
Jurnalis : Isvani Arief
Editor : Masdin
Unsulbar News, Majene. Salah satu prinsip seseorang dalam hal akademik dimana dirinya akan menyelesaikan masa perkuliahan dengan cepat, paling tidak 4 tahun, bahkan ada pula yang lebih cepat dari itu.
Bisa dipastikan banyak orang yang ingin berada di titik tersebut, selesai dan mendapat gelar sarjana. Kemudian terjun di dunia kerja, bersanding dengan gelar.
Namun cepat menyelesaikan studi nyatanya tidak menjadi prioritas wisudawan Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) yang satu ini. Ia adalah Ramli Yunus atau lebih sering disapa Ramli.
Mahasiswa kelahiran Sumakuyu, 26 Desember 1993 ini merupakan wisudawan Unsulbar yang terdaftar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, program studi Ilmu Politik, angkatan 2013.
Ramli menjadi salah satu diantara 344 peserta wisuda ke-8 Unsulbar yang digelar di Aula Masjid Agung Ilaikal Masyir (30/11/19).
Ramli telah meraih titel Sarjana Ilmu Politik (S IP) dengan waktu yang cukup lama, yaitu tujuh tahun.
Saat ditanya apa penyebab dirinya hingga menyelesaikan studi selama itu, beberapa pernyataan pun menjadi alasan. Pertama, persoalan kampus yang bermasalah pada awal peralihan status Unsulbar dari swasta ke negeri tahun 2013 silam.
Alasan kedua adalah kecintaannya akan dunia organisasi juga menjadi penyebab dirinya berlama-lama di kampus, pasalnya ia terlibat aktif dan pernah menjabat sebagai ketua di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Ekonomi Unsulbar.
“Kecintaan terhadap organisasi, juga merasa termotivasi kepada mahasiswa dulu yang sampai 7 tahun kuliah, dan saya ingin kehadiran sebagai mahasiswa bisa berfaedah bagi kampus, karena prinsip saya bahwa mengkritik kampus itu adalah bentuk kecintaan terhadap kampus,” ujar pria dengan IPK 3,40 itu.
Meski terbilang lama untuk menyelesaikan studi. Ia sangat senang karena pada akhirnya bisa menjadi bagian dari wisudawan pada tahun ini dan bersyukur selama di Unsulbar, banyak pengetahuan dan pengalaman yang ia dapatkan.
Ramli mengatakan pula bahwa tujuh tahun lebih bukanlah waktu yang singkat untuk dirinya. Mengingat dengan keterbatasan orang tua sehingga pria kelahiran Sumakuyu ini banting tulang untuk tetap melajutkan masa kuliahnya dan menikmati proses mencapai gelar.
