MBKM: Kebutuhan atau Tantangan bagi Mahasiswa? 

ilustrasi MBKM/Foto: Unsulbar News

Penulis: Alfahril

Unsulbar News, Majene – Sejak diluncurkan pada tahun 2020 oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) telah menjadi topik hangat dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

Program ini bertujuan untuk memperluas kesempatan mahasiswa mengembangkan keterampilan dan pengalaman praktis melalui berbagai program, seperti magang, proyek independen, pertukaran pelajar, dan penelitian.  Namun, keberhasilan implementasinya juga dihadapkan pada sejumlah tantangan, baik secara materi maupun non material. Apakah MBKM benar-benar menjadi jawaban atas kebutuhan mahasiswa, atau justru menjadi tantangan tambahan?

Potensi MBKM untuk Menjawab Kebutuhan Mahasiswa

Di era globalisasi dan industri 4.0, mahasiswa dituntut untuk memiliki keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan industri. MBKM memungkinkan mahasiswa Unsulbar untuk memperoleh pengalaman di luar kelas yang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga aplikasi nyata di dunia kerja. 

Di Unsulbar sendiri, partisipasi mahasiswa dalam MBKM menunjukkan adanya antusiasme untuk mengembangkan diri di luar ruang kuliah. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memandang MBKM sebagai kesempatan untuk memperoleh keahlian yang lebih terintegrasi dengan dunia kerja.

Selain itu, beberapa mahasiswa Unsulbar yang telah mengikuti program magang dalam MBKM melaporkan manfaat langsung dari program ini. Berdasarkan data yang didapat dari situs resmi Unsulbar (2024), banyak para alumni yang memang merasakan sendiri bahwa program MBKM ini menjadi wadah atau kesempatan bagi para mahasiswa untuk bisa mengembangkan keterampilan, menambah wawasan dan lain sebagainya.

Rhezky Rhizaldy, seorang mahasiswa dari jurusan Teknik Informatika di Unsulbar, mengungkapkan bahwa ia sering kali teringat berbagai kenangan yang terjadi selama mengikuti program MBKM. “The best thing ever,” tambahnya lagi.

Ihsan (angkatan 2022), mahasiswa jurusan Statistika di Unsulbar, mengungkapkan bahwa ia merasa ketagihan dengan program MSIB yang diikutinya saat berpartisipasi dalam MSIB Batch 6.

“Siapa yang tidak ingin menjalin relasi dengan perusahaan, instansi pemerintah, serta mahasiswa pilihan dari seluruh nusantara yang memiliki kapasitas luar biasa,” ujarnya kepada Unsulbar News beberapa waktu lalu.

Mahasiswa Statistika yang bergabung dengan Unsulbar sejak tahun 2022 ini bahkan menyatakan program MBKM memberikan dampak besar baginya selama menjadi mahasiswa. Ini menunjukkan bahwa MBKM dapat menjawab kebutuhan mahasiswa untuk mempersiapkan diri dan bisa menghadapi tantangan yang semakin kompetitif.

Tantangan dalam Implementasi MBKM 

Di balik berbagai potensi tersebut, implementasi MBKM di universitas juga menghadapi sejumlah tantangan yang tidak dapat diabaikan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan infrastruktur dan sumber daya. Terlebih universitas yang berada di kawasan dengan akses yang relatif terbatas, sering kali mengalami kesulitan dalam hal dukungan fasilitas dan teknologi untuk mendukung program MBKM.

Keterbatasan ini membuat tidak semua program studi memiliki kapasitas untuk mengirimkan mahasiswa mereka mengikuti MBKM, terutama pada program magang yang memerlukan kerja sama dengan mitra industri.

Salah satu artikel dimuat TIMES Indonesia dengan judul “Tantangan dalam Mengimplementasikan MBKM dalam Perspektif Mahasiswa”, penulis menjabarkan bahwa banyak kampus yang mengeluhkan berbagai hambatan dan tantangan yang dihadapi dalam implementasi program MBKM, misalnya kurangnya mitra kerja sama baik dari perguruan tinggi maupun instansi lapangan kerja.

Kurangnya mitra kerja sama seringkali disebabkan berbagai persoalan administrasi yang harus disiapkan. Persoalan tersebut berdampak pada minat mahasiswa dalam mengikuti program MBKM karena kurang leluasa dalam menentukan tempat pelaksanaan program. Selain itu, kurangnya sumber daya manusia dan  keuangan,  kurangnya pengawasan yang memadai dan tidak ada standar nasional yang jelas.

Pelaksanaan MBKM di Unsulbar juga menuntut kesiapan dosen dan tenaga pengajar untuk mengadopsi metode pengajaran baru yang lebih terbuka dan kolaboratif. Berdasarkan data yang didapatkan dari situs resmi Unsulbar bahwa para tim Praktisi Unsulbar mengadakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) secara daring.

Menurut informasi dari Kemdikbud, Program Praktisi Mengajar adalah bagian dari inisiatif MBKM yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Program ini bertujuan untuk mempersiapkan lulusan perguruan tinggi agar lebih siap memasuki dunia kerja.

Program ini mengedepankan kolaborasi aktif antara praktisi profesional dan dosen perguruan tinggi guna menciptakan pertukaran pengetahuan dan keahlian yang mendalam. Kolaborasi ini dilaksanakan dalam mata kuliah di kelas, baik secara tatap muka maupun daring. Melalui program ini, diharapkan para lulusan dapat menguasai ilmu dan keterampilan yang relevan dengan tuntutan serta tantangan di dunia kerja. Sehingga ini menunjukkan bahwa keberhasilan MBKM di Unsulbar juga tergantung pada kesiapan para pengajar dalam menjalankan peran mereka sebagai fasilitator belajar yang lebih fleksibel.

Artikel lain dari LPM Display Universitas Brawijaya bahwa Program MBKM tidak se-“Merdeka” seperti namanya. Mahasiswa sering kali menghadapi berbagai persyaratan administratif dan tugas yang perlu diselesaikan selama mengikuti kegiatan tersebut. Proses pendaftaran MBKM juga bukan hal yang sederhana yang merupakan tantangan juga bagi mahasiswa. Mahasiswa harus mempersiapkan banyak berkas administrasi sesuai dengan prosedur yang berlaku. Jika persyaratan ini tidak terpenuhi, sanksi akademik bisa dikenakan di kemudian hari.

Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun MBKM memberikan manfaat besar, ada aspek manajemen waktu yang menjadi tantangan bagi mahasiswa dalam menjalani program ini.

Terlepas dari berbagai persoalan yang menjadi hambatan dan tantangan tersebut pasti ada solusi. Berikut beberapa solusi yang dapat diterapkan oleh beberapa universitas yang sudah mengimplementasikan MBKM. Pertama, perguruan tinggi yang mengimplementasikan MBKM dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman agar mahasiswa termotivasi dan berminat berpartisipasi dalam program tersebut. Kedua, sumber daya manusia dan tata kelola keuangan dapat ditingkatkan. Ketiga, perguruan tinggi dapat memberi alternatif pilihan kegiatan yang dibutuhkan dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa. Keempat, perguruan tinggi menetapkan pengawasan dan standar nasional yang jelas.

Jadi MBKM Ini Menjadi Jawaban atau Tantangan?

MBKM memiliki potensi besar untuk menjawab kebutuhan mahasiswa dalam hal pengembangan keterampilan praktis dan kesiapan kerja. Program ini dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk terjun langsung ke dunia kerja, mempersiapkan mereka untuk menghadapi tuntutan industri, dan mengembangkan keterampilan yang relevan dengan karier masa depan. Di sisi lain, penerapan MBKM di Unsulbar menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan infrastruktur, kesiapan dosen, dan manajemen waktu mahasiswa.

Meskipun MBKM bukan tanpa tantangan, program ini memiliki potensi besar untuk menjadi jawaban atas kebutuhan mahasiswa jika Unsulbar dapat mengatasi kendala-kendala tersebut. Upaya yang dapat dilakukan antara lain adalah memperkuat kerja sama dengan industri lokal, meningkatkan pelatihan untuk dosen dalam mengelola program MBKM, serta memberikan panduan manajemen waktu bagi mahasiswa.

Dengan strategi yang tepat, Unsulbar bisa memastikan bahwa MBKM benar-benar menjadi solusi yang relevan dan bermanfaat bagi mahasiswa, sehingga program ini tidak hanya menjadi kebijakan formal, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam memajukan kualitas pendidikan dan mempersiapkan generasi muda yang siap bersaing di tingkat global.

(Penulis merupakan staf magang Litbang Unsulbar News)

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “MBKM: Kebutuhan atau Tantangan bagi Mahasiswa? 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok