Nadiem Bolehkan Kuliah Tatap Muka, Begini Respon Rektor dan Mahasiswa Unsulbar

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim saat konferensi pers secara virtual pada Jumat (20/11). (Foto: Tangkapan Layar YouTube Kemendikbud, sumber : www.timesindonesia.co.id)

Jurnalis: Febrianti Daeng Mangetten
Editor: Masdin

Unsulbar News, Majene. Dalam konferensi pers secara daring pada Jumat, 20 November 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim mengumumkan diperbolehkannya pembelajaran tatap muka di sekolah pada 2021, dengan syarat menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan mengisi daftar periksa.

Daftar periksa tersebut diantaranya ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan (toilet bersih dan layak serta sarana cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau penyanitasi tangan), mampu mengakses fasilitas pelayanan kesehatan, kesiapan menerapkan masker dan memiliki thermogun.

Selain itu harus memiliki pemetaan warga satuan pendidikan (yang memiliki komorbid tidak terkontrol, tidak memiliki akses transportasi yang aman, dan riwayat perjalanan dari daerah dengan tingkat risiko yang tinggi) dan mendapatkan persetujuan komite sekolah atau perwakilan orang tua/wali.

Sama dengan sekolah, Nadiemmmenegaskan bahwa perguruan tinggi juga diperbolehkan untuk kuliah tatap muka. Namun untuk detail aturan kebijakannya masih dalam tahap penyusunan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti).

Merespon hal tersebut, Rektor Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Ir H Akhsan Djalaluddin MS mengatakan akan mengikuti kebijakan menteri, namun masih menunggu arahan lebih lanjut dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Tim Penanganan Covid-19 Kabupaten Majene dan Provinsi Sulbar.

“Kita harus ikuti kebijakan Menteri, khususnya bagi daerah-daerah yang termasuk zona hijau, namun kita menunggu petunjuk lebih lanjut dari Dirjen Dikti, Tim Penanganan Covid 19 Kabupaten Majene dan Provinsi Sulawesi Barat,” ujarnya saat dihubungi via whatsapp (23/11/2020).

Saat ditanya mengenai kesiapan kampus jika daftar periksa untuk sekolah juga diterapkan di kampus, Akshan mengaku belum siap. Namun, ia mempertegas tetap menunggu arahan dari pihak berwenang.

“Itu juga tergantung pada kesiapan infrastruktur kita. Kalau itu dikehendaki (daftar periksa) kita belum siap. Tentu akan ada petunjuk pelaksanaan. Kita tunggu saja,” jelasnya.

Selain Rektor, berbagai komentar juga muncul dari kalangan mahasiswa Unsulbar. Berikut beberapa tanggapan mahasiswa yang dirangkum oleh Unsulbar News:

Yudisthira (Teknik Informatika 2017) mengatakan, kuliah tatap muka adalah langkah baik untuk menjawab berbagai kendala yang dirasakan mahasiswa selama kuliah daring, namun harus tetap mematuhi protokol kesehatan.

“Hal tersebut adalah langkah yang cukup baik dikarenakan begitu banyak kendala-kendala yang dihadapi oleh para mahasiswa. Namun, melihat Covid-19 yang belum juga ada tanda-tanda akan berhenti, protokol kesehatan harus tetap diperhatikan,” ungkapnya.

Arfiah (Akuntansi 2018) menyatakan persetujuannya. Menurutnya perkuliahan secara luring lebih efektif dari pada perkuliahan daring yang dirasa membosankan dan menimbulkan rasa malas.

“Jujur saya sangat setuju. Alasannya karena saya merasa lebih memahami materi yang dijelaskan pada saat perkuliahan secara luring, dibanding ketika melakukan perkuliahan secara daring. Boleh dikata perkuliahan daring membosankan dan meningkatkan rasa malas bagi kebanyakan orang,” katanya.

Senada dengan mahasiswa lainnya, Fitriani R (Matematika Sains 2018) juga mengaku setuju. Ia beranggapan bahwa nilai yang didapatkan selama perkuliahan daring tidak sebanding dengan ilmu yang didapatkan.

“Ya kalau saya setuju. Dalam kuliah daring, bisa saja nilai tinggi tapi otak kosong. Kita kurang interaksi dengan dosen sehingga menimbulkan rasa malas. Tidak dipungkiri banyak mahasiswa yang cuma absen sebentar lalu keluar dari perkuliahan,” jelasnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok