
Foto: Dokumentasi Pribadi
Penulis: Siti Nanda Cahya Al Qadri
Unsulbar News, Majene – Minat baca masyarakat Indonesia masih menjadi PR besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik [BPS], hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang memiliki kebiasaan membaca buku secara rutin.
Kondisi ini diperparah dengan ramainya pemberitaan di media sosial yang menyoroti turunnya budaya literasi di kalangan anak muda.
Lantas, apa yang menyebabkan minat baca di Indonesia rendah, bahkan cenderung menurun?
Berdasarkan penelusuran penulis, ada 4 faktor utama:
Pertama, harga buku yang mahal.
Di Indonesia, buku umum di luar buku pelajaran, kitab suci, dan buku agama dikenakan Pajak Pertambahan Nilai [PPN] sebesar 12% sesuai Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP). Sementara negara seperti Inggris, Malaysia, dan India menerapkan PPN 0% untuk buku. Akibatnya harga buku di negara tersebut jauh lebih terjangkau.
Kesenjangan harga juga terasa di dalam negeri. Contohnya, sebuah buku dijual Rp99.000 di Pulau Jawa, namun bisa mencapai Rp135.000 di luar Jawa. Itu berarti ada kenaikan sekitar 36,36%. Kenaikan ini dipicu biaya distribusi, ongkos kirim, dan margin rantai pasok yang panjang. Bagi sebagian orang, harga segitu sudah setara ongkos 1 minggu.
Kedua, distraksi digital.
Maraknya video singkat di media sosial membuat orang lebih memilih hiburan instan daripada membaca. Konten 15 detik terasa lebih “ringan” dibanding membaca 1 bab buku.
Ketiga, minimnya akses dan fasilitas.
Perpustakaan di daerah pelosok masih terbatas. Akses buku fisik sulit, sementara internet belum merata.
Keempat, kurangnya pembiasaan sejak dini.
Keluarga sebagai “sekolah pertama” dan sekolah memiliki peran penting. Jika membaca hanya dianggap tugas untuk ujian, bukan untuk kesenangan, maka nalar kritis sulit tumbuh.
Lalu apa solusinya?
Pemerintah bisa meninjau kembali kebijakan PPN buku umum. Penerbit dan platform digital bisa membuat harga khusus untuk wilayah 3T. Sekolah dan keluarga perlu menumbuhkan budaya membaca lewat 15 menit membaca sebelum kelas dimulai.
Jika harga buku masih setinggi ini, maka membaca akan terus jadi privilege, bukan kebutuhan. Padahal negara maju lahir dari bangsa yang gemar membaca.

