Bahasa Daerah Di Kampus Negeri

Gambar : Ilustrasi (sumber: img.bisnis.com)

Penulis: St. Mulkia Nasira

Editor: Mardiwansyah

Unsulbar News, Majene. Bahasa mandar adalah bahasa sehari-hari yang digunakan orang-orang suku mandar dalam berinteraksi setiap hari. Sebagai satu-satunya universitas negeri di Sulawesi Barat yang merupakan tempat bermukimnya suku mandar membuat Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) didominasi oleh etnis mandar baik itu pimpinan, dosen, staf, mahasiswa, hingga satpam, bahasa mandar menjadi bahasa yang sering kita dengar di kampus merah maron, baik itu diluar kelas maupun di dalam kelas saat dosen sedang mengajar. 

Penggunaan bahasa daerah tentu memberi dampak yang sangat baik. Terutama dalam memperkenalkan bahasa daerah sebagai suatu warisan budaya. Namun apa yang terjadi jika bahasa daerah kita temukan di ruang perkuliahan kampus negeri yang mahasiswanya dari berbagai daerah?

Herdi mahasiswa Unsulbar asal Wajo mengakui keberadaan dosen yang sesekali menggunakan bahasa mandar saat memberikan kuliah. Namun untuk mengatasi hal tersebut ia kerap mempertanyakan artinya pada temannya. “Ada yang sesekali  berbahasa mandar, semester lalu, kalau tidak saya paham bertanya ka’ pada temanku,” ungkap mahasiswa Bugis asal kabupaten Wajo itu.

Tak beda jauh dengan Herdi, Yona Vin Ziliona jurusan Hubungan Internasional tersebut terkadang kebingungan saat temannya bercanda, dan dalam proses perkuliahan yang terkadang mencampurkan bahasa mandar didalamnya. “Terkadang kalau itu guyonan dalam bahasa mandar, hanya saya yang tidak tertawa ketika yang lain tertawa, jadi harus tanya dulu ke teman biar paham,” kata mahasiswa asal Gowa itu.

Wirdayanti Amazihono Mahasiswa asal Nias ini mengatakan penggunaan bahasa mandar yang kerap digunakan saat perkuliahan bukanlah faktor penghalang dalam menerima pembelajaran, meskipun terkadang ia merasa kesulitan. “Terkadang ketika dosen memakai bahasa mandar, saya dibantu oleh teman-teman untuk menerjemahkannya,” terangnya.

Menurut Taqdyr Muhammad Adi yang juga mahasiswa HI, terkadang ia menemui dosen yang menggunakan bahasa mandar tetapi hanya beberapa kata saja. Ia belum pernah menemukan dosen yang mengajar secara penuh dengan menggunakan bahasa mandar. Ia mengaku penggunaan kata mandar dalam beberapa kalimat bisa ia maklumi. ” Ya jika itu hanya 1/2 kata tapi jika digunakan selama kuliah saya tidak menerimanya,” tegas mahasiswa asal Kalimantan Timur itu.

Menanggapi hal tersebut salah satu dosen perikanan, Dr. Tendriware, M.Si. mengatakan menggunakan bahasa mandar dalam ruang lingkup kelas atau pun dalam pembelajaran itu tidak diperbolehkan bagi mahasiswanya saat ia sedang mengajar. Namun ia mengatakan penggunaan bahasa mandar dalam proses perkuliahan dikembalikan kepada dosen yang lain. ” Kalau jam saya tidak boleh, terserah dosen lain yah, memaknai hal ini,” ungkap dosen peneliti tersebut.

Sementara, Darsiani S.Pi., M.Si. yang juga dosen Unsulbar mengatakan penggunaan bahasan mandar dapat dianjurkan, selama tujuan dari pembelajarannya tercapai yakni dapat lebih di mengerti oleh mahasiswa maka, hal itu bisa di lakukan. Tetapi tetap harus di barengi dengan bahasa Indonesia.  ” menurut saya,sesuai tujuan pembelajaran saja. Selama tujuannya mengena yakni dpt lebih dimengerti n disimpan (alias dipahami dg baik),maka penggunaan bhs mandar mjd salah satu yg patut direkomendasikan,” tulisnya saat dikonfirmasi via WhatsApp, Kamis (22/2).

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok