
Jurnalis: Marselino Geradus
Unsulbar News, Majene – Dosen program studi Pendidikan Biologi Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) implementasikan program pengabdiannya lewat sebuah kegiatan bertajuk “Revitalisasi Dodol Jewawut: Upaya Pemberdayaan Masyarakat Sulber melalui Pengembangan Pangan Fungsional Berbasis Kearifan Lokal” di Desa Bala, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar.
Program ini merupakan inisiatif Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, & Teknologi dengan periode pelaksanaan mulai Juli hingga Desember 2025.
Dalam pelaksanaannya, tim terdiri dari tiga dosen prodi Pendidikan Biologi yaitu Ramlah, S Si, M Sc sebagai ketua, serta Yusrianto Nasir, S Pd, M Pd dan Nurman, S Si, M Si sebagai anggota. Untuk memaksimalkan kinerja mereka, beberapa mahasiswa Pendidikan Biologi pun turut dilibatkan dalam kegiatan ini.
Jewawut (Setaria italica) atau yang dalam bahasa lokal disebut Tarreang merupakan bahan dasar pembuatan dodol fungsional ini. Meski dikenal sebagai pangan alternatif bernutrisi tinggi, pemanfaatan jewawut di masyarakat masih terbatas.
Baca Juga: Bubur Bayi Tarreang Hantarkan Mahasiswa Unsulbar Raih Pendanaan Dikti PKM-K
Sehingga melalui program ini, tim pengabdian dosen Unsulbar berupaya menghidupkan kembali tradisi pengolahan jewawut melalui rangkaian proses yang lebih higienis agar dapat meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Hal itu kemudian diharapkan dapat menambah nilai jualnya, di samping untuk tetap mempertahankan nilai gizinya yang bermanfaat untuk kesehatan.
Alur Pelaksanaan Program
Mitra utama program yaitu Kelompok Wanita Tani (KWT) Sejahtera yang diketuai Rusdia, beranggotakan 30 ibu rumah tangga produktif. Mereka dipilih karena komitmen serta antusiasme mereka dalam mengembangkan pangan lokal dan berperan sebagai agen perubahan di masyarakat.
Pelaksanaan program dimulai dengan sosialisasi mengenai potensi jewawut, dilanjutkan dengan pelatihan pengolahan dodol jewawut dan strategi pemasaran. Kegiatan dilakukan dengan pendekatan partisipatif dan praktik langsung dengan melibatkan para mitra di lapangan.
Pendampingan berkelanjutan dilakukan melalui monitoring rutin, konsultasi teknis, evaluasi kualitas produk, serta bimbingan manajemen usaha dan strategi pemasaran produk. Untuk menjamin keberlanjutan, tim merancang pembentukan jaringan pemasaran, pengembangan kemitraan, hingga mendorong anggota KWT menjadi trainer bagi kelompok lain agar tercipta efek multiplier.
Tim juga memperkenalkan teknologi tepat guna untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi produksi, yaitu dengan memanfaatkan peralatan sederhana namun efektif seperti kompor gas dua tungku, mesin parut, mesin giling dan pengaduk dodol. Lalu ada pula timbangan digital, pH meter, serta pengukur kadar air untuk pengecekan kualitas adonan dodol.
Dalam wawancara bersama Unsulbar News, Ramlah kembali menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk komitmen Unsulbar dalam mendukung pembangunan ekonomi masyarakat lokal.
“Diharapkan dapat memberikan dampak signifikan dan berkelanjutan bagi mitra sasaran dalam mengembngkan usaha dodol jewawut sebagai produk pangan fungsional berbasis kearifan lokal,” tuturnya via Whatsapp (26/9).
Dengan adanya program revitalisasi dodol jewawut ini, diharapkan mampu berkontribusi nyata pada tujuan pembangunan berkelanjutan nasional, khususnya dalam hal pengentasan kemiskinan dan peningkatan ketahanan pangan masyarakat.

