Edukasi Seks Tidak Sesempit Pengetahuan Tentang Kegiatan Seksual

Ilustrasi: edukasi seks (unsulbarnews)

Penulis : Wulandari (Hubungan Internasional, 2020)

Unsulbar News, Majene – Sebenarnya edukasi seks itu perlu tidak sih? Pemberian informasi serta penyuluhan terkait kesehatan reproduksi kepada anak hingga remaja apakah penting?

Sebagian menganggap hal ini penting bahkan urgent, tapi di sisi lain pun ada yang kontra. Katanya tidak penting bahkan memberi jalan untuk hal-hal yang tidak diinginkan.

Stigma yang ada perihal edukasi seks bahkan pembahasan yang dianggap tabu dimasyarakat membuat pengetahuan terkait hal ini sangat minim dan kurang di perhatikan.

Edukasi seks dianggap hanya tentang bagaimana kegiatan seksual itu dilakukan, sehingga sebagian masyarakat malah kontra dengan memberikan edukasi pada anak sejak dini.

Padahal edukasi seks tidak sesempit “PENGETAHUAN TENTANG KEGIATAN SEKSUAL”, Tetapi edukasi seks itu mencakup banyak hal, seperti anatomi tubuh manusia.

Tentunya dalam edukasi seks akan diberitahukan bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh untuk disentuh atau diperlihatkan kepada orang lain.

Selain itu juga akan berbicara mengenai sistem reproduksi manusia, dengan mengajarkan sistem reproduksi pada anak mereka akan mengetahui fungsi-fungsi dari alat reproduksi mereka, tentunya juga ketika mengalami pubertas, hormon telah berubah maka anak remaja cenderung memiliki rasa penasaran yang lebih besar.

Sehingga jika sarana dalam mengambil informasi itu tidak tersedia maka anak akan mengambil jalan lain dalam memperoleh informasi yang bisa jadi salah atau menyimpang. Maka akan berdampak pada perilaku yang salah pula nantinya.

Bahkan survey yang dilakukan oleh WHO pada 2011 di beberapa negara memperlihatkan, adanya informasi yang baik dan benar, dapat menurunkan permasalahan seksual pada remaja.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan remaja maka akan semakin baik perilakunya, karena pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.

Tentunya selain kedua hal diatas , edukasi seks juga mengajarkan remaja terkait kejiwaan dan emosional mereka. Dala hal ini, diajarkan cara untuk menghargai serta mencintai tubuh mereka dengan bijak dalam bertindak serta berperilaku sehingga ia tumbuh menjadi remaja yang berbudi pekerti luhur serta memiliki rasa percaya diri terhadap diri mereka.

Hubungan seksual yang sehat, tentunya banyak dari remaja yang mengalami kehamilan diusia dini bahkan sampai melakuan aborsi dikarenakan mereka tidak mengetahui waktu yang aman untuk melakukan hubungan tersebut.

Seks bebas terjadi dikarenakan minimnya pendidikan seks dan ketika kehamilan yang tidak diinginkan itu terjadi akan memberikan tekanan pada batin mereka (stress) yang bisa saja datang dari lingkungan masyarakat, maupun lingkup keluarga mereka.

Adanya penolakan dari masyarakat, cibiran, ejekan, maupun pengucilan berdampak pada kejiwaan si anak tersebut.

Paradoks terkait edukasi seks yang sudah terlanjur diyakini masyarakat Indonesia ini tentunya sangat memberikan dampak serta menjadi penyebab banyaknya isu-isu terjadi di Indonesia, seperti seks bebas, penyakit menular seks (PMS), kehamilan di usia dini, aborsi , kekerasan serta pelecahan seksual bahkan sampai kematian.

Menurut data BKKBN tahun 2010 menyatakan 34,5% remaja laki-laki dan 33,3% remaja perempuan mulai berpacaran pada usia 15 tahun.

Tentunya hal ini terjadi dikarenakan minimnya pengetahuan reproduksi remaja tersebut sejak dini sehingga mereka tidak mengetahui resiko-resiko dari perilaku seks (pacaran) yang dapat memicu mereka untuk melakukan hubungan seksual pra-nikah atau berpacaran yang tidak sehat, dikarenakan di usia tersebut rentan belum memiliki keterampilan hidup (lifeskill) sehingga belum mengetahui baik buruk dari tindakannya tersebut.

Rasanya agak dangkal untuk memandang edukasi seks hanya sebagai ilmu yang mengajarkan cara melakukan hubungan seks saja, sangat keliru.

Narasi seperti ‘Dengan mengetahui ilmu terkait reproduksi maka anak akan cenderung untuk melakukan hubungan seksual tersebut’ padahal fenomena seks bebas, pelecehan maupun kekerasan seksual itu datang dari kurangnya informasi yang ada sehingga anak remaja memenuhi rasa penasaran mereka dengan mencari informasi secara serampangan, yang belum tentu benar serta tepat.

Sehingga remaja tersebut pun memaknai serta berperilaku sesuai dengan ilmu yang didapatkan tersebut.

Maka perlu digarisbawahi bahwa memberikan pengetahuan terkait kesehatan reproduksi itu tidak sama dengan mendukung seks bebas atau “zina”.

Pengetahuan cenderung membentuk perilaku kita, ketidaktahuan cenderung membelokkan kebenaran yang ada. Jadi pengetahuan seks yang dipelajari itu sudah benar dan tepat maka hal ini dapat mengurangi perilaku seks remaja yang menyimpang.

Memang fenomena ini tidak bisa dihentikan secara mutlak namun setidaknya dengan memberikan informasi seluas-luasnya kepada anak sejak dini, kiranya dapat mengurangi kasus-kasus seperti hamil pra-nikah, aborsi, kekerasan, pelecahan hingga seks bebas.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok