Kisah Lulusan Pertama Unsulbar Hingga Terima Beasiswa LPDP

Gambar: Wandi Abbas alumni Unsulbar program studi Hubungan Internasional.

Jurnalis: Kristanti
Editor: Masdin

Unsulbar News, Majene. Menjadi angkatan pertama di Universitas Sulawesi barat (Unsulbar) tahun 2008 lalu tentunya menjadi tantangan yang luar biasa besar bagi mahasiswa yang berjumlah 1019 orang. Mengapa tidak, kompleksitas permasalahan yang dihadapi pada masa itu mulai dari fasilitas hingga pada masalah administrasi universitas.

Sarana dan prasarana yang dimiliki Unsulbar sangat jauh dari kata layak khususnya ruang kelas yang mengharuskan proses perkuliahan dilakukan diberbagai tempat, mulai dari gedung Dinas Perhubungan (Dishub), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Aliya Negeri (MAN) bahkan Sekolah Luar Bisa (SLB) pun menjadi salah satu tempat perkuliahan.

Papan bertuliskan “Tanah sengketa” di wilayah kampus yang menjadi tempat perkuliahan juga menjadi pemandangan biasa setiap hari. Selain itu, dalam hal administrasi, Unsulbar juga menghadapi sejumlah permasalahan yakni ijin operasional dan akreditasi kampus dan program studi yang belum ada sama sekali. Sehingga hal tersebut menjadi pemicu intensitas aksi demostrasi penuntutan legalitas massive dilakukan oleh mahasiswa.

Lahir di Kahuluang, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), 13 Maret 1990, Wandi Abbas salah satu mahasiswa Unsulbar program studi Hubungan Internasional pada saat itu dilema antara lanjut atau tidak melihat kondisi yang ada.

“Melihat kondisi permasalahan yang dialami oleh kampus yang tak berkesudahan, menghadapakan saya pada situasi yang sulit yakni haruskah saya tetap melanjutkan studi di Unsulbar atau memilih untuk berpindah kampus,” ungkapnya kepada Unsulbar News, Senin (13/05/2019).

Dengan keyakinan yang teguh dan kerja keras membuat anak keempat dari pasangan Abbas dan Halija itu bertahan hingga menjadi lulusan terbaik pertama kampus Merah Maroon.

“Namun saya berkeyakinan bahwa Allah sudah menentukan jalan hidup saya untuk menyelesaikan pendidikan di Unsulbar, saya yakin bahwa segala proses yang saya hadapi di Unsulbar tentunya akan berbuah manis dimasa depan,” tutur pria berkacamata itu.

Melihat kondisi dan keterbatasan yang dimiliki oleh universitas, ia pun mulai aktif dalam menempa diri agar menjadi mahasiswa seperti di kampus lain pada umumnya. Ia mencoba memanfaatkan keterbatasan dengan menciptakan sebuah peluang. Berbagai kegiatan organisasi baik internal maupun eksternal ia geluti, khususnya pembentukan organisasi internal kampus yang menjadi tanggung jawab mereka sebagai angkatan pertama.

“Dengan aktif mencari relasi dan melakukan studi banding di berbagai universitas lain, saya telah mendirikan Himpunan mahasiswa Hubungan Internasional (Himahi) di Unsulbar 2009. Selain itu saya juga terlibat dalam pembentukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalis kampus. Selain aktif di organisasi, saya juga aktif mengikuti berbagai kegiatan seminar, workhsop dan lomba atau event seperti lomba fotografi dan lomba penulisan essai (karya ilmiah),” ungkap pria pencinta travelling itu.

Berbagai kegiatan tersebut mengantarkan dirinya meraih berbagai prestasi mulai dari menjadi peserta lomba fotografi piala presiden tahun 2010 dan tahun 2011, menjadi Juara ke-2 wilayah Sulawesi Barat (Sulbar) lomba “Sayembara Penulisan Essai” tingkat nasional yang diadakan oleh Asosiasi Pemerintah Kabupaten seluruh Indonesia tahun 2013. Ia juga menjadi peserta pertukaran pemuda antar Negara di Provinsi Sulbar 2014 dan pada akhirnya menjadi lulusan terbaik di Unsulbar 2014 dengan Indek Prestasi Komulatif (IPK) 3,93.

Selesai masa studinya, ia menjabat sebagai Ketua Ikatan Alumni Hubungan Internasional Unsulbar dan pada tahun 2015 menjadi pendamping dalam program Student Mobility ke tiga negara yaitu Singapura, Thailand dan Malaysia.

Tentu dengan pencapaian itu memberikan semangat dan dorongan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Walau dengan dukungan finansial yang tidak mencukupi dan latar belakang universitas yang masih kurang tidak menghambat keinginannya untuk meraih impiannnya menjadi seorang dosen. Dia mengatakan selalu percaya dan yakin bahwa Allah maha segalanya, Allah SWT pasti akan selalu memberikan kemudahan dan menunjukkan cara disetiap hambatan yang dihadapi, hanya saja dibutuhkan doa, kesabaran serta usaha yang lebih ekstra lagi agar dapat melaluinya.

Segala usaha dan upaya telah ia lakukan untuk melanjutkan pendidiakan ke China mulai dari tahun 2014 mengikuti program pelatihan bahasa Mandarin di Universitas Hasanauddin (Unhas) namun gagal. Berbagai usaha lain dilakukan tapi tetap mengalami kegagalan hingga karena keteguhan dan keyakinan yang kuat dan sifat pantang menyerah, April 2016 ia mendapat informasi pendafataran Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia bersama Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (BUDI – LPDP) dan mencoba mendaftar. Alhasil tepat 3 tahun lalu yakni pada bulan Mei 2016 bertepatan dengan bulan Ramdhan ia berhasil lolos beasiswa tersebut di Universitas Airlangga, Surabaya.

Dua tahun kemudian, pada bulan Juni 2018 ia memperoleh gelar master yang tentunya menjadi sayarat seorang dosen. Bertitel S IP M Hub Int, Februari 2019 ia memasukkan berkas lamaran di Unsulbar sebagai dosen untuk kembali mengabdi di daerah asalnya dan sekarang ia mengajar di jurusan yang sama.

Ia bepesan bahwa manusia memang tidak memiliki kuasa untuk merubah takdir, namun dengan kekuatan Do’a, maka Allah bisa merubah (mengganti) takdir setiap makhluk dan juga bukan cantik yang membuat cinta, tapi cinta yang membuat cantik. Jangan tunggu Unsulbar cantik (bagus) terlebih dahulu baru kita mencintainya. Namun cintailah terlebih dahulu agar engkau dapat membuatnya terlihat lebih cantik dan indah dimasa depan bahkan tercantik di Indonesia yang tentunya dengan melakukan berbagai hal positif dan bermanfaat bagi perkembangan institusi.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok