
Suasana pertunjukan teater. Sumber foto: Dokumentasi Pribadi.
Penulis: Muh Ismail, Muh Ilham
Unsulbar News, Majene – Pertunjukan teater berjudul Anjoro Lupa yang melibatkan mahasiswa, pelajar, dan masyarakat lokal digelar di Auditorium Mini Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) pada pukul 15.30 WITA, Jumat (10/10/2026).
Pertunjukan tersebut melibatkan mahasiswa Unsulbar dari program studi Kehutanan, Keperawatan, dan Hubungan Internasional, mahasiswa STAIN, siswa SMAN 2 Majene dan Sendana, serta masyarakat lokal dari Tinambung dan Alu. Para pemain membawakan sejumlah karakter yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti petani sawit, warga, ibu desa, penyuluh sosialisasi, hingga petugas keamanan.
Salah satu aktor teater ini, Sukri dari Program Studi Akuntansi, menjelaskan bahwa persiapan pementasan telah dilakukan sejak Januari. “Sutradara bersama asistennya melakukan analisis terhadap kehidupan masyarakat di Balanipa sebelum menyusun naskah. Proses latihan kemudian dimulai secara intensif sejak Mei. Dalam proses latihan, seluruh pemain diwajibkan memahami dan menghafal keseluruhan naskah, bukan hanya bagian yang menjadi perannya, sebagai bentuk antisipasi apabila terdapat pemain yang berhalangan tampil,” tuturnya.
Pementasan Anjoro Lupa dipimpin oleh seorang dosen Program Studi Kehutanan Unsulbar yang bertugas mengawasi kelancaran produksi dari awal hingga akhir. Mengenai perekrutan pemain dari berbagai kalangan, Andi Ridha Yayank Wijayanti, S Hut M Hut mengungkapkan bahwa sistem perekrutan dilakukan melalui casting terbuka. “Siapa saja yang ingin belajar dan berproses boleh mengikuti, tanpa batasan harus dari pegiat teater lama,” ungkapnya.
Pementasan berdurasi lebih dari satu jam ini sukses menarik lebih dari 200 penonton. Hadir pula para pegiat teater dari Sulawesi Barat, seperti Isma Di Taro, perwakilan Walhi, dan tokoh teater lainnya.
Panitia berharap pertunjukan dapat dinikmati penonton tanpa terasa monoton. Kejelasan vokal dan penghayatan para aktor menjadi salah satu hal yang dipersiapkan agar pesan cerita dapat tersampaikan dengan baik.
“Anjoro Lupa merupakan istilah lokal Sulawesi Barat yang berarti kelapa tak berisi. Pementasan ini menyoroti ketimpangan sosial, fungsi lahan, serta dilema masyarakat antara mempertahankan tradisi atau mengejar tuntutan ekonomi,” jelas dosen Program Studi Kehutanan Unsulbar tersebut.
Pertunjukan Anjoro Lupa diharapkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang edukasi tentang pentingnya mempertahankan tradisi dan nilai-nilai lokal di tengah perkembangan zaman. Melalui pementasan ini, pihak produksi berharap pesan sosial yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton, serta memberikan ruang interpretasi setelah menyaksikan penampilan maksimal para aktor.
Editor: Nurzahira

