Cerpen: Ku Persembahkan Toga Untuk Ayah Ibu

Gambar : Ilustrasi ( dok. Unsulbar News)

Oleh: Ade Arsi

Seorang remaja yang beranjak dewasa kebingungan mengambil keputusan, remaja itu bernama Arsyila berusia 17 tahun. Di sebuah ruang keluarga, dengan bangganya Arsyila memberikan surat kelulusan dan nilai yang memuaskan pada kedua orang tua nya. Dia anak satu-satunya dan selalu dibanggakan oleh kedua orang tua nya.

“Bu, aku ingin kuliah sama seperti yang lain. Aku ingin menjadi dokter ,“ kata Arsyila.

“Ya, Ibu juga berfikir kamu harus kuliah, Ibu ingin kamu menjadi orang yang dihargai oleh orang lain. Ibu ingin kamu kuliah disini aja ya, jangan keluar kota. Kamu tau sendiri biaya dikota itu mahal,” kata Ibu.

“Aku maunya di kota bu yang lebih bagus kualitasnya, aku juga yakin aku bisa masuk universitas terbaik di Indonesia. Ayolah bu,” kata Arsyila meyakinkan.
“Tapi Ibu khawatir sama kamu, kamu anak satu-satunya Ibu dan Bapak,” kata Ibu (sangat terlihat sedih ketika harus memikirkan biaya yang akan dikeluarkan).

Akhirnya mereka mengizinkan Arsyila untuk memilih apa yang dia mau dan terbukti bisa masuk universitas terbaik di Indonesia dengan mengambil jurusan dokter gigi. Kedua orang tuanya memang bangga, tapi mereka juga sedih harus berpisah dengan anak satu-satunya itu.

Setelah itu, Arsyila berangkat ke Jakarta untuk kuliah. Perekonomian keluarganya memang baik-baik saja, tetapi karena Arsyila selalu minta dikirim uang dan dipakai untuk kepentingan pribadi, perekonomian dikeluarganya semakin buruk. Ibu dan Ayahnya banting tulang bekerja.

Semua gaji kedua orang tuanya diberikan pada Arsyila, tidak ada uang untuk makan Ibu dan Ayahnya di desa. Karena keseringan meminta uang, kedua orang tuanya menjual apapun yang ada di rumah mereka untuk biaya sekolah anaknya. Semakin susah perekonomian keluarganya, ia masih bersikap boros di kota.

Di pagi hari, tiba-tiba handphonenya berbunyi.

“Haloo Arsyila ini Ayah,”
“Iya yah, apa kabar Ayah dan Ibu disana?,” kata Arsyila
“Kurang baik nak, Ibumu sakit,“ jawab Ayah
“Sakit apa Ayah?,” kata gadis cantik itu (dengan cemas)
“Pulanglah dulu Ibu rindu padamu, mungkin dengan kamu pulang Ibumu bisa sembuh,” jelas Ayah
“Ya, yah, tapi aku tidak punya ongkos pulang,”
“Nak, kali ini saja kamu beruasaha mencari uang untuk pulang karena Ayah belum bisa mengirim uang saat ini,”
“Ya sudah nanti saja aku pulang yah, salam rinduku untuk Ibu ya yah,”
“Tapi nak, tolonglah pulang Ibu sakit parah,” bujuk Ayah
“tuuuuuuuuuuuuuut….,” (ternyata sudah dimatikan oleh Arsyila)

Ibu selalu memanggil nama Arsyila dan selalu ingin beranjak dari tempat tidurnya untuk bekerja mencari uang untuknya. Karena tidak tega melihat Ibu seperti itu, Ayahnya menggadaikan separuh rumahnya untuk membiayai ongkos pulang anaknya ke desa.

Sesampai di rumah, Arsyila begitu kaget dan terkejut melihat seluruh ruangan di rumahnya kosong dan sebagian di belakang ditempati orang lain. Ternyata sudah dijual separuh rumah itu. Ibunya terkapar di kasur dengan muka yang pucat dan terlihat begitu kesakitan. Air matanya menetes, apalagi setelah ia mendengarkan cerita Ayahnya.

“Apa yang Ayah sembunyikan pada Arsyila yah? kenapa aku tidak tau kalau keadaannya seperti ini sekarang yah?,” kata Arsyila

“Nak, ini semua kami lakukan untuk kamu anak semata wayang kami. Ayah bukannya tidak mau menceritakan semua ini padamu, tapi Ibumu yang melarang Ayah untuk tidak menceritakan ini semua padamu,” jelas Ayah

Apakah kamu ingat ketika kamu meminta uang untuk sewa kosan mewah yang nyaman? Dan saat kamu meminta uang untuk membeli buku, Ayah dan Ibu berusaha mencari uang karena tidak cukup. Ibumu nekad memakai motor Ayah yang sudah jelas Ibu itu tidak bisa mengendarainya, Ibu nekad agar bisa berjualan kue dengan menggunakan motor dan saat itu apa yang Ayah khawatirkan terjadi, Ibu jatuh dari motor dan luka parah di kakinya, tapi Ibu tidak mau berobat. wajahnya begitu senang karena kue laku semua. Ibu memberikan uangnya pada Ayah dan berkata ‘’ayo yah kirim uang ini pada Arsyila disana’’ Ayah kaget melihat kaki Ibu penuh darah tapi Ibu seperti tidak merasa sakit.

Ibu terlihat senang mendapat uang banyak dari hasil penjualan kue. Ibumu berkata, lluka ini tidak sakit yah, Ibu lebih sakit jika anak kita sedih dan meneteskan air mata ketika dia tidak bisa membeli buku. Ayah ikuti semua kemauan Ibumu sampai lukanya semakin parah. Ibu selalu memanggil namamu karena kamu tak pulang. Saat kamu meminta biaya pulang, Ayah terpaksa menggadaikan kembali rumah ini nak, sekarang kita tidak punya apa apa lagi. Tapi Ayah yakin kamu akan segera lulus kan? dan menjadi dokter seperti apa yang kamu cita citakan. “Ayah yakin hanya kamu kebahagiaan kita nak bukan harta,” kata Ayah.

Arsyila terus menangis karena dia merasa uang yang dipakai habis bukan cuma untuk kuliah tapi untuk poya-poya disana.

“Ayah, maafkan Arsyila yang sudah tak pulang dan tidak peduli pada keadaan rumah, sering meminta uang tanpa tau dari mana uang itu dan mementingkan kebahagiaan Arsyila. Arsyila nyesel yah, Aku akan lulus secepatnya dan rumah ini akan utuh seperti dulu bahkan lebih bagus. janji yah, maafkan Arsyila,” ujar Arsyila. (sambil memeluk Ayahnya dan menangis)
Lalu ia menghampiri Ibu dan menangis melihat keadaannya yang terbaring lemah. Ia langsung memeluk Ibunya.

“Nak, jangan tangisi Ibu. Ibu gamau lihat kamu nangis nanti ga cantik lagi, sudahlah Ibumu bau jangan peluk Ibu lama- lama nanti wangi tubuhmu dikotori oleh bau Ibumu ini. Ibu gamau buat kamu sedih Ibu kuat kok, lihat nih Ibu bisa senyum kan, kenapa kamu yang menangis,” kata Ibu

“sudah jangan Ibu berpura pura lagi depan saya. Saya tau Ibu sakit dan Ibu sedih kan? Ibu boleh marah sama Arsyila yang tidak bisa mengurusi Ibu dan Ayah,” kata Arsyila

Setelah tau keadaan yang sebenarnya, ia langsung kembali ke kota untuk kuliah dan belajar bersungguh-sungguh untuk mendapatakan nilai tertinggi dan lulus secepatnya. Dengan tekad yang kuat, akhirnya Arsyila mendapatkan nilai tertinggi dan beasiswa kuliah sambil bekerja di Singapura.

Berita bahagia itu diketahui oleh semua warga di desanya. Arsyila berhasil mengangkat derajat keluarga dan dia mulai mengumpulkan uang untuk membayar hutang-hutang kedua orang tuanya. Kini ia menjadi dokter gigi yang terkenal dan kinerja yang sangat baik dengan gelar dokter dari Singapura yang dia bawa sebagai rasa bangga dan mengabdi di Indonesia. Keadaan Ibunya semakin baik walaupun pada akhirnya Ibunya menggunakan kaki palsu karena kakinya sudah di amputasi.

Seberat apapun kita hadapi yang diberikan oleh Allah SWT di dunia ini, akan terasa ringan jika kita mempunyai tekad dan usaha serta doa. Apapun yang membuat kita sulit, yang membuat kita sakit, hanya doa dari kedua orang tua lah yang bisa mengantarkan kita kepada kemudahan.

Kesuksesan kita bukan hanya berada di tangan kita sendiri, tetapi atas restu dan doa kedua orang tua kita. Jagalah dan sayangilah kedua orang tua kita selagi masih ada dan layaknya kita menjaga dan menyayangi diri kita sendiri.

 

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Sulawesi barat (Unsulbar), Jurusan ilmu Hubungan Internasional 2018

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok