Mengenal Sosok Elka Fadilah, Ketua Tim Unsulbar yang Bawa Gagasan Sampah Desa ke PIMNAS ke-39

Sosok Elka Fadilah yang menginspirasi. Foto: Dokumentasi Pribadi.

​Penulis: Alifia Syifa Dianri

​Unsulbar News, Majene – Setahun lalu, Elka Fadilah hanya bisa menyaksikan rekan-rekan mahasiswa lain melaju ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Kini, mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) itu justru berhasil lolos ke ajang bergengsi PIMNAS ke-39 sebagai ketua tim.

​Kabar kelolosan ini mulanya terasa sulit ia percaya. Baginya, keberhasilan ini menjadi jawaban atas mimpi yang selama ini ia simpan sendiri.

​“Jujur, rasanya masih sangat tidak menyangka bisa lolos sampai ke PIMNAS ke-39 ini. Tahun lalu saya hanya bisa melihat pencapaian orang lain dan membatin kapan giliran saya bisa di titik itu. Rasanya luar biasa bersyukur dan bangga sekali akhirnya bisa membawa nama Unsulbar,” tutur Elka.

​Capaian ini bukan hasil dari percobaan pertama. Tahun lalu, Elka sempat mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) sebagai anggota tim, namun langkah mereka terhenti di tahap pendanaan.

​Tak ingin menyerah, tahun ini ia kembali mencoba dengan mengambil tanggung jawab yang lebih besar sebagai ketua tim. Perjalanannya pun tidak mudah dan penuh tantangan, mulai dari keterbatasan peralatan produksi, susahnya membagi waktu antara jadwal kuliah dan riset lomba, hingga jam tidur yang terpangkas demi mengejar tenggat pengerjaan.

​Inspirasi karya tim ini berangkat dari persoalan nyata yang kerap dianggap lumrah di tengah masyarakat, yakni masalah sampah. Dari keresahan itulah mereka merumuskan konsep solusi integratif yang tidak hanya menjawab masalah lingkungan, tetapi juga membuka peluang kemandirian energi alternatif.

​Gagasan tersebut dituangkan dalam karya berjudul Digital Waste-Link Story: Rekonstruksi Visual Sistem Integrasi Sampah Desa Berbasis Circular Economy Menuju Kemandirian Energi. Karya ini diajukan dalam skema PKM Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK), yang memadukan analisis persoalan dengan rekonstruksi ide masa depan.

​Luaran utama karya ini berupa video gagasan konstruktif serta dokumen laporan pendukung. Seluruh tahapan pengerjaan mulai dari riset, penyusunan naskah, produksi visual, hingga penulisan laporan berlangsung sekitar empat bulan penuh mengikuti linimasa yang ditetapkan kementerian.

​Elka menjelaskan bahwa sasaran gagasan timnya berfokus pada kawasan perdesaan. Menurutnya, perhatian publik terhadap masalah sampah selama ini lebih banyak tertuju pada wilayah perkotaan.

​“Padahal, kita tidak boleh menutup mata bahwa desa juga menghadapi persoalan tata kelola sampah yang mendesak, terutama dalam ketiadaan infrastruktur pengolahan dan sistem daur ulang yang terintegrasi,” ujarnya.

​Ia menambahkan, konsep ekonomi sirkular (circular economy) dipilih karena menawarkan pendekatan menyeluruh. Dampaknya tidak hanya menyentuh aspek kelestarian lingkungan agar desa bebas dari timbunan sampah, tetapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat melalui pemanfaatan sisa sampah sebagai sumber energi mandiri.

​Di balik pencapaian ini, Elka menyebut ada peran besar dari dosen pendamping, Ir Rafid Mahful ST MEng. Ia menilai dosennya tersebut sebagai sosok yang senantiasa menaruh kepercayaan penuh dan mengarahkan ide tim secara terstruktur.

​“Beliau tak henti-hentinya memberikan suntikan semangat agar tim kami tidak menyerah di tengah berbagai keterbatasan yang ada,” tutupnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok