Yosias Balka, Wisudawan Unsulbar Asal Pegunungan Bintang Papua, Raih Gelar Sarjana Pertama di Keluarga

Sumber Foto: Unsulbar News/Nurzahira

Jurnalis: Nur Arifah

Unsulbar News, Majene – Perjalanan menuju bangku wisuda menjadi momen penuh makna bagi Yosias Balka, wisudawan Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), angkatan 2022. Berasal dari Kampung Mikir, Distrik Awinbon, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua, Yosias berhasil mewujudkan impian menjadi sarjana pertama di keluarganya melalui perjuangan panjang sebagai mahasiswa perantau dan penerima Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik).

Di balik senyum yang menghiasi prosesi wisuda, tersimpan kisah perjuangan seorang anak dari wilayah timur Indonesia yang rela menempuh ribuan kilometer demi menggapai pendidikan tinggi. Bagi Yosias, Unsulbar bukanlah kampus yang sejak awal menjadi pilihannya. Namun, ia percaya bahwa setiap kesempatan yang datang merupakan jalan terbaik yang telah dipersiapkan untuknya.

“Sebenarnya Unsulbar bukan menjadi opsi atau alasan saya, namun rezeki saya di Unsulbar untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA 2019. Saat mendapatkan Beasiswa Afirmasi, saya ditempatkan di Unsulbar, suka maupun senang saya tetap memilih Unsulbar menjadi tempat untuk menimba ilmu. Harapan saya pertama kali datang ke Unsulbar adalah untuk mewujudkan mimpi orang tua saya, yaitu menjadi satu-satunya sarjana di keluarga, dan harapan itu bisa saya wujudkan. Namun ini bukan akhir dari harapan saya, ada harapan yang lebih besar lagi untuk diwujudkan di kemudian hari,” ungkapnya.

Harapan tersebut kini telah terwujud. Namun bagi Yosias, keberhasilannya meraih gelar sarjana bukanlah garis akhir, melainkan awal untuk menggapai cita-cita yang lebih besar. Ia ingin terus berkembang dan memberikan manfaat bagi keluarga, daerah asal, serta masyarakat luas.

Kesempatan menempuh pendidikan tinggi tidak lepas dari peran Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) yang diterimanya. Program tersebut menjadi penopang utama selama menjalani studi, terutama karena kondisi keluarganya yang memiliki keterbatasan ekonomi.

“Beasiswa Afirmasi menjadi solusi terbaik buat saya sebagai seseorang yang kehilangan ayahnya dan hanya memiliki ibu, yang berperan sebagai ibu rumah tangga. Sehingga Beasiswa Afirmasi ADik merupakan satu-satunya jalan untuk saya jalankan,” jelasnya.

Tantangan sebagai Mahasiswa Perantau

Menjadi mahasiswa perantau dari Papua tentu menghadirkan berbagai tantangan. Selain harus beradaptasi dengan lingkungan baru, ia juga dituntut untuk mampu menghadapi berbagai persoalan secara mandiri. Meski demikian, pengalaman merantau sejak duduk di bangku SMA membantunya melewati proses tersebut hingga berhasil menyelesaikan pendidikan.

“Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah diri saya sendiri, karena semua tantangan yang saya hadapi adalah pilihan saya sendiri, dan tantangan itu bisa saya lewati dengan baik. Satu hal yang menjadi tantangan saya adalah beradaptasi dengan lingkungan, walaupun begitu saya mampu melewatinya karena sejak SMA saya sudah merantau ke Tangerang, Banten,” terangnya.

Torehkan Prestasi hingga Lulus dalam Waktu Singkat

Selama menempuh pendidikan di Unsulbar, Yosias aktif mengembangkan potensi diri melalui berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik. Salah satu prestasi yang paling membanggakan baginya adalah terpilih sebagai Duta Program Studi Hubungan Internasional Tahun 2023. Selain itu, ia juga berkesempatan membawa nama Unsulbar dalam kegiatan di Thailand dan Malaysia.

Berbagai aktivitas tersebut tidak menghalanginya untuk tetap berprestasi di bidang akademik. Yosias berhasil menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun 8 bulan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,90, sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa kerja keras dan kedisiplinan mampu berjalan seiring dengan keaktifan berorganisasi.

“Prestasi saya yang paling saya banggakan adalah menjadi Duta Prodi HI 2023, dan juga membawa nama Unsulbar ke Provinsi Chumphon, Thailand, dan Malaysia. Namun saya mampu melewati itu semua dan menyelesaikan studi dalam 3 tahun 8 bulan dengan IPK 3,90. Ini menjadi jawaban atas semua prestasi dan kegiatan yang saya lalui. Jangan lupa baca buku, sarapan ilmu sebelum sarapan perut,” pesannya.

Pesan untuk Generasi Muda

Bagi Yosias, keberhasilan bukan hanya tentang gelar atau prestasi yang diraih, tetapi juga tentang keberanian untuk terus melangkah meskipun berasal dari daerah yang jauh dan memiliki berbagai keterbatasan. Ia berharap kisah perjalanannya dapat menjadi penyemangat bagi generasi muda, khususnya mereka yang berasal dari daerah terpencil, agar tidak takut bermimpi dan berjuang meraih pendidikan yang lebih tinggi.

“Pesan saya untuk teman-teman di luar sana, jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk tidak melanjutkan pendidikan. Jika ada kesempatan, tolong diambil dan ditekuni, karena keluarga, daerah, dan apa pun itu pasti akan ada waktunya untuk bertemu kembali. Semangat, anak rantau!” pungkasnya.

Perjalanan Yosias Balka membuktikan bahwa asal daerah dan keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Dengan tekad, semangat belajar, dan kesempatan yang dimanfaatkan sebaik mungkin, anak muda asal Pegunungan Bintang, Papua, ini berhasil mengukir prestasi, mengharumkan nama Universitas Sulawesi Barat, sekaligus mewujudkan impian menjadi sarjana pertama di keluarganya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok