
Penulis: Shelynda Trifebriani Nursalam
Unsulbar News, Majene– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Posko Barane, Kelurahan Baurung mengadakan Seminar Pemasaran Garam, Minggu (27/2/2022) sore.
Berlangsung di Aula Kelurahan Baurung, Kecamatan Banggae Timur tersebut menghadirkan narasumber Ir. Awiyanto, MM selaku Kepala Proyek Sakera PT. Garam (Persero).
Seminar ini membahas mengenai standarisasi kelayakan garam ekspor sebagai penyandang ekonomi masyarakat pesisir.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk dukungan pengolahan potensi garam masyarakat pesisir Kelurahan Baurung.
Sehingga Mahasiswa KKN Perikanan Unsulbar mengadakan program seminar yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat atas potensi daerah yang memiliki peluang besar jika dikembangkan dengan semangat, teliti, dan sabar.
Pada tahun 2021, kebutuhan total garam nasional mencapai 4,5 juta ton. Ini disampaikan langsung oleh Ir. Awiyanto, MM. Dimana kebutuhan garam konsumsi dapat terpenuhi dengan hasil produksi dalam negeri, sedangkan kebutuhan garam industri dapat terpenuhi dengan sistem impor.
Cukup memprihatinkan, padahal wilayah Indonesia sebagian besar adalah lautan. Namun ternyata, tidak semua wilayah dapat digunakan sebagai tempat penggaraman. Keberhasilan produk garam tergantung dari beberapa faktor seperti iklim, struktur tanah, dan konsentrasi air laut.
Sedangkan kondisi air laut Majene sudah cukup bagus untuk memproduksi garam. Namun penelitian masih terus dilaksanakan guna menghasilkan produk garam terbaik untuk masyarakat.
Jika melihat posisi laut majene yang memiliki garis pantai cukup panjang, yaitu 125 km² dan luas laut 13.124 km². Seharusnya dapat di derek sebaik mungkin untuk bisa menghasilkan produk garam lokal yang berkualitas.
Adapun Hasbi, selaku petambak garam berharap kegiatan-kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan agar lebih banyak masyarakat menyadari potensi garam yang ada di daerahnya sendiri.
“Teman-teman kami itu kurang menyadari dan terinspirasi dengan garam ini”, ungkapnya.
Menurutnya, teman-temannya kurang sabar karena harus menunggu cukup lama dalam proses produksi.
Sehingga saat ini Hasbi beserta 5 orang temannya masih terus berupaya untuk mengembangkan tambak garam agar masyarakat dapat melihat hasil.
Akhirnya dapat menggugah semangat serta keinginannya untuk mengelola potensi yang ada di daerah mereka dengan baik.
(Penulis merupakan mahasiswa Agribisnis, 2021)

