Menilik Eksistensi Mahasiswa Penghayat Kepercayaan di Unsulbar

Foto Istimewa/Dokumentasi Pribadi PPKAM.PUS Cabang Majene

Penulis : Alber

Unsulbar News, Majene — Penghayat Kepercayaan adalah mereka yang menganut kepercayaan atau agama leluhur di luar enam agama umum masyarakat Indonesia yaitu Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Buddha dan Konghucu.

Karena merupakan warisan yang diturunkan oleh leluhur berbagai daerah, Penghayat Kepercayaan ini juga jadi salah satu keragaman yang menjadi ciri kemajemukan masyarakat Indonesia. 

Penghayat Kepercayaan telah diakui negara, sebagaimana keputusan Mahkama Konstitusi (MK) pada 2017 bahwa penghayat kepercayaan bisa ditulis di kolom agama yang terdapat di KTP. Meski begitu pada masyarakat luas masih perlu edukasi untuk mendorong sikap terbuka agar tak ada lagi diskriminasi yang diterima oleh para penghayat.

Mahasiswa Penghayat Kepercayaan di Unsulbar

Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) adalah perguruan tinggi negeri berlokasi di Kabupatan Majene, Sulawesi Barat. Memiliki ribuan mahasiswa yang tidak hanya berasal dari Kabupaten Majene saja, melainkan juga dari luar daerah. Dari ribuan mahasiswa yang ada, diketahui sebagian kecil adalah penghayat kepercayaan.

Sejak Unsulbar berubah status dari perguruan tinggi swasta kemudian menjadi negeri pada 2013, peluang menerima mahasiswa menjadi lebih luas. Hal inilah kemudian menjadi awal mahasiwa penghayat kepercayaan hadir di Unsulbar.

Informasi dihimpun Unsulbar News, ada sekira 64 mahasiswa penghayat di Unsulbar. Jumlah tersebut di luar alumni yang telah menyelesaikan studi. Diketahui seluruhnya berasal dari Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

Masih Adanya Kendala Dalam Layanan Pendidikan

Mahasiswa Penghayat Kepercayaan di Unsulbar mengalami kendala layanan pendidikan.

Salah satu keluhan yang sampai saat ini menjadi permasalahan bagi para mahasiswa penghayat kepercayaan adalah sistem pengimputan nilai agama pada Sistem Informasi Akademik (Siakad). Pasalnya saat mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) pilihan agama atau keyakinan mereka tidak tercantum dalam daftar pilihan.

Menurut keterangan mahasiswa penghayat, Galawin (Angkatan 2019), pihak kampus hanya memberikan solusi bahwa untuk sementara, diperbolehkan memprogram mata kulia agama lain, untuk memudahkan penginputan nilai melalui mata kulia agama yang diprogram.

Atas kondisi itu, mahasiswa penghayat menginginkan mata kulia penghayat kepercayaan bisa di cantumkan dalam Siakad Unsulbar tersebut.

“Ada apa dengan Unsulbar, kami ingin diberikan layanan sesuai amanat dari Peraturan Mendikbud Nomor 27 Tahun 2016 tentang Layanan Pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada Satuan pendidikan. Kami merasa di anak tirikan dalam kampus ini. Kami menginginkan hak konstitusional kami untuk dihormati,” tutur Galawin, Rabu (22/3/2023).

“Kami merasa kesulitan dalam pengimputan nilai agama, karena kami rasa bahwa solusi yang diberikan pihak kampus itu sangat sulit lantaran sering terjadi pada staf di fakultas tidak paham dan bahkan tidak mau mengimputkan nilai kami,” tambahnya.

Tidak ingin kondisi ini terus berlarut, mahasiswa penghayat kepercayaan lainnya, yakni Adi Padang harap bisa bertemu Rektor Unsulbar untuk membahas permasalahan ini.

“Memang kemarin, senior kami sempat ingin bertemu rektor dalam rangka membahas masalah ini. Tapi batal karena rektor tidak ada di rektorat pada saat itu. Jadi sekarang kami sangat mengharapkan rektor untuk meluangkan waktunya mendengarkan keluh tangisan kami. Supaya tidak ada lagi rasa tekan. Kami mau keadilan tegak ditengah-tengah kampus Universitas Sulawesi Barat,” ungkapnya kepada Unsulbar News (22/3).

Siap Eksis Bersama Agama Mayoritas

Mahasiswa penghayat kepercayaan di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat memiliki wadah yang bernama Pemuda Penghayat Kepercayaan Ada’ Mappurrondo Pitu Ulunna Salu disingkat PPKAM.PUS Cabang Majene.

Memiliki Sekretariat beralamat Kelurahan Baurung, Kecamatan Banggae Timur, Majene / BTN Pullewa, Blok I. Seperti namanya organisasi ini untuk menghimpun seluruh anggota penghayat kepercayaan yang menempuh pendidikan Majene di Majene.

Mantan ketua PPKAM.PUS. Cabang Majene, Galawin, menerangkan bahwa Organisasi ini memiliki misi yang sama dengan misi di organisasi pusat PPKAM.PUS. (Pemuda Penghayat Kepercayaan Ada’ Mappurondo Pitu Ulunna Salu) yaitu:

  1. Mengembangkan dan mempertahankan akhlak dan budi pekerti yang luhur
  2. Memelihara kesakralan nilai budaya ada’ mappurondo
  3. Mengembangkan kreatifitas dan bakat generasi muda Mappurondo
  4. Membina pribadi generasi muda yang mapan serta moral dan spritual
  5. Mengembangkan potensi keilmuan, kreatif, sosial dan budaya
  6. Mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kepercayaan dan beragama, bermasyarakat, serta bernegara.

Selanjutnya ia menerangkan bahwa mahasiswa penghayat kepercayaan yang ada di Majene memiliki kegiatan seperti kajian rutin setiap malam Minggu, membahas tentang kebudayaan lokal dan sekolah organisasi.

Selain itu PPKAM.PUS. Cabang Majene dalam melakukan kegiatan tertentu turut mengundang organisasi keagaam lainnya. Juga menghadiri kegiatan yang digelar lembaga lain. Hal ini sebagai bentuk menjalian hubungan satu sama lain serta menjaga eksistensi antar lembaga.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok