
Oleh: Mardiwansyah
Penulis adalah mahasiswa ilmu politik Universitas Sulawesi Barat.
Unsulbar News, Mamuju. Indonesia adalah salah satu negara produsen dan eksportir kopi paling besar di dunia. Tercatat pada tahun 2016-2017 Indonesia berada pada urutan ke-4 eksportir kopi terbesar di bawah Kolombia, Vietnam, dan Brazil yang ada di urutan pertama. Begitu pun dengan produsen kopi, pada tahun 2016-2017 Indonesia juga berada di urutan ke-4 di bawah tiga negara yang di atas.
Minum kopi atau bahasa kekiniannya ngopi nampaknya sudah menjadi kebiasaan sebahagian besar masyarakat tak terkecuali mahasiswa. Ngopi pun menjadi salah satu tren kekinian dengan konsep Warung kopi (Warkop) dan varian rasa kopi yang beraneka ragam.
Di tulisan ini penulis (saya) tidak mau membahas banyak tentang kopi karena saya bukanlah penikmat kopi yang tahu banyak tentang kopi. Saya hanyalah peminum kopi yang datang ke Warkop hanya sekedar nongkrong sama teman-teman, soal minum kopi itu urusan belakangan.
Ungkapan dimana ada kampus disitu ada Warkop nampaknya sejalan dengan realita yang terjadi saat ini. Bukan hanya sekedar tempat ngopi, Warkop telah bertransformasi menjadi tempat diskusi yang lebih fleksibel. Diskusi nampaknya lebih asyik dilakukan di Warkop dibanding di ruang kelas yang kaku ditambah dosen yang killer, apa lagi jika ruang kelasnya tidak punya pendingin, ya mirip-miriplah dengan ruang kelas penulis.
Warkop memang menjadi tempat ke-2 yang paling ideal untuk menemukan gagasan setelah bilik ide yang ukurannya 2×3 meter persegi yang hampir setiap pagi pembaca juga sempatkan nongkrong disana sebelum mandi. Bagaimana tidak berbekal secangkir kopi kita bisa menemukan banyak gagasan di Warkop.
Secangkir kopi telah mengantarkan saya dan teman-teman bernostalgia ke masa kejayaan Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, beliau adalah salah satu negarawan dan orang Jenius yang dimiliki oleh Indonesia. Membahas tentang pria kelahiran Pare-pare ini rasanya tidak lengkap jika tidak membahas tentang masa kepemimpinannya setelah rezim Soeharto yang dipercaya runtuh akibat perjuangan mahasiswa pada tahun 1998. Kebetulan beliau adalah salah satu tokoh yang saya kagumi, sebab dimasa kepemimpinannya kebebasan berpendapat mulai dilindungi oleh Undang-Undang, artinya apa, jika bukan karena beliau Warkop hanya sekedar tempat ngopi dan mungkin anda tidak akan bisa membaca tulisan ini.
Namun dalam tongkrongan ini yang menjadi fokus perbincangan penulis dan teman-teman yakni pertanyaan tentang kenapa Habibi tidak bisa maju lagi setelah masa kepemimpinannya menggantikan Soeharto habis?. Banyak asumsi yang dipaparkan oleh teman-teman namun, yang menjadi asumsi terkuat yakni lepasnya Timor-Timur sekarang Timor Leste dari NKRI melalui jajak pendapat dibawah pengawasan PBB melalui United Nations Mission in East Timor (UNAMET) tentang menerima otonomi khusus atau memisahkan diri pada tanggal 30 Agustus 1998. Dan ditemukan 78,5 persen yang menolak otonomi khusus dan memilih merdeka. Hal inilah yang dianggap sebuah kegagalan Habibi dalam memimpin dan menjaga keutuhan NKRI.
Seketika tawa meleburkan suasana yang mulai tegang dan memanas akibat pro-kontra yang terjadi. Panasnya suasana kembali dingin setelah meneguk kopi yang mulai dingin akibat keasyikan diskusi. Tegukan itu pun mengakhiri pembahasan tentang Habibi.
Tak lama kemudian salah satu teman tongkrongan kembali menyela dan membuka babak diskusi baru. “Andai segitiga emas gagasan Gus Dur bisa direalisasikan,” gumamnya sambil membuang nafas yang menjadikan mulutnya mirip knalpot motor 2-tak.
“Bagaimana itu?,” tanyaku yang tidak sengaja mendengarkan apa yang ia ucapkan.
Babak baru diskusi pun kembali dimulai dengan pembahasan Dr. K. H. Abdul Rahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. Siapa yang tidak tahu beliau, ia adalah tokoh nasional sekaligus tokoh muslim Indonesia yang menjadi presiden ke-4 menggantikan Habibie setelah dipilih MPR, dari tahun 1999 dan berakhir ditahun 2001 setelah mendapat banyak kontroversi dari berbagai tindakannya mulai dari membuka hubungan dengan Israel, membolehkan bendera bintang kejora, dikibarkan di Papua dengan syarat harus berada di bawah merah putih, hingga dua skandal yakni Buloggate dan Bruneiga.
Dan buntut dari semuanya yakni memakzulkan Gus Dur pada tanggal 23 Juli dan yang menggantikannya adalah Megawati Soekarnoputri.
Namun terlepas dari semua itu istilah konsep segitiga emas kata teman saya ia dapatkan dalam kajian Gusdurian, maklum dia adalah anggota PMII.
Dalam konsep segitiga emas, ia mulai bercerita, katanya konsep ini berbicara tentang tiga negara yakni Indonesia, Cina, dan India. Konon katanya konsep ini ditakuti oleh negara-negara Eropa, sebab dalam penerapannya Gus Dur ingin menciptakan satu mata uang yang dapat digunakan oleh ke-3 negara ini sehingga ekonomi dunia akan di kuasai oleh 3 negara yang kaya akan SDA dan SDM ini.
Tak ada yang menyela mungkin tak ada yang tahu konsep ini, saya bahkan hanya mangguk-mangguk sembari mengkhayalkan apa yang teman saya paparkan tadi. Tak ada yang bisa penulis ungkapkan sebab bagi saya ini hal yang baru dan saya tidak memiliki data untuk menyanggahnya. “Iya dih, seandainya saja itu bisa terjadi,” jawabku mengandai-andai.
Kembali kami meneguk kopi yang betul-betul sudah dingin, tegukan terakhir itu mengakhiri diskusi di warung kopi dengan suasana yang juga beku di konsep segitiga emas, sebab kurangnya pengetahuan tentang konsep itu. Sontak teman-teman meninggalkan tongkrongan dan kembali ke aktivitasnya masing-masing.

