[Opini] Dari Fomo ke Jomo: Saatnya Mahasiswa Berdamai dengan Prosesnya Sendiri

Foto: Nur Arifah/Sumber: Dokumentasi Pribadi

Penulis: Nur Arifah

Unsulbar News, Majene – Notifikasi menyala, jempol reflek menggeser layar, dan dalam hitungan detik dada terasa sesak: teman seangkatan sudah lolos beasiswa ke luar negeri, adik tingkat sudah punya usaha rintisan sendiri, sementara diri sendiri masih terjebak di antara tumpukan revisi metodologi penelitian. Ada semacam alarm yang berbunyi di kepala, pelan tapi terus-menerus: kamu ketinggalan.

Perasaan itu punya nama Fear of Missing Out, atau Fomo. Dan di kalangan mahasiswa hari ini, ia bukan lagi sekadar perasaan sesaat, melainkan pola yang berulang hampir tiap kali membuka media sosial.

Ketika Layar Kecil Menentukan Rasa Cukup

Riset menunjukkan bahwa mahasiswa dengan intensitas penggunaan media sosial yang tinggi lebih rentan mengalami fomo, sebab mereka terus-menerus terpapar sorotan aktivitas orang lain. Media sosial yang semestinya menjadi jembatan untuk terhubung justru berbalik arah menjadi sumber kecemasan: sulit tidur, sakit kepala, mudah tersulut emosi, hingga rasa kewalahan yang datang tanpa sebab yang jelas. Tidak sedikit mahasiswa, termasuk saya sendiri, pernah merasakan bagaimana kebiasaan scrolling di malam hari justru berujung pada kegelisahan yang membuat mata sulit terpejam.

Akar masalahnya sebenarnya bukan pada media sosial itu sendiri, melainkan pada cara kita mengonsumsinya. Tanpa sadar, kita kerap membandingkan hari ke-1.000 perjuangan kita dengan hari pertama kesuksesan orang lain yang dipamerkan di linimasa. Padahal yang tampil di sana hanyalah cuplikan terbaik, bukan rekaman utuh perjalanan seseorang. Kita melihat hasil akhir, bukan proses panjang dan berliku yang menyertainya. Dari sinilah banyak mahasiswa kehilangan fokus, merasa hidupnya berjalan terlalu lambat, bahkan menyerah sebelum benar-benar mencoba.

“Unggahan orang lain hanyalah highlight reel, bukan blooper reel kita hanya melihat hasil akhir, bukan proses panjang di baliknya.”

JOMO: Keberanian untuk Tidak Mengejar Semuanya

Di tengah tekanan itu, muncul sebuah perlawanan bernama Jomo, Joy of Missing Out. Jomo bukan ajakan untuk menarik diri dari pergaulan atau bersikap acuh. Ia adalah keberanian untuk berkata bahwa tidak semua berita perlu diikuti, tidak semua acara perlu dihadiri, dan hidup tidak akan runtuh hanya karena melewatkan satu tren di TikTok. Penelitian bahkan menunjukkan adanya korelasi terbalik antara kecerdasan emosional dan tingkat fomo seseorang: semakin seseorang mampu mengenali dan mengelola emosinya, semakin rendah kecenderungannya untuk merasa tertinggal. Artinya, Jomo bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dilatih.

Fenomena ini pun perlahan menjadi tren baru di kalangan mahasiswa. Mereka mulai membatasi jam layar, memilih waktu untuk diri sendiri, dan menikmati aktivitas sederhana tanpa dorongan untuk memamerkannya. Sejumlah kalangan bahkan menerapkan detoksifikasi digital secara bertahap sebagai strategi meredam kecemasan akibat fomo. Ketika kendali atas informasi yang masuk ke pikiran mulai diambil alih sendiri, ketenangan yang selama ini hilang perlahan kembali ditemukan.

Mempraktikkan JOMO di Ritme Kehidupan Kampus

Menerapkan jomo tidak memerlukan langkah dramatis. Semuanya bisa dimulai dari hal-hal kecil: menyaring akun-akun yang lebih banyak memicu perbandingan sosial daripada memberi manfaat, lalu menggantinya dengan sumber yang edukatif atau sekadar menghibur secara sehat. Penting pula disadari bahwa setiap orang memiliki ritme hidupnya sendiri ada yang menemukan kesuksesan di usia dua puluh, ada pula yang baru menemukan jalannya satu dekade kemudian, dan keduanya sama-sama sah. Meluangkan waktu khusus di akhir pekan untuk “mati lampu”, mematikan notifikasi selama beberapa jam dan menggantinya dengan membaca buku, berjalan kaki, atau mengobrol tanpa gawai, juga menjadi cara sederhana untuk mengembalikan keseimbangan.

Ini bukan soal mematikan ponsel selamanya, melainkan soal mengubah cara memaknai kehadiran. Kita tetap bisa menggulir linimasa dan memperbarui status, asal dengan batas yang sehat, tanpa membiarkan algoritma yang menentukan nilai diri. Kesuksesan, pada akhirnya, bukan perlombaan sprint melainkan maraton dan mereka yang berlari terlalu cepat di awal sering kali kehabisan napas sebelum menyentuh garis akhir.
Menutup dengan Pertanyaan, Bukan Kesimpulan

Boleh sejenak berhenti, mengatur napas, dan menikmati proses milik sendiri. Sebab pada akhirnya, yang paling berharga bukan siapa yang paling cepat sampai ke tujuan, melainkan siapa yang paling ikhlas menjalani setiap langkah menuju ke sana.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal siapa yang lebih dulu sampai, tapi soal apakah kita masih punya ruang untuk jujur pada diri sendiri: kapan terakhir kali merasa cukup, tanpa harus membandingkannya dengan pencapaian orang lain? Jawaban itu mungkin tidak perlu dicari lewat linimasa siapa pun, cukup lewat jeda sejenak dan sedikit kejujuran pada diri sendiri.

(Penulis merupakan mahasiswa angkatan 2024, Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok