaitu pertanian juga harus dibangun agar berbasis ilmu pengetahuan. Sehingga petani dan pertanian mampu berkelanjutan dalam mensejahterahkan pembangunan pertanian masa depan. 

Pertanian masa depan yang dikaitkan dengan keberhasilan petani bukan lagi mengenai areal lahan yang luas tapi bagaimana memanfaatkan areal lahan yang sudah ada dan mengoptimalkan hasilnya. Hal ini mampu dicapai ketika petani mampu memperluas pengetahuan serta wawasan petani dalam mengolah lahan pertanian. Memperluas pengetahuan dan wawasan petani dapat direalisasikan dari penyuluh yang membantu petani dalam memperluas pengetahuan sehingga tidak hanya mengandalkan dari pengetahuan tani turun-temurun saja. Selain itu, petani bisa meningkatkan wawasan, memperkuat pengetahuan mengenai pertanian di masa mendatang melalui pelatihan virtual yang sekarang banyak diselenggarakan lembaga-lembaga pertanian termasuk oleh kementerian pertanian, dan perguruan tinggi seperti IPB, UGM dan lain-lain.

Memperkuat pengetahuan petani melalui berbagai pelatihan virtual tersebut agar petani dapat bersenyawa dengan pertanian masa depan, membuka wawasan mereka akan pentingnya beradaptasi agar tidak tergerus oleh perubahan-perubahan yang akan dan yang sudah terjadi seperti dampak covid-19 sekarang. Dengan luasnya wawasan petani, mereka tidak akan terguncang dengan perubahan di masa mendatang, seperti kondisi terpukulnya petani pada awal munculnya wabah covid-19 yaitu kondisi petani yang harus membuang hasil panennya karena merosotnya harga komoditas hortikultura di pasaran. Kondisi seperti itu tidak akan terulang kembali pada masa depan jika petani sudah dibekali wawasan untuk siap berinovasi pada kondisi apapun. 

Petani dengan bekal wawasan akan selalu siap berinovasi dan bersenyawa dengan new normal dan bersenyawa dengan segala perubahan pada sektor pertanian di masa gempuran persaingan global pada sektor pertanian dunia, akan selalu memiliki kebaruan dan keberanian berpikir maju. Memperluas pengetahuan dan wawasan petani adalah modal untuk terus memperkuat posisi di masa kini dan mendatang. Jika tidak, petani harus merelakan hasil panen atau bisnis pertaniannya punah karena kehilangan habitat atau pasarnya hanya karena petani tidak cukup memiliki pengetahuan dan wawasan untuk berinovasi, bersaing dan beradaptasi di era new normal dan globalisasi yang memiliki persaingan ketat pada tingkat nasional maupun internasional.

Petani menjadi tolak ukur yang penting dalam sektor ini, namun konsumen menjadi tolak ukur yang tidak kalah penting.Tuntutan konsumen hari ini berupa pangan sehat atau healthy food menjadi tolak ukur keberhasilan petani di masa new normal, karena perubahan tuntutan yang terus menerus. Seperti keadaan new normal saat ini yang memaksa petani untuk memproduksi makanan sehat untuk menjaga imun di tengah pandemi sebagai pertahanan diri konsumen dari virus covid-19. Artinya Covid-19 juga berdampak pada minat konsumen dalam memilih pangan. Dan keinginan konsumen saat ini yang memilih menerapkan healthy food juga akan berdampak pada pertanian dan sistemnya pada masa depan.Untuk itu sektor pertanian membutuhkan inovasi yang mendukung new normal.Di mana new normal sangat erat kaitannya dengan healthy food dan healthy lifestyle. Perubahan gaya hidup yang mengedepankan healthy food dan healthy lifestyle dengan meninggalkan makanan yang tidak sehat seperti konsumsi makanan instan, akan merubah cara masyarakat dalam menyeleksi pangan untuk dikonsumsi. Cara pandang masyarakat saat ini membuat masyarakat lebih selektif dalam memilih makanan. Hal ini karena mereka ingin tetap mempertahankan daya tahan tubuh atau imunnya dengan baik sebagai langkah pencegahan dari terpaparnya virus corona.

Melangkah pada fokus konsep caring yang ketiga yaitu planet. Dari permintaan konsumen akan pangan yang sehat lahirlah berbagai budidaya yang menyisipkan prinsip healthy food dalam pengelolaannya. Gaya hidup yang sehat berasal dari pangan yang sehat sehingga pangan yang sehat berasal dari tanaman yang sehat. Pertanian harus cepat mengubah sistem budidaya yang diterapkan. Inovasi kebijakan, inovasi lingkungan, inovasi teknologi, inovasi dalam institusi sangat diperlukan guna pertanian masa depan Indonesia dalam mencapai new swasembada pangan yang unggul.

New normal, new swasembada pangan dapat diterapkan melalui inovasi  berbagai riset dan yang dikembangkan oleh lembaga pertanian maupun akademisi sehingga mampu menerapkan teknik budidaya yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan yang kini banyak diadopsi. Seperti teknik budidaya hidroponik, vertikultur, pengembangan biopestisida atau pestisida hayati, pengembangan budidaya maggot dan lain-lain. Meskipun inovasi tersebut masih tergolong sederhana jika dibandingkan dengan budidaya pertanian di Negara maju, namun jika hal tersebut diadopsi dengan baik oleh petani bukan tidak mungkin Indonesia ke depan melahirkan anak-anak muda yang berkarya di sektor ini.

Adopsi inovasi budidaya organik dengan konsep caring akan menghasilkan produk perbaikan ekosistem, di mana dalam sistem pertanian non organik yang menggunakan pestisida dan pupuk kimia akan merubah tatanan ekosistem pada alam. Sistem budidaya organik di mana tanaman dibuat sehat, kuat, dan memenuhi angka kecukupan gizi masyarakat merupakan tujuan tercapainya ketahanan pangan. Menurut Undang-Undang No. 18/2002 tentang pangan, bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya Negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau[13].

Sistem pertanian organik ini merupakan suatu implementasi dari sistem budidaya caring atau peduli terhadap keberlanjutan lingkungan (ekologi), hasil, dan kesehatan masyarakat. Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyatakan konsep pertanian ekologi adalah masa depan sistem pertanian diseluruh dunia. Konsep ini menjadi basis untuk menjamin kesehatan ekosistem serta basis produksi pangan berkelanjutan. Konsep ini cocok  untuk diterapkan oleh petani milenial karena tetap menggunakan basis teknologi dan sains.

Pertanian organik yang membawa konsep caring di masa depan sudah mulai di realisasikan pada masa kini. Hal ini terlihat pada landscape masyarakat terutama milenial dalam memandang betapa pentingnya sektor pertanian dalam menghasilkan produk organik sebagai bagian dari hidup mereka. Isu seperti perubahan iklim, suistanable agriculture, krisis pangan yang dikhawatirkan akan terjadi ikut mendorong semangat masyarakat juga para pemuda milenial dalam menggalangkan konsep-konsep pertanian organik, ramah lingkungan, mudah dipahami dan diadopsi oleh semua kalangan, berbasis ilmu dan pengalaman.

Pertanian organik sangat didukung oleh keadaan darurat covid-19 yang memaksa hampir semua kalangan untuk beraktivitas dan melakukan pekerjaan dari rumah, sehingga untuk mengatasi rasa jenuh sekaligus keinginan untuk mendapatkan pangan yang sehat mereka memulai pertanian mereka dari lahan yang sederhana di halaman rumah mereka. Hal ini sebenarnya tidak jauh dari program kementerian pertanian yaitu mengoptimalkan lahan dan pekarangan dengan tanaman pangan untuk kebutuhan ramah tangga. Dari program ini dinilai dapat menciptakan ketahanan pangan keluarga.

Ketahanan pangan keluarga merupakan pondasi kecil untuk membangun ketahanan pangan nasional. Mengoptimalkan lahan pekarangan atau P2L (Pekarangan Pangan Lestari) bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan pangan rumah tangga, dan meningkatkan pendapatan rumah tangga. Selain itu, bahwa dengan menanam di pekarangan rumah masyarakat tahu kualitas tanaman yang diperoleh karena sudah terjamin tanpa pestisida atau bahan kimia lainnya, jumlah pangan cukup dan memenuhi gizi keluarga. Mengoptimalkan lahan pekarangan mampu membawa Indonesia lebih dekat kepada pertanian berkelanjutan yang memperhatikan aspek-aspek lingkungan. Ketersediaan pangan yang cukup skala rumah tangga, gizi seimbang, imun tubuh baik dapat mencegah dari penyebaran covid-19.

Mengoptimalkan lahan pekarangan ini mampu meningkatkan gizi pada tingkat rumah tangga melalui bahan-bahan makanan yang terdapat di halaman rumah. Sehingga, hal ini memicu untuk semua kalangan mengikuti tren positif di tengah pandemi covid-19 tersebut. Sehingga teknik budidaya tanaman secara hidroponik, vertikultur, akuaponik hingga inovasi terbaru yaitu budidaya ikan dan sayuran dalam ember sekaligus dalam satu waktu, menjadi tren yang tidak hanya memiliki kelebihan dari sisi pangan yang sehat, namun juga perhatian lebih terhadap lingkungan dan keberlanjutan pertanian. Tren budidaya pangan yang sehat di masa pandemi sangat memberikan dampakpositif bagi stakeholders pertanian terutama bagi pelaku bisnis pertanian (agrosociopreneur). Hal ini karena mereka mulai membuka bisnis untuk menyediakan rangkaian bercocok tanam secara hidroponikskala rumah tangga bagi mereka yang tertarik untuk membudidayakan tanaman dari pekarangan rumah. Dari budidaya organik tersebut masyarakat yang kesulitan dalam mendapatkan rangkaian peralatan budidaya hidroponik baik secara akses maupun finansial mereka mulai berpikir kreatif untuk memanfaatkan berbagai barang bekas terutama limbah plastik untuk menjadi media budidaya hidroponik dan mulai meracik nutrisi hidroponik mereka sendiri. Artinya tren budidaya pada masa pandemi selain efektif dan efisien juga dapat dibudidayakan di perkotaan karena tidak memerlukan tanah di mana masalah pertanian perkotaan adalah sulitnya ditemui area lahan atau pekarangan yang subur sebab sudah banyak tercemar oleh limbah industri, selain itu juga dapat dibudidayakan di area lahan yang sempit, mengurangi limbah plastik yang berserakan, minim penggunaan pestisida dan pupuk kimia. Di mana jika tren seperti ini dapat berlangsung baik selama pandemi maupun setelah pandemi pada sektor pertanian Indonesia maka akan memberikan efek yang baik bagi keberlangsungan planet dan keberlanjutan pertanian.

Tren budidaya organik yang memperhatikan keberlangsungan planet mampu menggerus masalah-masalah seperti pekarangan yang sempit, berjibaku dengan tanah di mana bagi sebagian orang terutama kaum milenial tanah merupakan sesuatu yang kotor, kemudian mudahnya mendapat informasi, banyaknya program yang mendukung urban farming mampu mengatasi masalah lahan untuk menghasilkan produk pertanian berkelanjutan di era 4.0.

Era 4.0 untuk memperoleh produk pangan organik dengan tantangannya yang harus mengatasi kemungkinan besar krisis pangan di masa pandemi bukan merupakan hal yang mudah untuk diatasi stakeholders dalam sektor ini. Terlebih pertanian pada masa kini yang dihadapkan dengan tantangan globalisasi, tuntutan ketersediaan pangan di masa pandemi merupakan titik balik yang mampu membuka inovasi yang menjadi dasar pertanian masa depan. Nantinya ketika tuntutan perkembangan inovasi semakin tumbuh, maka akan membantu tumbuhnya sektor pertanian masa depan. Pertanian menggunakan media tanah yang dinilai oleh sebagian kalangan adalah hal yang kotor, tidak adanya lahan sebagai media untuk mendapatkan pangan mandiri, sulitnya mengakses informasi bagi petani merupakan tantangan yang dulu bergema namun sudah teratasi pada masa kini. Artinya, sektor pertanian saat ini sudah mampu melalui berbagai tantangan yang sedikit demi sedikit mulai teratasi.

Pertanian kini melalui pendekatan teknologi lekat dengan para milenial, bisa menjadi peluang regenerasi yang besar di mana petani muda berwawasan luas dan menguasai teknologi akan menjawab tantangan sektor pangan pada masa kini dan mewujudkannya melalui inovasi terbaik pada masa depan. Berbagai teknik budidaya yang menjembatani pertanian masa depan, kini sudah mulai terlihat. Oleh karena itu, pertanian konsep caring di masa pandemi bisa menjadi awal untuk inovasi pangan yang sehat. Dan memastikan setiap budidaya adalah budidaya yang sehat, berkelanjutan, mengganti semua bahan-bahan kimia sintesis dengan bahan-bahan alami yang tidak mengganggu kehidupan mikrobiologi di dalam tanah yang bisa menjadi sumber unsur hara bagi perkembangan tanaman.

Pestisida dan bahan kimia lain yang digunakan dalam pertanian dapat mempercepat penyebaran schistosomiasis, atau penyakit yang melemahkan tanaman yang disebabkan cacing parasit[14]. Selain itu, pestisida pada komoditas hortikultura dapat terserap oleh tanaman, dan terbawa oleh hasil panen berupa residu yang dapat dikonsumsi oleh konsumen lewat makanan, residu pestisida menimbulkan efek yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Komoditas pertanian rendah bahkan tanpa bahan-bahan kimia sintetis akan dapat meningkatkan ekspor ke beberapa Negara yang menerapkan Batas Maksimum Residu Pestisida (BMRP) yang rendah dalam produk dalam negerinya[15].

Batas Maksimum Residu Pestisida (BMRP) dapat dijadikan acuan oleh petani agar produk pertanian yang dihasilkannya dapat di ekspor keluar negeri. Budidaya kini dan nanti yang lekat dengan hal-hal positif terkait keberlanjutan lingkungan atau budidaya caring juga lekatnya modernisasi dengan teknologi mampu menjawab segala tantangan petani terutama dalam masalah lahan dan keberlanjutan lingkungan di masa globalisasi yang sangat tinggi, persaingan ekonomi yang sangat ketat, tuntutan pangan domestik pada masa pandemi dan pasca pandemi. Selain itu, melalui teknik budidaya caring yang berskala lingkungan, sedikit bahkan tidak sama sekali menggunakan bahan-bahan kimia sintesis, lekat dengan teknologi dan sains, mampu mewujudkan kehidupan masa depan yang berbasis healthy food yang dinilai mampu bersenyawa dengan new normal.

Pertanian masa depan berbasis healthy food dan bersenyawa dengan new normal  dimulai pada tingkat petani mulai mendistribusikan hasil panen langsung ke konsumen, sehingga keberlangsungan produk terus ada dipasaran yang mencegah terjadinya kelangkaan pangan yang berimbas pada harga komoditas di pasaran seperti yang terjadi pada masa pandemi. Petani tidak lagi memerlukan tenaga yang banyak namun tetap efisien karena menggunakan teknologi canggih dan lekat dengan hasil yang optimal. Petani tidak memerlukan lahan yang begitu luas namun bisa mengoptimalkan lahan yang sudah dimiliki melalui inovasi budidaya dan teknologi. Inovasi budidaya yang lekat dengan healthy food. Di mana sumber penopang pertumbuhan tanaman yaitu unsur hara di dalam tanah berhasil digantikan oleh media tanam cocopeat, rockwool, arang sekam dan lain-lain, di mana sumber unsur hara berasal dari vitamin yang ditambahkan dalam media. inovasi ini berhasil menarik berbagai kalangan untuk mengadopsi dan menempatkannya di halaman rumah untuk mempraktikkan.

Inovasi budidaya pada masa depan yang dimulai dari halaman rumah saat ini akan mulai maju dan bisa saja berinovasi menjadi pertanian dalam ruangan yang lebih banyak yang memanfaatkan ruangan dengan led sebagai pengganti sinar matahari pasalnya lahan pertanian indoor kini sudah semakin kalah dengan urbanisasi di perkotaan, iklim dan cuaca yang tidak kondusif karena adanya pemanasan global, terlebih kondisi seperti ini didukung oleh keadaan pandemi covid-19 di mana masyarakat sebisa mungkin untuk bekerja dan beraktivitas di rumah saja. Dan budidaya dalam ruangan merupakan solusi sehingga pertanian tetap dapat bersinergi dengan perkotaan.

Namun pertanian dalam ruangan juga harus diselaraskan dengan penggunaan teknologi yang dapat menopang kondisi tanaman dan nutrisi dalam ruangan sehingga inovasi tersebut mampu mengoptimalkan hasil pertanian. Pilihan inovasi tersebut tentunya juga lekat dengan konsep caring,  karena pertanian dalam ruangan tidak banyak menggunakan pestisida kimia. Dan inovasi tersebut didukung oleh stakeholders pertanian terutama pihak pemerintah. Dalam hal ini pandemi covid-19 bisa menjadi faktor pendorong utama untuk mengubah sektor pertanian menjadi berbasis IT. Hal ini karena bukan tidak mungkin IT membantu petani melalui alat dan mesin pertanian canggih untuk mengoptimalkan lahan yang sempit namun tetap dengan hasil optimal. Penggunaan teknologi dalam bidang pertanian sangat diperlukan. Penggunaan teknologi dalam menerapkan Pertanian berbasis IT dinilai akan akan memberikan dampak positif, juga lebih efektif dan efisien, lebih menghemat waktu dan tenaga petani. Untuk menemukan teknologi yang memudahkan petani dalam mengelola sektor pertanian di era 4.0 juga bukan hal yang sulit.

Khoirunnisa dan Kurniawati[16], bahwa pada era industri 4.0 teknologi di bidang pertanian mulai berkembang, mulai dari sebelum penanaman sampai pemanenan. Terlebih saat pandemi maupun pasca pandemi covid-19, teknologi pertanian akan sangat berkembang karena adanya desakan kebutuhan akan inovasi-inovasi teknologi yang sudah ada. Pemerintah harusnya mengkhususkan anggaran untuk pengadaan teknologi seperti yang telah diterapkan di negara maju, baik dalam sistem hulu yang dimulai dari pemetaan wilayah, pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, maupun hilir seperti panen dan pengelolaan pasca panen.

Alat dan mekanisasi pertanian berbasis IT seperti drone, mesin pengolah lahan, selain efektif juga akan membawa dampak positif dalam sistem produksi dan keberlanjutan pertanian. Khoirunnisa dan Kurniawati[17], drone yang digunakan untuk mengaplikasikan pestisida atau pun pupuk pada tanaman, hasil observasi menunjukan penyemprotan pestisida menggunakan drone menjadi lebih efektif dan efisien karena dapat menyemprotkan pestisida ke tanaman yang sesuai dengan yang diinginkan dan masa pengerjaannya bisa lebih cepat dua sampai dua puluh kali lipat.Namun tetap menggunakan pestisida hayati atau biopestisida.

Drone ini akan memudahkan petani dalam melakukan pemeliharaan berupa pengendalian hama dan penyakit dengan menyemprotkan pestisida. Menggunakan drone untuk pemeliharaan tanaman akan lebih cepat dibanding menggunakan tenaga manusia. Untuk 1 ha lahan diperlukan waktu sekitar 10 menit dalam melakukan penyemprotan menggunakan drone. Sehingga, waktu yang diperlukan untuk menyemprot 5 ha lahan hanya berkisar 50 menit[18]. Drone merupakan teknologi dengan kelebihan, diantaranya (1) efisiensi dalam biaya operasi, (2) efisiensi dalam penggunaan air, (3) efisiensi dalam waktu, (4) efisiensi dalam tenaga kerja, dan (5) rendahnya drift (dalam kondisi tertentu)[19].

Penggunaan teknologi pada tingkat produksi juga harus diimbangi dengan keberadaan pemerintah dalam menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung jalannya proses produksi. Meningkatkan fasilitas produksi seperti mesin dan peralatan lainnya adalah hal penting untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia tanpa melakukan impor. Oleh karena itu, penting untuk membangun sistem rantai pasok pangan lokal, dengan cara merekayasa konsumen atau mengubah pola konsumsi konsumen dengan pangan lokal yang lebih sehat sehingga memberikan impact pada sisi hulu untuk memproduksi pangan lokal[20]. Karena hampir seluruh Negara di dunia  berusaha untuk memenuhi kebutuhan pangan domestiknya sendiri karena jalur perdagangan Internasional terganggu[21].

Pertanian berbasis IT agar optimal penggunaannya tidak hanya dalam proses produksi saja seperti drone maupun mekanisasi pengolahan lahan, namun keberadaan teknologi ini akan lebih mengoptimalkan hasil jika penerapannya mulai dari sektor hulu hingga hilir. Jika sektor hulu atau produksi sudah optimal dalam pengelolaan pertanian berbasis IT, maka sektor hilir juga harus terkena dampak dari teknologi, pasalnya jika tidak maka pertanian Indonesia akan tertinggal dari Negara lain yang sudah jauh memanfaatkan teknologi yang ada pada era 4.0 pada sektor pertaniannya. Sektor hilir yang dimaksud adalah pada tahap panen, pasca panen, hingga pemasaran produk pertanian.

Inovasi dari tahap panen yang dapat dilakukan oleh petani agar dapat bersenyawa dengan new normal salah satunya adalah menerapkan konsep panen langsung dari tempat budidaya. Dari konsep tersebut konsumen dapat memetik sayur ataupun produk hortikultura lainnya langsung dari tempat penanaman atau budidaya organik. Hal ini agar meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap suatu produk atau komoditi yang dibudidayakan petani, bahwa budidaya yang diterapkan adalah budidaya organik yang tentunya akan menghasilkan healthy food, sesuai minat konsumen saat ini. Melalui konsep petik langsung dari tempat budidaya selain konsumen mendapatkan kepuasan karena telah mendapatkan sayuran dengan konsep budidaya caring, petani juga dapat menambah profit  melalui penerapan tiket masuk kepada setiap pengunjung.

Inovasi lainnya sebelum produk pertanian sampai pada tangan konsumen, dapat diterapkan pada strategi penjualan. Strategi penjualan dan sasaran pasar yang baru (online) memaksa petani untuk harus berpikir kreatif, karena sasaran penjualan kini adalah konsumen langsung. Tidak melalui perantara atau pengepul. Artinya petani harus menarik konsumen bukan hanya dari produk sehat bermutu tinggi namun juga dari segi penyajian produk atau kemasan. Berawal dari new normal ini petani harus mengubah kemasan penjualan atau Re-packaged yang semula biasa saja menjadi berwawasan lingkungan dan menarik minat konsumen. Re-packaged dapat menjadi kunci keberhasilan dari strategi penjualan, karena hal pertama yang dinilai oleh konsumen pasar online maupun offline adalah penyajian produk atau kemasan. Kemasan yang menarik, ramah lingkungan dan berdaya guna akan mendapat nilai lebih di mata konsumen sehingga tertarik untuk membeli produk.

Kemasan dapat menjadi kunci keberhasilan tahap pemasaran. Karena pemasaran menjadi tahap akhir yang sangat penting, hal ini karena pemasaran merupakan faktor penentu keberhasilan tiap tahapan yang telah dilewati petani dalam membudidayakan suatu komoditi. Keadaan seperti dampak wabah covid-19 inilah di mana wawasan petani sangat dibutuhkan pada tingkat pemasaran agar tercapai target penjualan. Inilah fungsi dari pertanian berbasis IT dan wawasan petani pada sektor hilir atau pemasaran. Sehingga mampu memberikan inovasi kemasan pada produk pertaniannya. Selain itu, memanfaatkan IT pada tahap pemasaran ini juga dapat dilakukan dengan mengoptimalkan desa untuk pusat aktivitas penjualan online.

Menurut Perdana, bahwa untuk mendukung aktivitas penjualan di desa terlebih pada masa new normal perlunya pengadaan packing house yang dijalankan oleh anak-anak muda di desa[22]. Melalui packing house diharapkan penjualan secara online seperti penggunaan aplikasi pemasaran pada sosial media dan e-commerce pertanian dapat menciptakan kemasan produk bernilai tinggi dan ramah lingkungan, sehingga dapat lebih efektif dalam proses pemasaran pada konsumen karena kemasannya yang menarik.

Dari uraian sebelumnya, terkait pertanian masa kini dan masa depan indonesia sebagai Negara berkembang, masih terdapat banyak kendala dalam pengembangan sektor pertanian menjadi sektor yang lebih maju, banyak yang harus dibenahi dari hulu hingga hilir sektor ini. Maka, semua stakeholders harus sadar dan segera membenahi hal yang salah. Dari uraian sebelumnya, banyak hal yang bisa dimulai untuk dibenahi saat ini, yang dimulai dari kesadaran setiap masyarakat, diantaranya:

Pertama, petani dan pertanian harus menjadi stakeholders yang siap untuk beradaptasi. Kontribusi teknologi dan inovasi dalam pertanian Indonesia masih sangat sedikit. Meskipun smart farming dan teknologi pertanian canggih seperti pada Negara maju untuk saat ini Indonesia belum mampu mengadopsi sepenuhnya, namun diharapkan Indonesia mampu beradaptasi sehingga pertanian masa depan di Indonesia yang maju bukanlah bayangan. Upaya percepatan transformasi teknologi dan inovasi mutlak diperlukan untuk mengejar ketertinggalan guna mewujudkan pertanian yang berbasis teknologi dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing[23].

Pemerintah Indonesia sudah saatnya mulai menerapkan berbagai inovasi di bidang pertanian melalui pendekatan teknologi agar dapat menarik generasi milenial untuk masuk dalam sektor pertanian. Hal tersebut dapat mengatasi masalah regenerasi petani. Petani milenial saat ini yang mulai berminat untuk menekuni bidang pertanian cenderung banyak berkontribusi dari segi hilir atau pemasaran di mana sudah mulai banyak  startup atau e-commerce yang didalangi oleh anak-anak muda. Diharapkan anak-anak muda tidak hanya aktif sebagai penyedia atau membantu sarana penjualan bagi petani dalam memasarkan produknya, namun juga mampu memberikan kontribusi dari segi hulu, di mana sangat dibutuhkannya sentuhan teknologi dalam sistem produksi dan regenerasi petani saat ini. 

Kehadiran para milenial dalam sektor ini diharapkan akan berkontribusi melalui inovasi sehingga inovasi tidak hanya mengandalkan SDA saja. Karena menurut data bahwa Indonesia pada tahun 2018, tingkat inovasinya hanya sebesar 1%[24]. Artinya petani dan pemerintah Indonesia hanya memanfaatkan Sumber Daya Alam kemudian hasilnya diekspor tanpa inovasi. Sedangkan Negara lain mendapatkan bahan baku dari Indonesia kemudian melalui teknologi inovasi mereka mampu menghasilkan barang jadi berbasis industri yang akhirnya dijual ke Indonesia kembali.

Kedua, mindset harus luas, menanamkan stigma pertanian pada anak-anak muda sehingga lahir perilaku baru anak-anak muda. Perilaku baru anak-anak muda diharap dapat menciptakan ekosistem inovasi yang terdiri dari ekosistem, riset dan komersialisasi[25]. Wawasan milenial sangat dibutuhkan untuk hilirisasi riset, agar Indonesia mampu mengolah hasil pertaniannya sendiri melalui inovasi dan teknologi. Kiprah petani milenial adaptif teknologi mewujudkan pertanian modern berkelanjutan dari segi hulu hingga hilir, sehingga akan memberikan impact yang positif bagi sektor pertanian.

Ketiga, sistem online dan startup harus menjadi bagian dari pertanian. Pertumbuhan dunia iklan berbasis internet atau e-commerce, berkembang sangat pesat dalam dua puluh tahun terakhir. Tren ini yang akan mengubah sektor pertanian dalam memasarkan produknya. Dan hal ini mulai direalisasikan di Indonesia sejak adanya pandemi virus corona.

Keempat, robot construction harus menjadi bagian dari sector pertanian. Petani milenial yang tidak bisa lepas dari internet dan teknologi diberikan edukasi agar dapat menerapkan IoT (Internet of Things) pada sektor pertanian. Sehingga, anak-anak muda dan pertanian masadepan dapat bersinergi agar Indonesia mampu menguasai pertanian dengan remote control dan monitoring dari smartphone.

Kelima, membangun sistem rantai pasok pangan lokal. Pangan lokal tidak boleh luput dari pembangunan pertanian, mengoptimalkan pangan lokal artinya Indonesia dapat meminimalkan impor. Petani senior dan petani junior diharapkan tidak anti dalam hal impor pangan, namun dengan jaminan tetap terus mengoptimalkan hasil pertanian terutama pangan lokal. Jadi, Indonesia tidak anti impor, namun bila mampu memproduksi produk lokal dengan berdaya saing Indonesia tidak perlu impor

Keenam, perlindungan pada petani, dalam hal kesehatan dan kesejahteraan. Indonesia dalam masa pandemi covid-19 harus memperhatikan kondisi kesehatan petani. Meskipun dalam keadaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) petani harus tetap bekerja demi keberlanjutan pangan. Petani sebagai aktor utama dalam stakeholders pertanian harus dalam kondisi kesehatan yang optimal dalam melakukan proses produksi hulu hingga hilir. Hal ini karena petani bekerja untuk penyediaan pangan, sehingga pemerintah harus memastikan bahwa pangan dan penghasil pangan dalam kondisi terjamin kesehatannya. Dalam hal kesejahteraan, pemerintah harus memberikan insentif pada kebutuhan sektor ini, paling tidak dalam hal kebijakan agar petani dapat keluar dari keadaan kemiskinan. Hal ini dapat ditempuh melalui pemberian insentif bantuan modal kepada petani seperti KUR, koperasi, dan lain-lain yang tepat sasaran. Lembaga-lembaga pemberi modal kepada petani juga harus beradaptasi dengan era baru, seperti era 4.0 melalui kreatifitas dan inovasi agar mampu masuk pada kalangan anak muda.

Menurut menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Indonesia Teten Masduki bahwa sangat penting koperasi menunjukkan kemampuan inovasi dan kreativitas agar menjadi pilihan lembaga keuangan yang rasional, juga mampu beradaptasi dengan sistem digital agar tidak tertinggal dan dapat menyasar generasi muda[26]. Koperasi atau lembaga pembiayaan yang mampu bersenyawa dengan new normaldan era 4.0 akan mendorong bisnis menjadi lebih efektif dan efisien serta akses pembiayaan akan lebih mudah[27]

Beberapa hal diatas dapat ditempuh melalui langkah awal yang paling dasar yaitu transformasi dan inovasi teknologi dengan tujuan agar dapat menarik generasi milenial. Generasi milenial sebagai sasaran dari pengembangan sektor pertanian adalah karena latar belakang regenerasi petani yang masih sangat kurang dalam sekor ini. Langkahnya adalah intervensi pertanian baru dengan mengubah stigma kaum milenial terkait sektor pertanian yang kotor dan cenderung miskin, kemudian berbagai stakeholder dalam sektor ini ambil bagian untuk memberikan edukasi pada petani junior dalam hal ini anak-anak muda untuk mendorongnya menciptakan inovasi dan wawasan yang luas. Dengan hal tersebut banyak anak-anak muda yang akan tertarik dengan sektor pertanian, karena generasi muda sangat erat kaitannya dengan teknologi. Petani muda indonesia diharapkan mampu bergerak cepat dan berperan aktif menciptakan inovasi dalam sektor ini.

Terutama pada masa pandemi inovasi pertanian sangat dibutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Inilah salah satu fungsi wawasan petani yaitu agar mampu beradaptasi disemua kondisi. Petani yang berwawasan akan mudah beradaptasi dan selalu mencari peluang dengan disiplin tinggi guna menciptakan inovasi. Salah satu keadaan yang dapat dijadikan sumber lahirnya inovasi dalam bidang pertanian yaitu keadaan PSBB dan gaya hidup sehat. Dari hal tersebut petani yang berwawasan luas akan cepat mengubah arah bisnisnya menjadi solusi dari keadaan PSBB dan menghasilkan makanan dari produksinya yang berbasis healthy food. Petani yang memiliki kebun produksi hortikultura maupun pangan yang awalnya membawa langsung hasil pertaniannya ke pasar, dapat merubah orientasi pasarnya menjadi berbasis online. Hal ini juga sejalan dengan strategi kementerian pertanian dalam menanggapi dampak covid-19 terhadap rantai pemasaran produk pertanian, yaitu melalui strategi menciptakan efisiensi rantai pemasaran produk pertanian dan keberpihakan pada pasar petani.

Sebagai contoh, dalam hal ini pemerintah telah menggandeng beberapa startup yang bergerak di bidang penjualan online. Seperti, Sayur Box, Tani Hub, Kedai Sayur untuk memasarkan hasil panen petani hingga ke konsumen. Tujuannya untuk memudahkan petani dalam menjual dan mendistribusikan produknya dengan rantai pasok yang minim sehingga harga stabil, selain itu memudahkan konsumen memperoleh kebutuhan pangan dari rumah[28].

Beberapa sinergi yang telah diupayakan pemerintah, seperti menggandeng startup untuk memudahkan sistem pemasaran langsung ke konsumen merupakan satu dari beberapa kebijakan pemerintah yang telah ditempuh. Selanjutnya, pemerintah diharapkan terus mengupayakan kebijakan yang mampu mendukung keberhasilan di sektor ini. 

Terakhir, adanya wabah covid-19 menyadarkan akan peran pertanian terhadap kehidupan. Di mana pertanian adalah sektor yang mampu bertahan di tengah pandemi dan di tengah berbagai tekanan. Petani dan pertanian yang mulai mampu bersenyawa dengan new normalkini bersiapuntuk membangkitkan sektor pertanian Indonesia, hingga pertanian Indonesia bangkit dan memiliki daya saing yang mampu bersaing dengan Amerika, dan China. Kebaruan dan keberanian berpikir maju petani saat ini, dalam memperbaruibisnis pertaniannya menjadi berbasis digital dan organik atau mengutamakan kesehatan dan transfer teknologi meskipun belum mampu sepenuhnya dapat mengantarkan Indonesia pada pertanian masa depan.

Keberlangsungan pertanian masa depan dengan mengadakan pertanian dengan konsep budidaya caring yang akan menghasilkan tanaman yang sehat, ramah lingkungan, dan memenuhi nilai kecukupan gizi adalah kuncinya. Konsep budidaya caring disebut sebagai kunci, karena konsep pertanian ini adalah konsep pertanian yang menghormati seluruh kehidupan terutama makhluk hidup dan lingkungan. Konsep caring sendiri dalam budidaya, dipresentasikan dengan sistem pertanian yang melaksanakan pengurangan input terhadap bahan-bahan kimia, efektif dan efisien, pemeliharaan kesuburan tanaman dengan menambahkan nutrisi tanaman, berlanjut secara ekologi dan ekonomi.

Sebagai catatan penutup, pertanian untuk masa depan harus mampu bersinergi dalam keadaan apapun dan di era manapun. Petani dengan bekal wawasan yang mampu mengolah subsistem hulu hingga hilir dengan konsep caringnya, pemerintah dengan sistemnya, juga milenial dengan teknologinya harus mampu berkembang lebih dari sektor pertanian Negara maju atau mengimbanginya.


[1] Budiyanti, E. 2020. Dampak Virus Corona Terhadap Sektor Perdagangan dan Pariwisata Indonesia. Jurnal Bidang Ekonomi dan Kebijakan Publik, Vol. 12 (4): 19-24.

[2] “Sosiovirologi (1): Perubahan Sosial Akibat Pandemi Covid-19”, 19 April 2020 https://ibtimes.id/sosiovirologi-1-perubahan-sosial-akibat-pandemi-covid-19/

[3] “Jokowi Minta Mendagri Tegur Kepala Daerah Belum Alokasi Anggaran Untuk Corona”, 14 April 2020 https://m.liputan.com/news/read/4227055/jokowi-minta-mendagri-tegur-kepala-daerah-belum-alokasi-anggaran-untuk-corona.

[4] Yunita. F.Y. 2020. Ketahanan Pangan pada Masa Pandemi Covid 19 Khususnya Di Wilayah Kepulauan Riau, https://www.researchgate.net/publication/341626880_Ketahanan_Pangan_Pada_Masa_Pandemi_COVOD_19_Khususnya_Di_Wilayah_Kepulauan_Riau

[5] Kementerian Pertanian. 2020. Buletin Perencanaan Pembangunan Pertanian,  Vol. 1(2): 1-74.

[6] “ Penjualan Daring Naik 400 Persen Selama Pandemi”, 22 Mei 2020 https://m.republika.co.id/berita/qapi4h459/penjualan-daring-naik-400-persen-selama-pandemi

[7] “MENKOP Minta UMKM Bertransformasi ke Layanan Digital”, 30 Juni 2020 https://m.trubus.id/baca/37356/menkop-minta-umkm-bertransformasi-ke-layanan-digital

[8] Warto. 2015. Kondisi Kemiskinan Petani dan Upaya Penanggulangannya. Jurnal PKS, Vol. 14(1): 20-29.

[9] “Menanti Kebijakan Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi Covid-19”, 15 Mei 2020 https://www.politik.lipi.go.id/kolom/kolom-2/politik-nasional/1397-menanti-kebijakan-ketahanan-pangan-di-tengah-pandemi-covid-19

[10] www.pertanian.go.id

[11] www.pertanian.go.id

[12] www.pertanian.go.id

[13] Afa, L. 2020. Suatu Solusi Mewujudkan Ketahanan Pangan Berskala Rumah Tangga Masa Pandemi Covid-19. Disampaikan Pada Kajian Online BEM FP UHO.

[14] “Studi Pestisida dan Bahan Kimia Pertanian, Tingkatkan Penyebaran Penyakit Schistosomiasis”, 20 Juli 2020 https://m.trubus.id/baca/37583/studi-pestisida-dan-bahan-kimia-pertanian-tingkatkaan-penyebaran-penyakit-schistosomiasis

[15] “Kementan Kembangkan Pertanian Ramah Lingkungan Melalui Aplikasi Biopestisida”, 21 Juli 2020 https://m.trubus.id/baca/37589/kementan-kembangkan-pertaniaan-ramah-lingkungan-melalui-aplikasi-biopestisida

[16] Khoirunisa, H., Kurniawati, F. 2019. Penggunaan Drone dalam Mengaplikasikan Pestisida di Daerah Sungai Besar, Malaysia. Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat, Vol. 1(1): 87-91.

[17] Khoirunisa, H., Kurniawati, F. 2019. Penggunaan Drone dalam Mengaplikasikan Pestisida di Daerah Sungai Besar, Malaysia. Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat, Vol. 1(1): 87-91.

[18] Khoirunisa, H., Kurniawati, F. 2019. Penggunaan Drone dalam Mengaplikasikan Pestisida di Daerah Sungai Besar, Malaysia. Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat, Vol. 1(1): 87-91.

[19] Dadang. 2019. Formulasi Pestisida untuk Drone disampaikan pada Seminar Nasional Penggunaan Drone dalam Bidang Perlindungan Tanamandalam Rangka menuju Industri Pertanian 4.0 di Indonesia. 5 Agustus 2019, Bogor (ID): ISSAAS Indonesia Chapter.

[20] Perdana, T. 2020. Bisnis Pertanian Pasca Pandemi. Disampaikan Dalam Webinar PATANI dan UNPAD. 

[21] Hirawan, F.B., Verselita, A.A. 2020. Kebijakan Pangan di Masa Pandemi. CSIS Commentaries DMRU-048-id

[22] Perdana, T. 2020. Bisnis Pertanian Pasca Pandemi. Disampaikan Dalam Webinar PATANI dan UNPAD.

[23] Simarmata, T. 2019. Percepatan Transformasi Teknologi dan Inovasi dalam Era Smart Farming dan Petani Milenial untuk Meningkatkan Produktivitas, Nilai Tambah dan Daya Saing Pertanian Indonesia. Makalah pada Rangkaian Seminar/Kuliah Umum 17 Januari 2019 Faperta Udayana.

[24] Simarmata, T. 2019. Percepatan Transformasi Teknologi dan Inovasi dalam Era Smart Farming dan Petani Milenial untuk Meningkatkan Produktivitas, Nilai Tambah dan Daya Saing Pertanian Indonesia. Makalah pada Rangkaian Seminar/Kuliah Umum 17 Januari 2019 Faperta Udayana.

[25] Perdana, T. 2020. Bisnis Pertanian Pasca Pandemi. Disampaikan Dalam Webinar PATANI dan UNPAD.

[26] “Kementan Kembangkan Pertanian Ramah Lingkungan Melalui Aplikasi Biopestisida”, 21 Juli 2020 https://m.trubus.id/baca/37589/kementan-kembangkan-pertaniaan-ramah-lingkungan-melalui-aplikasi-biopestisida

[27] “MENKOP Minta UMKM Bertransformasi ke Layanan Digital”, 30 Juni 2020 https://m.trubus.id/baca/37356/menkop-minta-umkm-bertransformasi-ke-layanan-digital

[28] www.pertanian.go.id

Penulis adalah mahasiswa Prodi Agribisnis Unsulbar

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok