Polemik Kuliah Maraton di Bulan Ramadhan

Gambar : Nampak mahasiswa Unsulbar saat menunggu jam masuk kuliah

Jurnalis : Kamariah
Editor : Masdin

Unsulbar News, Majene. Memasuki bulan suci Ramadhan tidak dipungkiri banyak mahasiswa ingin melaksanakan ibadah puasa di kampung halaman bersama keluarga. Namun dalih berkumpul bersama keluarga harus tertunda karena proses perkuliahan yang masih berlangsung.

Sama halnya yang terjadi di Universitas Sulawesi barat (Unsulbar), keinginan untuk berkumpul bersama keluarga berdampak pada proses perkuliahan yang dipercepat atau secara terus menerus (marathon) sehingga menimbulkan pro dan kontra dikalangan mahasiswa dan dosen.

Menanggapi permasalah tersebut, Jurnalis Unsulbar News menemui beberapa narasumber untuk meminta pandangannya.

Salah satu mahasiswa Hubungan Intetnasional (HI) yang tidak ingin disebut namanya setuju dengan percepatan perkuliahan akan tetapi tidak mengurangi jumlah pertemuan yang telah ditetapkan.

“Saya setuju dengan cepatnya penyelesaian perkuliahan di bulan puasa, karena mau fokus melaksanakan ibadah,” ujarnya (13/05).

“Kebetulan saya juga orang jauh yang dimana momen seperti ini sangat ditunggu- tunggu apalagi saya pulkam (pulang kampung) itu satu kali dalam satu tahun ya di bulan ramadhan atau sebelum lebaran,” tambahnya.

Selain dari jurusan HI, mahasiswa Fakultas ekonomi (Fekon), Hikma menilai kuliah maraton malah membawa dampak negatif.

“Setuju menpercepat pembelajaran dengan alasan supaya bisa cepat libur lebaran bersama keluarga, tetapi negatifnya yang seharusnya dosen masuk untuk satu kali pertemuan menjadi tiga kali pertemukan dalam seminggu sehingga materi yang disampaikan kurang dipahami dengan baik,” tuturnya.

Berbeda hal dengan Mahasiswa Teknik Informatika, Albar malah menolak sama sekali yang namanya percepat perkuliahan.

“Tidak sepakat,” tegas mahasiswa angkatan 2015 itu.

Ia bersitegas bahwa kampus seharusnya dikenal sebagai tempatnya masyarakat ilmu, proses transformasi ilmu pengetahuaan haruslah bertahap karena cara berfikir dan kemapuaan IQ (intelligence quotient) setiap orang berbeda, memerpercepat perkuliahan jelas outputnya bukan masyarakat ilmu tapi pragmtisme dalam berfikir dan bertindak,”.

Meminta pandangan tetkait polemik yang terjadi, dosen ilmu hukum, Asrullah, SH MH mengatakan bahwa kita harus merujuk pada aturan atau jadwal yang telah ditetapkan, namun selama ada kesepakatan kedua belah pihak itu sah-sah saja.

“Dosen yang melakukan kuliah maraton agar materi kuliahnya cepat rampung, terkhusus karena bulan ini bulan puasa dengan pertimbangan kekhawatiran materi belum selesai saat menjelang lebaran mungkim ada oknum dosen yang memadatkan perkuliahan,”.

Lanjutnya, kuliah maraton di bulan ramadhan boleh saja sepanjang ada kesepakatan dengan mahasiswa dan tidak memberatkan mahasiswa serta perkuliahan tersebut tidak mengambil atau menggunakan ruangan yang akan dipakai oleh dosen lain yang jelas dosen tidak bisa secara sepihak mengambil langkah kuliah marathon tanpa ada persetujuan dari mayoritas mahasiswa dikelas tersebut apalagi sampai memberatkan mahasiswa.

Pada initinya dosen dan mahasiswa harus saling memahami, kalau ternyata mahasiwa menolak untuk kuliah maraton, dosennya juga tidak bisa memaksakan kehendak, bila mahasiswa menolak maka dosen harus masuk sesuai jadwal, permasalahan ini hanya terjadi di bulan ramadhan, jadi dosen dan mahasiswa harus bijak menyikapinya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok