
Penulis : Mulki
Editor : Masdin
Unsulbar News, Majene — Mahasiswa Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) melakukan kunjungan ke tempat bersejarah di Majene, Sabtu (03/12/2022).
Mahasiswa HI angkatan 2022 ini mengunjungi Museum Mandar Majene, berlokasi di Jln Raden Suradi, Pangali-Ali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
Museum ini menghimpun 1300 koleksi dan hanya 10 jenis koleksi yang di pamerkan. Koleksi tersebut dibagi menjadi koleksi arkeolog, mata uang, etnografi, pinologi, naskah kuno, naskah tua, histografi, koleksi tradisional, koleksi modern, dan koleksi biologi.
Selain di Majene, mereka juga datang ke Makam Todzilaling, di Desa Napo, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Tempat ini dikenal sebagai salah satu tempat sakral dan merupakan salah satu destinasi wisata. Merupakan makam raja pertama kerajaan Balanipa yang merupakan ketua dari tujuh kerajaan pesisir yang ada di tanah Mandar.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika berziarah ke makam, dan ini merupakan bukan suatu larangan melainkan himbauan atau petunjuk dan merupakan petuah petuah yang turun temurun. Hal ini menandakan akan tingginya adat istiadat yang ada pada suatu daerah.
Himbauan tersebut antara lain memakai sarung (lipa’ sa’be), melepas alas kaki, bagi perempuan yang berhalangan (haid) tidak di perbolehkan mendekati area pohon, tidak buang sampah sembarang, meludah sembarangan, mengganggu tanaman ataupun batu yang ada di sekitar makam dan berkata kasar/kotor semberono.
Juru makam, Muh Adam menuturkan, himbauan tersebut mengajarkan akan pentingnya nilai kesopanan, moral, etika, dan sebagai suatu kehormatan dan penghargaan pada penghuni makam.
Lebih lanjut, ia merespon positif kunjungan dari mahasiswa HI Unsulbar tersebut.
“Ya harapan saya sih tentu sebagai pelanjutlah istilahnya budaya budaya yang ada bagi mahasiswa, dan banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran dari kunjungan seperti ini,” kata Adam.
Secara terpisah, dosen Unsulbar Dalif kepada Unsulbar News mengatakan kunjungan dilakukan tindak lanjut dari mata kuliah Sejarah Sosial Politik Indonesia. Selain itu juga menjadi sarana mengenal budaya dan sejarah lokal yang ada di tanah Mandar.
“Mahasiswa harus didekatkan dengan lingkungan sosial dimana universitas kita berada dan tidak hanya di ruangan saja, tapi mata kuliah yang berhubungan dengan sejarah di bawah ketempat tempat bersejarah sebagai bentuk nilai budaya yang harus dijaga,” ungkap Dalif.
Sebagai dosen, dirinya berharap kegiatan praktek atau studi lapangan seperti ini bisa berkelanjutan dilaksanakan di kampus.
“Karena mahasiswa lebih bisa mendapat ilmu pengetahuan tidak hanya di kelas, namun dosen bisa menambahkan pengetahuan mahasiswa di luar bekerja sama dengan masyarakat setempat,” pungkasnya.

