
Jurnalis :Jurlian
Unsulbar News, Majene- Belakangan ini, TikTok diramaikan oleh sebuah video yang menampilkan seorang bocah kecil menari penuh semangat di ujung perahu yang sedang berpacu di sungai. Konten ini begitu mencuri perhatian, bukan hanya di Indonesia, tapi juga sampai ke luar negeri.
Bukan hanya karena perlombaannya yang unik, tapi karena tarian sang bocah yang penuh percaya diri dan begitu luwes. Gerakannya bahkan dinilai sebagai bentuk dari “aura farming”—istilah gaul internet untuk orang yang memancarkan kepercayaan diri tinggi sampai bikin orang lain terpukau.
Saking viralnya, banyak warganet ikut membuat versi parodi mereka. Ada yang menari di atas troli, mobil mainan, bahkan di tempat kerja. Fenomena ini jadi candu baru di TikTok, dan menariknya semua ini berawal dari tradisi lama Indonesia yang bernama Pacu Jalur.
Warisan Budaya yang Mencuri Perhatian Dunia
Pacu jalur adalah lomba balap perahu tradisional yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 100 tahun dan telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.
Pacu berarti balapan, sementara jalur adalah nama untuk perahu panjang yang digunakan dalam lomba. Satu perahu pacu jalur bisa diisi oleh 40 sampai 60 pendayung. Selain pendayung, ada juga penabuh gendang, pemberi komando, dan satu penari yang berdiri di bagian ujung perahu. Nah, penari inilah yang belakangan jadi pusat perhatian dan viral di TikTok.
Aksi para penari cilik di atas perahu terekam dalam berbagai video yang tersebar luas di media sosial. Gerakan mereka yang enerjik dan semangat mampu menghibur jutaan orang dari berbagai negara.
Dari Sungai Riau ke Panggung Dunia
Siapa sangka, dari sebuah lomba tradisional di sungai, nama Pacu Jalur kini dikenal di panggung dunia.
Bahkan, sejumlah pemain sepak bola dari klub besar Eropa seperti Paris Saint-Germain (PSG) dan AC Milan terlihat menirukan gaya tarian sang bocah sebagai selebrasi gol.
Fenomena ini membuktikan bahwa budaya lokal Indonesia punya daya tarik yang luar biasa dan juga lewat media sosial, tradisi yang awalnya hanya dikenal di daerah kini mampu menyentuh hati dan menghibur dunia.
Editor: Nurul Inzana Filail

