
Jurnalis: Dhita Tiara Sukma
Unsulbar News, Majene – Mahasiswa Program Profesi Ners Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) melaksanakan penyuluhan dan pelatihan terapi komplementer di Dusun Galung Paara Selatan, Desa Pamboborang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, pada Rabu malam (21/5/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari praktik klinik pada stase Keperawatan Komunitas dan Keluarga.
Mengusung tema “Penyuluhan dan Pelatihan Terapi Komplementer Fleksi Wiliam untuk Mengatasi Low Back Pain,” kegiatan ini diinisiasi oleh Mahasiswa Ners Angkatan IX Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Unsulbar.
Puluhan peserta yang terdiri dari kader kesehatan, tokoh agama, lansia, dewasa, hingga pemuda dan masyarakat umum turut hadir dalam kegiatan ini.
Mereka adalah kelompok yang rentan mengalami keluhan nyeri punggung bawah atau low back pain.
Terapi Fleksi Wiliam diperkenalkan sebagai salah satu metode komplementer non-farmakologis yang bertujuan untuk meredakan nyeri punggung melalui serangkaian gerakan peregangan dan penguatan otot.
Narasumber utama dalam kegiatan ini, Ns. Irna Megawaty, S.Kep., M.Kep., menjelaskan penyebab, faktor risiko, dan dampak low back pain terhadap aktivitas harian.
Baca Juga: Senam Hipertensi jadi Program Unggulan Mahasiswa Profesi Ners Unsulbar di Sirindu
Ia juga menekankan pentingnya penerapan terapi komplementer sebagai solusi alternatif yang aman, murah, dan dapat dilakukan mandiri di rumah.
Dosen pembimbing, Ns Erviana, S Kep, M Kep, turut menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme masyarakat.
“Saya merasa senang karena masyarakat sangat antusias, terlihat dari jumlah kehadiran dan rasa ingin tahu yang tinggi. Harapan saya, masyarakat dapat menerapkan pola hidup sehat setelah mengikuti kegiatan ini,” tuturnya saat diwawancarai via WhatsApp.
Salah satu Ners muda dari Posko VI, Rustimaya, S Kep, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan program kerja unggulan timnya, yang berfokus pada pendekatan berbasis evidence-based practice.
“Setelah sesi edukasi, peserta mengikuti pelatihan teknik dasar terapi Fleksi Wiliam, seperti posisi terlentang (supine) dan gerakan fleksi lutut ke dada secara perlahan,” jelasnya.
Ia juga berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya terapi non-medis yang bersifat promotif dan preventif.
“Dengan pendekatan holistik, kami berharap masyarakat dapat lebih mandiri dalam menjaga kesehatan, khususnya dalam mengelola nyeri punggung bawah,” tutup Rustimaya.
Editor: Nurul Inzana Filail

