Pembangunan Infrastruktur Masih Menjadi Kunci Periode Kedua Akhsan

Gambar: Gedung mangkrak Unsulbar (dok. Unsulbar News)

Laporan Khusus

Unsulbar News, Majene. Periode kedua masa jabatannya, Rektor Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) Dr Akhsan Djalalauddin MS nampaknya masih fokus ke pembangunan infrastruktur kampus. Pasalnya infrastruktur masih sangat diperlukan dalam menunjang aktivitas perkuliahan serta berpengaruh terhadap akreditasi universitas.

Kamipun mengatur janji dengan beliau untuk bersilaturahmi usai lebaran Idul Adha (11/08/2019) dan berbincang seputar apa yang akan ia lakukan ke depan.
Selasa, 13 Agustus 2019, pukul 09.00 WITA pagi kamipun menuju gedung Rektorat Unsulbar untuk menghadir undangan beliau. Sesampai di sana, kami diisinkan masuk ke ruangan kerja dan bertemu langsung.

Mengawali perbincangan, kamipun bertanya seputar perkuliahan yang akan berlangsung dalam waktu dekat dan bagaimana kesiapan kampus dalam menerima Mahasiwa baru tahun ajaran 2019/2020.

Beliau menjelaskan bahwa kampus sudah melakukan pembenahan infrastruktur dalam hal ini perbaikan gedung perkuliahan dan akses jalan menuju kampus baru, Padang-padang.

“Alhamdulillah, meski belum sempurna, gedung dari PMPP yang sudah dalam proses pemasangan tegel keramik dan sudah bisa digunakan oleh mahasiswa awal semester ini, begitupun dengan akses jalan menujun kampus sebagian sudah di rabat beton,” jelas pria pecinta offroad tersebut.

Akhir tahun ini satu gedung baru diharapkan sudah bisa digunakan. Selain kedua gedung tersebut pembangunan laboratorium terpadu juga sudah memiliki dana dan untuk pembangunan infrastruktur yang lain sedang dalam pengajuan proposal dan pencarian dana dengan cara kerjasama dengan institusi lain.

Ia menambahkan terkait dua gedung mangkrak sudah dalam proses tender oleh PUPR dan mudah-mudahan bisa selesai secepatnya.

Saat kami tanyakan apakah luas wilayah yang ada saat ini sudah cukup atau tidak untuk membangun semua master pland yang ada, pria berkacamata ini masih berharap agar diberikan bantuan lahan.

“Sebenarnya tidak cukup, jika dibandingkan dengan universitas lain seperti Unhas yang 220 hektar dan universitas di luar negeri seperti di Thailand dia punya 2000 hektar. Sedangkan kita hanya punya 30 hektar lebih,”.

Mendengar banyaknya rencana pembangunan infrastruktur, pengadaan lahan hingga saat ini masih diusahan guna pembangunan beberapa master pland yang telah dirancang termasuk posisi fakultas, sport center, gedung auditorium, rektorat dan lain sebagainya. Dari awal berdirinya Unsulbar hingga menjadi negeri saat ini masih kesulitan dalam pengadaan lahan.

“Awalnya itu luas tanah Unsulbar tidak sampai 30 hektar, sedangkan sebagai syarat mendirikan perguruan tinggi negeri harus lebih dari itu. Ini pengadaan lahan juga susah karena ternyata Majene miskin tidak mampu mengadakannya. Maka baru 10 hektar, baru 15 hektar sudah ngos-ngosan. Namun akhirnya Pemda dan provinsi memberi bantuan masing-masing 15 hektar,” keluh Rektor petahaan itu.

Ia menambahkan, dari 30 hektar tersebut kemudian mendapat tambahan sekitar 15 hektar hingga menjadi hampir 45 hektar seperti sekarang ini.

“Tahun lalu kami sudah kirim proposal ke pemerintah untuk minta diperluas lahannya, kami mintanya itu 15 hektar dan mudah-mudahan disetujui oleh pak gubernur,” pungkasnya.

Meski demikian ia tetap bersyukur Unsulbar saat ini sudah memiliki hampir 45 hektar tanah dan akan terus diupayakan bertambah.

Mengakhiri perbincangan, beliau berharap empat tahun kedepan semua aktivitas perkulliahan sudah seutuhnya berlangsung di gedung kampus Unsulbar Padang Padang, Kelurahan Tande Timur, Majene.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok