
Jurnalis: Marselino Geradus
Unsulbar News, Majene – Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) lakukan studi tiru ke Universitas Hasanuddin (Unhas), Rabu (2/7/2025). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai langkah awal untuk memperkuat kapasitas kelembagaan Satgas PPKS Unsulbar dalam menangani berbagai bentuk kekerasan seksual di lingkungan kampus.
Kunjungan ini berlangsung di Ruang Satgas PPKS Unhas dan dipimpin langsung oleh Wakil Rektor III Unhas, Prof Dr Farida Patitingi, SH, M Hum. Sebanyak delapan orang anggota Satgas PPKS Unhas turut hadir dalam kegiatan tersebut. Dari pihak Unsulbar sendiri, hadir Ketua Satgas PPKS Unsulbar, Prof Dr Muzakkir, M Kes, didampingi oleh Irfan, S Kep, Ns, M Kep.
Studi tiru ini bertujuan untuk memperoleh wawasan dan pengalaman langsung dari Unhas yang telah lebih dulu memiliki sistem kerja Satgas PPKS yang aktif dan terstruktur. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menjajaki rencana kerja sama pelatihan peningkatan kapasitas bagi anggota Satgas PPKS Unsulbar.
Salah satu fokus utama kunjungan ini adalah penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan kekerasan seksual yang menjadi bagian dari tugas pokok dan fungsi Satgas. Sebab, hingga saat ini Unsulbar belum memiliki dokumen SOP yang memadai sebagai pedoman resmi dalam menangani kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus.
Dalam wawancara bersama Unsulbar News, Prof Muzakkir mengungkapkan pentingnya keberadaan ruang kerja khusus bagi Satgas PPKS di Unsulbar yang dilengkapi dengan divisi-divisi sesuai kebutuhan. Menurutnya, idealnya ruang tersebut mencakup tenaga psikolog, pendamping kejiwaan, tenaga hukum, serta profesional lain yang dapat mendukung penanganan kasus secara komprehensif.
Ia menegaskan bahwa persoalan kekerasan bisa terjadi kapan saja dan oleh siapa saja, sehingga sudah seharusnya mendapat perhatian serius dari seluruh civitas akademika. Prof Muzakkir menambahkan, ketanggapan terhadap potensi terjadinya kekerasan sangat menentukan efektivitas upaya pencegahan maupun penanganan.
“Jika kita tanggap terhadap kemungkinan terjadinya kekerasan, maka upaya pencegahan dapat dilakukan lebih awal, dan penanganannya pun bisa berlangsung secara cepat dan tepat,” ujarnya via Whatsapp (4/7).
Lebih lanjut, Prof Muzakkir mengaku memperoleh banyak referensi dan contoh praktik baik dari Satgas PPKS Unhas yang dapat dijadikan acuan untuk membangun sistem kerja yang efektif di Unsulbar. Ia berharap, hasil dari studi tiru ini dapat segera ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan dan penguatan kelembagaan Satgas.
Melalui kegiatan ini, diharapkan Satgas PPKS Unsulbar mampu membangun sistem kerja yang tangguh dan berkelanjutan guna menciptakan lingkungan kampus yang aman, inklusif, serta bebas dari kekerasan dalam bentuk apa pun.

