
Jurnalis : Hasriani
Editor : Masdin
Unsulbar News, Majene. Pembelajaran jarak jauh, stratifikasi sosial kota dan desa menjadi tema yang dibahas dalam ngobrol santai yang berlangsung di Rumah Teduh, Jumat (25/9/20) sore.
Kegiatan tersebut menghadirkan As’Ad Sattari (Ketua Ikatan Guru Indonesia Sulbar), Isvani Arief (Best Pendidikan Putri Sulbar 2020), Alfarhat Kasman (Agora Institute) dan Wahdania (LKIM-Pena Unismuh) sebagai narasumber.
Dalam ngobrol santai itu, menguraikan beberapa dampak pembelajaran jarak jauh terhadap stratifikasi sosial dan pendidikan di desa dan kota. Dimana salah satu dampaknya ini menimbulkan ketidakadilan bagi pelajar di pedesaan.
Sebagaimana tanggapan yang diberikan oleh As’Ad Sattari. “Dampaknya akan semakin berpotensi timbul sebuah sistem pendidikan yang tdk berkeadilan, terutama soal sarana dan pemberian pulsa data. Bagi siswa di pedesaan yg tdk punya akses internet kan akan menjadi soal,” tuturnya.
Hal serupa dikatakan oleh Darmansyah, selaku penyelenggara dan pemilik rumah teduh saat dikonfirmasi mengenai tujuan diadakannya ngobrol santai.
Ia mengatakan salah satu tujuan kami yaitu agar narasumber dan audiens mampu melihat apa yang menjadi problem dari pembelajaran jarak jauh, dengan memiliki banyak perbedaan penerapannya di desa dan kota.
Mengingat hampir satu semester kemarin penerapan pembelajaran jarak jauh ini memiliki beberapa kendala terutama pelajar di bagian perdesaan seperti akses jaringan internet, daya beli kuota internet, dan kurangnya pemahaman pelajar dengan pembelajaran yang di berikan (materi) oleh tenaga pengajar. “Nah dari 3 problem tersebut sudah jelas ketimpangan antara pelajar yang ada di kota dan di desa,” terangnya.
Selanjutnya, ia juga menambahkan sistem pembelajaran yang diterapkan di era pandemi Covid-19 ini, bisa jadi akan menjadi sistem pembelajaran yang akan dikembangkan.
“Pembelajaran Jarak jauh adalah sistem yang baru di terapkan di era pademic covid-19 dan tidak lain tidak mungkin ini akan menjadi sistem pembelajaran yang akan di kembangkan ke depannya,” lanjut Darmansyah.
Adapun harapan disampaikan oleh Isvani Arif, sangat menekankan peningkatan mutu pendidikan anak bangsa di kota dan di pedesaan sama-sama diperhatikan.
“Pendidikan yang hanya terpusat atau terfokus di daerah perkotaan atau yang mudah terjangkau merupakan permasalahan utama di Indonesia. Sementara di daerah terpencil atau daerah perbatasan justru kurang perhatian,” tutur mahasiswi Unsulbar itu.
“untuk pendidikan kedepan ini menjadi tantangan untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-anak bangsa, bukan hanya yang menempuh pendidikan di perkotaan saja, tapi di pedesaan,” tambahnya.
