Ingin Dianggap “Mahasiswa” tapi Lupa Menjalankan Kewajiban

Nurzahira Mahasiswa Program Studi Agribisnis 2024. Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Penulis: Nurzahira

Unsulbar News, Majene – Di setiap kampus, selalu ada yang gemar menjadi hakim bagi orang lain. Salah satu penghakiman yang paling sering terdengar adalah tentang siapa yang pantas disebut mahasiswa. Orang yang hanya rajin kuliah atau mereka yang aktif berorganisasi sering kali dianggap kurang “mahasiswa”. Mereka dinilai terlalu sibuk dengan kegiatan, atau sebaliknya terlalu sibuk mengejar nilai. Ironisnya, penilaian itu sering datang dari orang yang bahkan belum mampu mengatur dirinya sendiri.

Kita tentu pernah menjumpai orang semacam ini. Ia dengan lantang menyebut dirinya mahasiswa, tetapi kuliahnya berantakan, tugasnya terbengkalai, dan kehadirannya bisa dihitung dengan jari. Meski begitu, ia merasa berhak menentukan siapa yang layak menyandang gelar mahasiswa. Mereka yang mampu menjalani organisasi sekaligus menjaga prestasi akademik justru dituding bukan mahasiswa.

Pola pikir seperti ini sebenarnya mudah dibaca. Ketika seseorang gagal membagi waktu antara organisasi dan perkuliahan, ia membutuhkan pembenaran agar kegagalannya terasa wajar. Cara termudah adalah merendahkan mereka yang berhasil. Jika orang lain mampu menjalani keduanya, kekurangan diri sendiri akan terlihat jelas. Maka, standar pun digeser, mahasiswa yang baik dianggap bukan mahasiswa, atau dituduh tidak punya kehidupan kampus yang “sebenarnya”.

Dengan begitu, yang dipersoalkan bukan lagi kemampuan, melainkan siapa yang berhak memegang definisi. Padahal, definisi mahasiswa tidak ditentukan oleh perasaan satu orang. Mahasiswa adalah orang yang menjalani proses belajar di perguruan tinggi dengan tanggung jawab akademik sebagai kewajiban pokoknya. Organisasi, kepanitiaan, dan kegiatan lain adalah bagian yang memperkaya, bukan syarat yang menentukan sah atau tidaknya status itu.

Mahasiswa yang mampu membagi waktunya dengan baik tidak sedang memamerkan apa pun. Ia hanya bertanggung jawab atas pilihan yang diambilnya. Ia sadar bahwa kuliah adalah tujuan utama, dan organisasi adalah ruang untuk bertumbuh. Ia belajar menolak ketika beban terlalu berat dan disiplin ketika waktu menuntut. Semua itu adalah keterampilan yang bisa dilatih, bukan keistimewaan yang pantas dicurigai.

Tidak ada yang melarang siapa pun menyampaikan pendapat. Namun, sebelum menjatuhkan vonis kepada orang lain, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah saya menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa dengan baik? Sudahkah saya jujur bahwa kesulitan saya bukan karena organisasi, melainkan karena cara saya mengatur waktu?
Mengakui kekurangan memang tidak enak, tetapi jauh lebih terhormat daripada menutupinya dengan merendahkan orang lain. Kampus adalah tempat belajar, termasuk belajar bercermin.

Pada akhir perkataan, status mahasiswa tidak dibuktikan lewat seberapa lantang seseorang menyebutnya atau seberapa keras ia menilai orang lain. Status itu dibuktikan lewat tanggung jawab yang dijalankan setiap hari, di ruang kuliah maupun di luarnya.

(Penulis Merupakan Mahasiswa Program Studi Agribisnis, Angkatan 2024)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok