[Resensi Buku]: The Alpha Girl’s Guide

Buku The Alpha Girl’s Guide Sumber foto: Dokementasi Pribadi

Oleh: Suci Anugrah S

Keterangan Buku
Judul Buku: The Alpha Girl’s Guide: Menjadi Cewek Smart, Independen, dan Anti-Galau
Penulis: Henry Manampiring
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: Ke-1, Desember 2015
Tebal: 264 halaman, 13 x 19 cm
ISBN: 978-979-780-954-6
Genre: Self Improvement, Feminisme, dan Psikologi

Unsulbar News, Majene – Tidak semua perempuan menyadari betapa besarnya potensi yang mereka miliki. Mengapa kita sering kali meragukan kemampuan sendiri hanya karena standar yang diciptakan orang lain?

Mulanya saya melihat buku ini di Gramedia. Pada awal memandang buku ini, saya langsung tertarik dengan judul dan sampulnya yang terkesan berani dan elegan.

Buku ini seolah hadir untuk merangkul perempuan yang sedang berjuang mengatasi krisis kepercayaan diri, menghadapi tekanan sosial, serta membangun karakter yang cerdas dan mandiri di berbagai fase kehidupan. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk lebih berani menghadapi dunia nyata, supaya kita tidak mudah bergantung pada orang lain di saat sedang kesepian atau merasa banyak kekurangan.

Buku ini dengan rapi memandu kita melewati berbagai peran penting dalam hidup, mulai dari cara menjadi pelajar yang rajin, teman yang baik, pasangan yang saling menghargai, hingga menjadi perempuan yang mandiri dalam bekerja.

Sebagai seorang perempuan, saya memiliki alasan tersendiri mengapa buku ini menjadi buku yang sangat berkesan bagi saya. Di sela-sela cerita panjang dalam buku ini, terdapat banyak kutipan menarik yang dicetak dengan ukuran dan bentuk huruf yang berbeda. Kutipan-kutipan ini bukan sekadar pajangan, melainkan penyemangat yang seolah menampar kesadaran kita agar berhenti membatasi diri.

“A person can leave you tomorrow but what you build for yourself is forever.”

Sering kali, lingkungan mengajarkan perempuan untuk menggantungkan kebahagiaan dan jaminan masa depan pada orang lain, seperti pasangan. Namun nyatanya, manusia bisa pergi kapan saja, entah karena perpisahan, perubahan sikap, atau usia. Kutipan ini sangat berkesan bagi saya karena menyadarkan saya bahwa mengorbankan masa depan demi orang lain adalah hal yang berisiko.

Sebaliknya, keterampilan, kecerdasan, dan kemandirian yang kita bangun untuk diri kita sendiri adalah investasi abadi yang tidak akan pernah bisa dirampas oleh siapa pun.

Selain itu, ada juga kutipan tajam tentang stigma pendidikan:
“Cewek itu harus berpendidikan tinggi tidak, sih? Ujung-ujungnya di dapur juga.”

Kalimat meremehkan yang sering kita dengar. Memiliki pendidikan tinggi bukan berarti kita menentang kodrat, melainkan sebuah pelampung penyelamat dan rencana cadangan paling aman. Jika suatu saat terjadi hal yang tidak diinginkan, perempuan yang terdidik tidak akan mudah hancur atau sekadar pasrah menunggu bantuan. Ia punya akal, mental juang, dan kemampuan untuk berdiri kuat di atas kakinya sendiri.

Buku ini memuat cerita asli dari tokoh-tokoh perempuan hebat (seperti Najwa Shihab dan Alanda Kariza) yang membuat isi buku terasa lebih nyata dan meyakinkan.
Dari segi tampilan, keunggulan fisiknya terdapat pada sisipan gambar komik lucu yang membuat pembaca tidak mudah bosan dan merasa terhibur. Selain itu, penulis juga menyertakan pesan pengingat agar kemandirian dan kecerdasan kita tidak berubah menjadi kesombongan yang membuat kita lupa untuk peduli pada orang lain.

Kelemahan buku ini ada pada penggunaan bahasa asing (bahasa Inggris) yang cukup banyak. Hal ini mungkin akan sedikit menyulitkan sebagian pembaca untuk langsung memahami maksud dari beberapa kalimat.

Buku ini sangat tepat dibaca saat engkau merasa lelah dengan tuntutan masyarakat yang sering memandang sebelah mata kemampuan perempuan.

Makna terdalam dari buku The Alpha Girl’s Guide adalah mengajak kita untuk menjadi penentu jalan hidup kita sendiri, mengajarkan kita untuk menerima, menyayangi, dan menghargai diri kita sendiri. Dengan membangun kecerdasan dan sikap mandiri, rasa galau atau sedih tidak akan mudah datang karena kita sudah memegang kendali penuh atas hidup kita.

Karena pada akhirnya, dunia ini benar-benar akan kehilangan banyak hal luar biasa jika perempuan-perempuan cerdas berhenti berkarya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok